
Dion ingin memastikan Ayu yang akan memberitahu kabar tersebut kepada mamanya dan juga Putri kecil mereka. Lebih memilih kenyamanan untuk istrinya tersebut dan apapun pilihan hidup Ayu Dion tidak ingin terlalu mencampuri keputusan yang Ayu ambil untuk dirinya sendiri.
Di saat Dion ingin keluar dari kamar tersebut Ayu menarik tangan suaminya itu, Ayu mengajak suaminya untuk duduk di sampingnya dan mendengarkan apa yang ingin Ia sampaikan. Perlahan air menggenggam kedua tangan suaminya dan mencoba untuk berbicara agar suaminya mengerti dan tidak menyalahkannya suatu saat nanti. Ayu tak ingin membuat suaminya kecewa atas keputusan yang saat ini ingin Ayu utarakan. Diamnya Ayu sedari tadi sebab Ia sedang berpikir dan mencari cara bagaimana agar seluruh keluarganya tidak kecewa dengan dirinya.
"Mas, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan tetap pertahankan anak ini mas." ujar Ayu sambil mengelus perutnya.
"Apa pun yang terjadi aku tak perduli mas, asal anak ini lahir dengan selamat. Aku yakin bisa melaluinya, mas yakinlah kepada ku." Ayu menyandarkan kepalanya ke bahu Dion suaminya.
"Sayang..., kalau kamu tak bisa jangan paksakan diri karena kesehatan kamu yang paling kami semua harapkan saat ini, terutama Sabrina putri kita." Dion membelai Ayu yang masih menempel di bahunya.
"Kalau begitu mas pergi dulu ke kantor ya sayang? kamu istirahat sajalah, jangan banyak pikiran, nanti urusan sekolah biar mas yang urus." Dion pergi setelah membaringkan Ayu di kasur.
Dion pun melangkahkan kakinya dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan, Ayu pun terlelap dalam mimpi. Anak dalam kandungannya seorang bayi lelaki yang sangat tampan, dalam mimpi itu Ayu sempat menggendongnya dan mencium bayinya. Setelah itu Ayu terbangun dan tersentak dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia seperti merasakan sesuatu terjadi padanya saat di dalam mimpi tersebut, Ayu sudah duduk di tepi ranjang dan mengambil air minum yang ada di atas meja kecil di dekatnya. Dengan cepat langsung meneguk dan terdiam melamun masih memikirkan mimpi itu lagi.
"Apa maksud dari semua ini? setiap aku hamil selalu di mimpikan dan menangis dalam mimpi itu." Ayu bertanya-tanya dalam benaknya.
Ayu mengelus perutnya sambil berdoa agar tak terjadi sesuatu ke anak dan dirinya, rumah begitu hening sebab Sabrina tidak ada di rumah. Hanya ada mama mertuanya yang sekarang sedang istirahat di dalam kamarnya, Ayu menatap ke luar jendela menikmati semilir angin untuk menenangkan diri.
"tok, tok, tok, Bu Ayu makan siang sudah siap. Ibu makan lah dulu, agar bisa minum vitamin dan obatnya nanti." suara art nya terdengar dari dalam.
__ADS_1
"Iya mbok, sebentar lagi saya akan turun untuk makan siang." ujar Ayu yang masih belum mau beranjak.
Brem...
Terdengar suara mobil dan Sabrina yang memecah kesunyian rumah mereka, dan tak beberapa lama Dion masuk ke kamar melihat Ayu sedang ada di depan jendela.
"Sayang kamu sudah makan siang? atau mas bawakan ke atas makanannya untuk kamu sekarang?" Dion mengerti isi hati dan perasaan istrinya yang sedang kalut saat ini.
Kondisinya begitu lemah, dan wajahnya pun pucat, Ayu berbalik ke arah Dion dan memeluknya. Wanita hamil memang sangat sensitif, tingkahnya juga terkadang susah di tebak maunya apa, sehingga membuat Dion harus lebih bersabar lagi kali ini.
Dion pun mengajak Ayu turun ke bawah dan segera makan siang bersama, dan Sabrina sudah menunggu di meja makan setelah berganti pakaian.
"Iya sayang kamu benar kok! sudah berkata baik dan jujur hari ini, jadi kamu harus makan yang banyak ya..? Nanti jangan lupa kerjakan tugas dari sekolahnya ya!" Ayu berkata sambil tersenyum ke putrinya.
"Iya ma, nanti Sabrina akan siapkan tugas dari guru nanti setelah selesai makan siangnya." Sabrina berkata dengan manis.
Ayu pun merasa tenang mendengar perkataan anaknya, Dion dan mamanya pun memberikan perhatian kepada Ayu. Mertuanya itu juga memperhatikan Ayu yang terlihat kurang sehat, namun tidak mau bertanya kepada Ayu, sebab Dion sudah memberi tahu kepada mamanya untuk tidak dulu bertanya apa pun sebelum Ayu sendiri yang memberi tahunya.
Dion hanya ingin Ayu nyaman dan menghormati keputusannya agar ia tenang dan dapat bahagia bersama Dion dan keluarga kecilnya. Setelah selesai makan, Ayu membantu art nya untuk mencuci piring yang tadi mereka pakai untuk makan. Ayu menyiapkan semua dan pergi ke atas kamarnya lagi, ia pun merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa sengaja melirik ke arah meja kecil yang sudah ada segelas air dan beberapa obat vitamin disana. Semua itu Dion yang melakukannya sebelum ia pergi balik ke kantornya lagi. Ayu pun duduk di tepi tempat tidurnya dan melihat secarik kertas disana dan ada tulisannya.
Sayang minumlah vitamin dan obat ini, kamu harus ingat dengan perkataan dokter kepada kita tadi pagi. Banyaklah istirahat dan jangan terlalu banyak melakukan apa pun demi kebaikan kamu dan calon bayi kita.
Dari Dion suami mu🥰
Ayu tersenyum dan melihat ke arah perutnya sambil mengelusnya, Ayu kini menyadari lagi bahwa dirinya sekarang sedang mengandung. Ayu pun meminum semua butiran vitamin yang di berikan oleh dokter tersebut, setelah itu kembali beristirahat sampai senja pun tiba dan Dion pulang menyapanya.
Sedangkan Sabrina tengah asik bersama Omanya menyelesaikan pekerjaan rumah yang di berikan oleh gurunya. Kini Oma sudah mulai merasa tenang dan ikhlas menerima kepergian suaminya saat ini, Sabrina selalu ada dan menemani Oma senantiasa juga ada anak dan menantu tercinta yang membuatnya tak merasa sendirian lagi.
"Oma, tadi merasa gak kalau mama seperti orang lain? Saat kita makan bersama kok mama Sabrina bicaranya tidak seperti biasanya ya Oma?" anak itu mengeluh tentang mamanya ke Oma.
"Ah, masak sih! kok Oma gak rasa begitu, malah sikap mama Sabrina sama saja tetap lembut dan baik sama Sabrina." Omanya tak merasakan apa pun.
"Kira-kira mama kenapa ya Oma? Sabrina jadi sedikit sedih dan takut ditinggal sama mama." Sabrina mulai menangis.
"Oh, cucu Oma kok nangis? siapa yang akan meninggalkan kamu sayang...? gak ada yang akan meninggalkan mu kok, ada oma." mencoba menghibur Sabrina.
Sabrina masih terus menangis dan memeluk erat Omanya, pekerjaannya sudah selesai kini Sabrina tertidur dan di temani oleh Omanya. Mama mertua Ayu beberapa kali berpikir tentang perkataan yang diucapkan oleh cucunya tadi, tapi tak ada yang lain dan semua biasa saja. Ayu tetap bersikap lembut dan berkata manis dengan anaknya sendiri, bahkan tadi Ayu tak ada marah kepada Sabrina.
__ADS_1