Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 57


__ADS_3

"Syukurlah kamu telah sadar Ayu, aku akan memanggil suster dan dokter untuk memeriksa mu saat ini." Dion pun berlari keluar dari ruangan itu menuju ke ruang suster jaga, untuk mengatakan bahwa istrinya telah sadar dan meminta mereka untuk mengecek bagaimana kondisi dan keadaannya pagi ini.


Dengan sigap suster pun segera memberitahu dokter, dengan menelpon nya karena belum ada di tempat. Lalu suster mengambil beberapa peralatan untuk mengecek detak jantung dan juga tensi darah dan beberapa hal lainnya.


Dion sangat penasaran dan detak jantung yang begitu kencang, dia menunggu di luar seperti bagaimana yang dipinta para suster tersebut. Saat menunggu di luar ruangan, Dion teringat dengan mama dan Sabrina, dengan cepat ia mencari ponselnya. Lalu menekan nomor telepon rumah, agar dapat memberitahu segera kondisi Ayu, kepada mamanya yang berada di rumah.


Dion pun memberitahu kepada mamanya tragedi yang terjadi, dan menceritakan dengan jelas bagaimana kejadian itu. Sampai ia tak kuat lagi mengatakan peristiwa itu kepada mamanya, Dion sampai gemetar, terdengar suara Isak tangisnya dari ponsel itu ke telinga mamanya. Wajahnya begitu pucat karena terlalu cemas memikirkan Ayu, yang masih berada di dalam ruangan tersebut dengan para suster dan dokter.


Mamanya pun bisa mengerti bagaimana kondisi saat itu namun dikarenakan masih ada Sabrina di rumah yang harus ia jaga mamanya hanya ingin Jihan tetap terus memberitahu kondisi Ayu saat ini. Dion juga berpesan kepada mamanya, agar Sabrina tidak sampai mengetahui tentang kejadian yang menimpa Ayu, sampai nanti dia sendiri yang akan memberitahunya.


"Tapi syukurnya Ayu sekarang telah sadar ma, kondisinya masih di periksa oleh dokter di dalam kamarnya. Dion juga belum tahu bagaimana keadaannya saat ini, karena saat ia sadar Dion ajak berbicara ia tak memperhatikan Dion sama sekali." Dion pun mulai diam dan tak mengatakan apa pun lagi.


"Baiklah nak, sabar lah kamu dan selalu berdoa. Semua pasti akan baik-baik saja. Jaga diri kamu dan jaga menantu mama, jangan khawatir Sabrina sedang istirahat saat ini di dalam kamarnya. Mama tutup ya..., Assalamualaikum." pembicaraan pun terhenti.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Dion dan ponsel di matikan.


Ceklek...

__ADS_1


Dion berdiri dari kursinya menghampiri dokter dan suster yang keluar dari ruangan itu. Dion pun bertanya dengan cepat tentang kondisi istrinya, sebab sudah dari tadi pria itu tak sabar ingin mengetahui perkembangan istrinya.


"Bagaimana dengan istri saya dok? Bagaimana dengan Ayu?!" Dion bertanya dengan wajah khawatirnya.


"Begini pak Dion, ibu Ayu saat ini kondisinya baik dan perkembangannya cukup menakjubkan, tapi kami masih perlu selidiki lagi dan terus memantau kondisinya. Sebab..." dokter itu ragu meneruskan ucapannya.


"Sebab mengapa dok? Katakan kepada saya, apa pun yang terjadi pada Ayu, saya harus tahu secara detail dan dokter tidak perlu menutupinya." ujar Dion yang sedikit kesal dengan dokter itu.


"Baiklah akan saya katakan, Bu Ayu mengalami shock yang hebat. Dan ada sedikit pembekuan di dalam kepalanya, itu mungkin yang membuatnya hilang ingatan dan sulit untuk berbicara. Kami akan berusaha dan memantau terus kondisi Bu Ayu, selama berada di penanganan kami. Pak Dion jangan khawatir dan bersabarlah menghadapi Bu Ayu, mungkin emosinya akan sangat tidak terkontrol, sebab ia sulit mengungkapkannya." dokter menepuk pundak Dion, dan pergi meninggalkannya di depan kamar rawat inap Ayu.


****


Saat ini Dion meminta pada orang kepercayaannya di kantor dan juga satpam, untuk melaporkan kejadian itu ke polisi. Dion ingin menangkap orang yang sudah mencoba mencelakakannya dan malah menabrak Ayu sampai menjadi begini. Dion tidak akan memberi ampun dan membebaskan begitu saja. orang tersebut.


Bagas lalu teringat akan mobilnya, dan ia dengan cepat memasukkan mobil tersebut ke dalam garasi dan membuka plat BK nya. Bagas juga tidak mengizinkan mobil itu dipakai oleh siapa pun atau di keluarkan dari garasi. Bagas sudah melarang dan memberi tahukan kepada seluruh orang yang ada di rumahnya.


"Kenapa mas dengan mobil itu?" Dina merasa heran.

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak tanya, kalau aku bilang jangan, ya jangan. Lagian itu mobil ku suka aku mau di apakan, dan kalian semua jangan ada yang menyentuhnya." Bagas berkata dengan tegas.


Sekarang Bagas bila ingin ke kantor ia menggunakan motor atau taksi online saja. Dina sedikit curiga dengan sikap Bagas, ia pun mencoba menyelidikinya sendiri diam-diam. Bagas mulai panik, ketika ia tahu Dion sudah mulai bergerak menyelidiki kejadian itu.


Bagas mengetahui kabar yang tersebar itu melalui berita dari media sosial milik Dion, dan Bagas sendiri sudah melihat secara langsung dari ponselnya sendiri. Hal itu membuat Bagas sedikit ketakutan, akhirnya ia pun melakukan sesuatu dengan mobilnya agar tidak ketahuan. Tetapi Bagas lupa, kalau di mobilnya itu masih ada bekas darah Ayu yang belum ia bersihkan.


Dan Dina pun sempat melihat ada darah di mobil itu, ketika Bagas pulang pagi tadi. Wanita itu sudah berpikir dan ingin bertanya pada Bagas, tapi Bagas malah tak ingin Dina mendekatinya dan banyak bertanya kepadanya. Ketika malam hari, disaat semua orang telah tidur, Bagas masuk ke garasi dengan menyalakan air keran dan spon di tangannya.


Bagas bermaksud akan mencuci dan menghilangkan jejak di mobilnya yang ada noda darah disana. Malam itu Dina kebetulan sedang haus dan ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air disana. Tanpa sengaja ia mendengar suara air yang menyala dari garasi, Dina sedikit takut untuk melihat, namun dengan tekad yang kuat ia memberanikan diri untuk berjalan ke arah dimana sumber suara air itu.


"Hah?! Mas Bagas ngapain malam-malam cuci mobil disana? Dan kenapa nyucinya di dalam garasi? Bukannya selalu nyuci mobil di luar?" Dina mengintip dari balik tembok tanpa di ketahui oleh Bagas.


Terlihat oleh Dina air itu mengalir bukan berwarna keruh karena kotoran, melainkan air itu berwarna merah darah mengalir ke pembuangan selokan. Bagas terlihat sudah selesai membersihkan mobilnya dan kini tinggal mengelapnya sampai kering dengan kain.


"Hal ini tidak boleh satu orang pun yang tahu, kalau aku sudah menabrak seseorang. Kali ini aku harus benar-benar berhati-hati dan menutup rapat rahasia ini." ujar Bagas berbicara sendiri sambil mengelap mobilnya yang sudah bersih.


Dina membulatkan matanya dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar sebab tercengang setelah mendengar ucapan dari Bagas tadi. Saat Bagas akan pergi dari sana, Dina pun dengan cepat masuk kembali ke dalam kamarnya dan tidak jadi pergi ke dapur. Wanita itu begitu shock mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh Bagas saat itu.

__ADS_1


__ADS_2