
Rasa menyesalnya membuatnya tak hentinya menyalahkan diri, ternyata Ayu dulu pasti bisa mengandung anak dan menjadi hidup bahagia pikirnya.
"Kalau saja dulu aku tak mengacuhkannya, mungkin kehidupan ku tak seperti saat ini." Bagas pun pergi karena takut akan ketahuan dengan Ayu.
Bagas pulang ke Jakarta karena ingin melihat mamanya dan ingin memberi tahukan jauh, Ayu akhirnya opname di rumah sakit dan sampai saat ini masih terus kontrol dan konsumsi vitamin setiap harinya. Rani selalu ada menemani dan melayani kebutuhan Ayu di rumah, Dion bersyukur akan hal itu.
Tetapi Dion benar-benar khawatir dan sekaligus bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang papa. Mamanya Dion juga ikut mendukung dan selalu menjaga Ayu menantunya, hampir setiap hari datang dan membawakan makanan ke rumah. Terkadang juga ikut mengantar Ayu kontrol ke rumah sakit.
Saat di rumah sakit...
"Ibu Ayu sepertinya ibu harus melalui Cesar bersalinnya nanti."
"Karena akan besar sekali resiko yang ibu tanggung nantinya bila tetap ingin persalinan normal." Dokter sudah memberi tahu kepada Ayu.
Tetapi wanita itu tetap ingin melakukannya, dan ia ingin persalinan normal itu dilakukan. Dokter sudah tak bisa berkata apa pun lagi, mereka akan berdoa dan berusaha sebisa mungkin menolong ibu dan anaknya. Mama mertuanya yang mendengar ucapan Ayu menangis dan memeluk menantunya itu, dan Ayu meminta kepada Rani serta mama mertuanya untuk tutup mulut atau tidak memberi mengatakan apa pun ke Dion suaminya.
Ayu pun pulang bersama mertuanya dan Rani, sesampainya di rumah mereka makan siang bersama dan Ayu beristirahat setelah meminum vitamin serta obatnya. Mertuanya sangat mencemaskan keputusan yang Ayu ambil saat di rumah sakit tadi, sehingga membuatnya kepikiran pagi, Siang dan malam. Bahkan dirinya tak bisa tidur akan hal itu, namun mama mertuanya sudah berjanji akan merahasiakan semuanya dari siapa pun itu.
"Assalamualaikum, sayang. Bagai mana tadi apakah bayi kita sehat dokter bilang?" Dion langsung menanyakan hal itu ketika pulang dari kerjanya.
"Iya donk mas..., Uhuk, uhuk!" Ayu terbatuk-batuk di depan Dion.
"Kamu batuk sayang?" Dion sedikit terkejut.
"Gak kok hanya sedikit saja." ucap Ayu yang ingin duduk setelah dari tadi berbaring.
Ayu ingin menghidangkan makanan untuk suaminya dan mengambil segelas minuman dingin untuk di nikmati karena suaminya sudah seharian bekerja dan lelah. Ayu masih menyelamatkan dirinya agar tetap kuat untuk bisa lahiran normal nanti. Dan semua sudah di persiapkan oleh Ayu, hanya tinggal menunggu bayi dalam kandungan itu memberi tanda bahwa ia ingin keluar.
Tiga hari sudah...
"Argh...., sakit!"
"Sakit mas..., mas Dion...!" teriak Ayu mencengkram seprei tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kak Ayu kenapa kak?"
"Apa kakak sudah melahirkan?" Rani spontan panik dan menelpon Dion namun tak diangkat.
"Aduh bagaimana ini?!" Rani semakin panik dan tak tahu apa-apa.
Rani menelpon ambulance dan menelpon mamanya Dion untuk memberi tahukan ya. Dan segera mamanya Dion datang sampai ke rumah, tak beberapa lama ambulance juga datang ke rumah membawa Ayu dengan cepat ke rumah sakit.
Wiu... Wiu... Wiu...
Siuara ambulance terdengar dimana-mana, berjalan bebas hambatan sehingga dengan mudah cepat sampai tujuan.
"Argh..., sakit...!"
"Sakit ma...?!"
"Sakit!" Ayu terus mengerang karena kesakitan.
"Ibu tenanglah dan terus berdoa, saya akan berusaha menyelamatkan keduanya." ujar Dokter itu.
Dokter pun masuk dan melepas genggaman tangannya dari mamanya Dion, pintu ruangan itu di tutup dan persalinan pun di mulai. Dokter dari sejak awal sudah menyarankan Ayu untuk segera operasi, namun dirinya tetap ingin melahirkan secara normal dan mengambil resiko yang besar. Tak beberapa lama Dion telah sampai di rumah sakit itu, dan menghampiri mamanya yang tengah gelisah menunggu di luar ruangan tersebut.
"Ma, bagaimana dengan Ayu?" Dion bertanya kondisi istrinya.
"Ayu masih di dalam dan di tangani oleh dokter, nak...?" mamanya menjelaskan.
Dan tak beberapa lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan itu.
Oek...
Oek...
"Ma?!" Dion menggenggam tangan mamanya.
__ADS_1
Dion merasa sangat senang setelah suster keluar dari ruangan itu dan memberikan kepada Dion anaknya untuk di adzan kan. Ya ia seorang bayi lelaki yang sangat lucu dan begitu menggemaskan, mamanya Dion sangat senang melihat cucunya telah lahir dengan selamat dan sehat. Setelah itu, bayinya di bawa masuk oleh suster ke dalam ruangan bayi yang tepat berada di sebelah ruangan ibu dan anak.
Tak beberapa lama, suster keluar dengan terburu-buru berlari seperti panik, mengambil sesuatu dari ruangan lain dan masuk kembali. Mamanya Dion sangat merasa aneh dan sedikit khawatir, begitu juga dengan art nya yang sudah mengetahui resiko yang akan terjadi pada Ayu majikannya.
Setelah sudah cukup berusaha, Dokter pun tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dokter dan suster keluar dari ruangan itu, dengan berat hati memberikan kabar duka itu kepada keluarga pasien.
"Maaf bapak, ibu, kami sudah berusaha."
"Akan tetapi Allah berkehendak lain, dan saya turut berduka cita, atas kepergian ibu Ayu saat ini."
"Semua sudah di upayakan, dan kita semua sudah tahu resiko sebelumnya" ucap Dokter tersebut.
Dion terkejut dan mamanya lemas saat mengetahui akan berita duka itu, mereka semua masuk untuk melihat keadaan Ayu yang sudah tidak bernyawa lagi terbaring di atas tempat tidur itu.
"Ayu...?!"
"Sayang bangun, mas sudah datang dan akan menemani kamu serta anak kita."
"Mengapa kamu begini pada mas sayang... Bangun buka mata mu Ayu...?!" Dion memeluk Ayu istrinya.
Dion merasa sangat sedih kini ia harus kehilangan lagi istrinya, padahal Dion sudah menabung dan berencana akan berangkat umroh bersama Ayu tahun depan. Namun sekarang sudah tak dapat mewujudkannya, setelah Ayu pergi untuk selamanya sekarang.
Suster menyiapkan semuanya, agar jenazah Ayu dapat di bawa pulang, namun tiba-tiba jari Ayu bergerak kembali dan mengejutkan suster tersebut.
"Dokter! Dokter! pasien hidup kembali..!" wanita itu berlari dan memberi tahukan pada mereka semua.
"Benarkah?! Ayu!" Dion berlari dengan sangat cepat menghampiri Ayu yang ada di dalam kamar itu.
"Alhamdulillah ya Allah..., kau sangat mulia. Kini anak itu tidak menjadi anak piatu yang harus kehilangan ibunya." Oma sangat senang dengan cepat melihat kondisi Ayu yang sedang di pasang alat pernafasan agar mudah untuk bernafas.
Dokter pun kembali memeriksa keadaan dan kondisi pasien yang masih pucat tetapi detak nadinya normal seperti orang pada biasanya. Dokter pun tersenyum dan terkejut karena ia baru ini mengalami pasien yang begitu mengejutkannya.
Bersambung...
__ADS_1