
"Ayu tunggu sebentar, ada yang mau mas katakan kepada mu. Dan tolong dengarkan hanya beberapa menit saja, mas mohon." ujarnya Bagas yang terus menghalangi.
"Mas hari ini aku ada rapat, tolong jangan mengganggu aku di sini. Bila ada sesuatu nanti saja di bicarakan dan itu pun lebih baik jangan menemui Ayu." Ia pergi meninggalkan Bagas begitu saja.
Lalu Bagas berjalan lagi ke arah Ayu dan memohon kembali, Bagas meminta Ayu menemuinya di cafe depan sekolahnya saja besok ketika jam makan siang bersama Sabrina. Pria itu mengatakan bahwa itu adalah pembicaraan yang sangat penting, dan menyangkut hidup dan matinya.
"Tolonglah Ayu, ini menyangkut nyawa seseorang yang dapat terbunuh bila kau tak menyetujuinya." ujar Bagas dengan perkataanya yang membuat Ayu sedikit bingung.
"Baiklah kalau begitu, kita akan bertemu besok mas. Maaf Ayu tinggal sekarang karena ada rapat sebentar lagi." Ayu berjalan masuk ke kantornya.
Bagas pun sangat senang dan merasa puas sudah dapat janjian dengan Ayu dan Sabrina besok. Bagas pergi ke kantornya dengan hati yang senang, dan ia pun seharian tak ada marah dengan bawahannya walau mereka berbuat salah.
"Hari ini begitu bahagia dirinya sampai-sampai aku berbuat salah ia tak marah kepada ku." Ringo berkata pada rekan kerjanya.
"Tapi kau jangan terlena akan hal itu, bisa saja ia berubah dan menjadikan mu kambing guling nanti. Karir mu juga akan di pertaruhkan dan kau bisa mati dibuatnya." celetuk temannya Santo.
"Ih kamu Santo, membuat ku sekarang menjadi ketakutan. Baru saja aku bahagia sudah kau jatuhkan aku, sepertinya di kantor ini banyak yang tak menyukai ku." Ringgo mengomel.
__ADS_1
"Hahahaha..., kau jadi pria sangat lucu sekali. Aku hanya bercanda dan kau sudah cepat berubah seperti wanita." Santo kembali berkata nyeleneh.
Mereka berdua kembali bekerja dan sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Sementara Bagas begitu senang hingga ia dapat menyiapkan pekerjaannya dengan cepat dan pekerjaan yang untuk besok di kerjakan hari itu juga sampai selesai. Siang harinya Dina datang ke kantor Bagas membawa makan siang untuk Bagas saat itu. Ia sengaja datang untuk mengetahui bagaimana keadaan disana dan sekaligus ingin memperlihatkan dirinya ke semua orang yang ada di kantor itu.
"Hallo mas, aku sekarang ada di depan kantor kamu. Dan membawakan sesuatu, mama yang menyuruh ku untuk mengantarkannya kepada mu." Dina menelpon ke ponselnya Bagas.
Bagas langsung menutup ponselnya dan hentikan pembicaraan, ia sedikit terkejut langsung turun ke bawah sebelum Dina naik ke atas menuju ruangannya. Bagas tak ingin karyawan mengetahui Dina menemuinya dan membawakan sesuatu untuknya. Hari ini Dina sudah mulai bergerak selangkah demi selangkah mendekatkan dirinya ke Bagas kembali.
"Kamu, ayo ikut aku sekarang ke parkiran." Bagas menarik Dina keluar dari gedung itu.
Wanita yang berdiri di balik meja resepsionis itu sedikit merasa heran, dan terus memperhatikan mereka berdua. Dina dengan cepat mendaratkan tangannya merangkul Bagas agar tidak terlalu ketara dan terlihat seperti sepasang kekasih. Wanita resepsionis itu pun meyakini mereka adalah sepasang kekasih dan gosip pun menyebar dengan cepat ke semua karyawan kantor.
"Kamu marah pada ku mas? Apa aku melakukan kesalahan? hiks, hiks, aku hanya membantu mama kamu mengantarkannya ke sini, dan ini semua permintaan mama kamu." Dina memasang wajah sedihnya.
"Bukan begitu Dina, mas hanya saja~ tak ingin merepotkan mu. Baiklah ini mas terima dan ucapkan pada mama untuk tidak perlu merepotkan kamu dan membuat bekal makanan untuk mas lain kali." ujar Bagas dengan lembut ke Dina.
"Baiklah mas, hari ini aku akan pergi ke pengadilan untuk sidang perceraian ku dengan Boby. Aku harap semua berjalan dengan lancar dan segera cepat selesai, Dina sudah trauma di pukulinya. Dina ingin menjalani hidup penuh kebahagiaan, dan kamu mas juga harus bisa hidup bahagia walau keadaan kita sama." Dina sengaja mengatakannya agar Bagas merasa mereka berdua memiliki status yang sama.
__ADS_1
"Hah~ wanita ini membuat ku kesal saja, tapi apa yang ia katakan adalah kebenaran. Tapi aku pasti akan bahagia bersama Ayu dan Sabrina sebentar lagi." Bagas terlalu percaya diri dengan ucapannya.
Dina pun pergi setelah selesai berbicara dan menyerahkan bekalnya kepada Bagas, Dina tersenyum setelah melihat Bagas berpikir tentang apa yang ia katakan. Dina pun langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya dari tadi. Dina pun pergi dengan taksinya dengan wajah yang begitu senang.
wanita itu berharap Bagas mau kembali dengannya dan meminta dirinya untuk menjadi istrinya suatu saat nanti.
"Aku tak akan melepaskanmu Mas apalagi saat ini kau sudah memiliki kedudukan dan berangsur-angsur kembali menjadi seorang lelaki yang kaya raya lagi." ucapnya dalam hati.
Dina ternyata pergi bukan ke pengadilan agama, melainkan ia ke rumah Bobby untuk mengambil barang-barangnya dan mencoba untuk memohon kembali agar Boby mau menerimanya untuk menjadi istrinya sekali lagi.
Saat Dina tiba di rumah Bobby ternyata rumah itu dikunci yang tidak ada orang satupun di dalamnya, bahkan Dina sudah memanggil art pelayan di rumah mereka, untuk membuka pintu namun tidak satu orang pun keluar untuk membukakan pintu rumah tersebut.
"Oh Bu Rina ada apa ya kalau mencari Pak Bobby sekarang beliau sudah tidak tinggal di sini lagi dan rumah ini sudah dijual kepada seseorang." ujar satpam yang bertugas menjaga disana.
Satpam itu tadinya pergi membeli nasi untuk ia makan, setelah kembali ia melihat Dina di depan pintu rumah, dengan segera satpam tersebut menghampiri Dina dan mengatakan bahwa bumi sudah menjual rumah mereka. Dina pun terkejut ternyata bumi benar-benar tidak menghiraukan dirinya lagi dan malah menjual rumah tersebut dan tidak membagi persenan kepadanya.
"Dasar pria kurang ajar, ternyata ia benar-benar telah melupakanku dan tidak mau rugi sedikitpun. Awas kamu Mas aku akan membalas semua apa yang kau lakukan kepadaku." ucapnya Dina dalam hati.
__ADS_1
Dina pun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi kepada satpam itu, wanita itu pergi dengan rasa kesal dan mencoba mencari tahu informasi dari para tetangga yang pernah melihat Bobby sebelumnya. Saat itu Dina bermaksud untuk membeli minuman di warung terdekat rumahnya, lalu ia mencoba mencari informasi dan bertanya kepada pemilik warung tersebut tentang bobby mantan suaminya.
Pemilik warung itu tidak begitu banyak mengetahui tentang mantan suaminya, namun ia pernah melihat Bobby bersama wanita masuk ke dalam rumah mereka. Bahkan mereka berdua terlihat begitu mesra, lalu Bobby dan wanita itu keluar keesokan paginya setelah matahari terbit. Semua itu menandakan bahwa wanita itu telah bermalam bersama Bobby di rumah mereka, Dina sangat kesal mendengar perkataan dari pemilik warung tersebut. Namun hanya itulah yang pemilik warung itu ketahui tentang hobi mantan suami Dina selama ini.