Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 37


__ADS_3

"Papa membelikannya untuk kita pa?" tanya Sabrina sambil menatap ke arah papanya.


Dion mengangguk dan tersenyum, lalu ia memberikan sebuah tas ke Ayu, dan sebuah tas ke Sabrina. Mereka merasa heran karena belum tahu apa isi dari kantong tas itu.


"Diminum airnya mas." ucap Ayu.


"Ini apa pa?" tanya Sabrina lagi yang penasaran.


"Kalau kamu penasaran, ya di buka donk sayang..., itukan buat Sabrina dan mama." Dion berbicara sambil meneguk air minum yang telah di hidangkan oleh istrinya.


Mereka pun membuka dan melihatnya, Sabrina sangat senang mendapatkan mukenah lucu dari papanya, ia pun memberi tahu ke mamanya bahwa itu warna kesukaannya. Dion memberikannya kejutan sebab ia sudah lancar membaca dan mengaji di sekolahnya, bahkan gurunya juga mengatakan Sabrina anak yang cerdas.


*****


Keesokan paginya...


Bagas sudah pergi pagi-pagi sekali dan ia juga sudah pamit ke mamanya. Bagas membawa mobilnya ke arah lain dan bukan menuju ke kantornya, ia malah berbelok ke arah sekolah tempat kerja Ayu dulu yang lama. Bagas parkir sedikit jauh dari sekolah itu, ia tak ingin ketahuan dirinya sedang memantau dari jauh.


"Dah papa...?!"Sabrina melambaikan tangannya ke arah sebuah mobil pribadi yang tadinya mengantar anak itu.


"Itu Sabrina anak Ayu, dan ternyata sekarang sekolah ini Ayu yang kelola. Aku harus bisa bertemu dengan Sabrina dan Ayu nanti, tapi bagaimana bila Ayu tak mau bertemu dengan ku?!" Bagas semakin bingung.


"Sudahlah, lain kali akan aku pikirkan caranya." Bagas pun mengemudikan kembali mobilnya dan pergi menuju ke kantornya.


Saat di perjalanan Bagas terus memikirkan bagaimana caranya, agar ia dapat bertemu dengan Sabrina dan juga Ayu tanpa diketahui oleh Dion. Bagas benar-benar kehilangan akalnya, dengan menganggap Sabrina itu adalah anaknya dari Ayu. Padahal dulu adalah istri yang tidak ia anggap sama sekali, tapi setelah tahu Ayu adalah wanita yang baik dan memiliki anak saat ini. Bagas semakin menyesal dan ingin mengajak Ayu balikan lagi padanya dan membawa Sabrina ikut bersama dirinya juga.

__ADS_1


****


Dina, yang sudah menikah dan kini sukses dalam karirnya namun tidak dengan dirinya yang tidak kunjung hamil juga. Sementara suaminya menikah dengannya karena menginginkan anak dan bukan hal lain, karena suaminya Dina sangat terkenal bad boy nya di kalangan bisnis.


"Kau berharap aku menikah hanya untuk menghidupi mu saja di dunia ini kah?! Memberi makan keluargamu ?! Plak! jangan mimpi kau!" Pria itu bersiap untuk pergi.


"Tapi mas, tunggulah sebentar. Pernikahan kita baru sebentar, dan kau sudah ingin aku mengandung. Bagaimana mungkin secepat itu?!" Dina menangis sambil memegangi pipinya.


"Besok akan aku urus surat cerai kita, dan kau hanya perlu menandatanganinya saja. Soal harta jangan harap mendapatkannya dari ku, sebab kau tak memiliki anak dari ku saat ini." pria itu mengambil kunci mobilnya dan pergi begitu saja.


"Mas! mas!" Dina terjatuh ke lantai dengan derai air mata tak kuasa menahan rasa kekecewaannya.


Di sebuah Bar Casandra...


"Bagaimana dengan pesanan ku? Apakah ia mau malam ini pergi bersama ku?" tanya Boby suami dari Dina.


Boby sangat senang mendengar ucapan tersebut, dan ia pun menunggu ke datangan wanita itu. Tak beberapa lama kemudian Donita muncul dan berkenalan dengan Boby. Donita tak berkedip melihat Boby yang begitu tampan di matanya, dan Boby langsung menyukai Donita sesuai keinginannya.


"Mau kan keluar sama Abang? ada yang ingin langsung Abang katakan dan kita bisa mulai bicarakan sekarang juga." Boby langsung berterus terang.


"Bisa saja kok, asal ngobrolnya sesuai kesepakatan seperti pelayan itu katakan." Donita sudah mengatakan permintaannya.


"Kalau itu bisa diatur dan santai menikmatinya, akan Abang penuhi apa yang kamu inginkan." Boby langsung menjamin karena ia sudah suka melihat Donita.


"Wah, berarti ni cowok tajir melintir. Gak seperti Ferdy yang masih baru, sedangkan bang Boby ini baru namanya cowok, siap dengan yang aku mau." Donita merasa senang.

__ADS_1


"Dia kekar banget, pasti suka gym dan aku paling suka itu. Cowok harus begini dong..." ujar Donita lagi di dalam hatinya, sambil matanya melirik ke dada Boby.


Akhirnya Boby mengulur tangannya untuk menyambut tangan Donita, mereka pun pergi entah kemana. Donita merasa senang mendapatkan pria idamannya, dan meninggalkan Ferdy suaminya Yeni yang sudah akan habis uangnya.


Bar itu pun terus bergembira dengan keramaian dari orang-orang yang membutuhkan kesenangan. Malam itu Ferdy datang dan ia ingin bertemu dengan Donita, berencana akan menikmati malam ini bersamanya lagi.


"Hei tuh orang gila datang, pasti mencari Donita. Siapa lagi yang ia cari kalau bukan yang manis." ujar salah satu dari bartender tersebut.


"Kalau ia tanya Donita bagaimana?" teman yang satunya bingung.


"Bilang saja gak tahu, dan gak perlu di urusi. Orang gila ngapain kita urus-urus, biarkan ia merana dan mati sengsara sekalian. Hutangnya saja di sini belum di bayarnya, ngakunya kaya, tapi minum saja mengutang. Heh!" mereka mencemoohkan Ferdy.


Ferdy berjalan ke arah meja kecil bartender mereka, dan duduk disana sebab ia ingin memesan minuman seperti biasanya.


"Hai Rendy!" Ferdy memanggil pelayan yang namanya Rendy.


"Beri aku minuman seperti biasa satu!" Ferdy berkata kepada Salah satu pelayan itu.


Seperti dugaan mereka, Ferdy menanyakan Donita kepada mereka. Kesepakatan mereka mengatakan tidak tahu dan tak mau tahu dengan urusannya Ferdy, dan kali ini Ferdy mengutang kembali. Pria itu kesal dan pergi setelah menenggak habis minumannya, ia terlihat kesal dan pulang ke rumahnya.


"Argh! Kemana wanita itu?!" dalam hati Ferdy.


"Mas, kamu kenapa? Wajah kamu begitu murung, apa ada sesuatu yang membuat mu kesal di kantor?" Yeni mencoba cari tahu Ferdy.


Namun Ferdi hanya diam saja dan tidak merespon atau memberi jawaban dari pertanyaan istrinya Yeni. Ferdi malah memilih untuk naik ke atas kasurnya dan tidur tanpa memperdulikan Yeni istrinya. Yeni sangat kesal dan ia merasa kesepian sebagai seorang istri, yang sekarang ternyata Ferdi telah berubah tidak seperti Ferdian dulu, selalu romantis dan juga memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Bahkan anak mereka pun sudah jarang diperhatikan oleh Ferdi, ia lebih sering keluar ketika sudah pulang dari kantornya, lebih mengutamakan kesenangannya daripada memperhatikan keluarga kecilnya. Ferdi juga sering menghamburkan uang dan menghabiskan uangnya dengan Donita, namun saat ini ketika Donita tidak ada, Ia pun tidak tahu mau mencurahkan perasaannya dengan siapa, padahal ini istrinya sendiri selalu ada di sampingnya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2