Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 45


__ADS_3

"Aku tak menyadari kalau ia benar-benar menawan, dan lain dari wanita yang pernah aku temui. Aku sangat menyesal, sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya ya Allah." Bagas menangis sebab ia hanya dapat memandangi dari jauh rasa rindu itu pun tak terobati.


Ibam sepupunya Aisyah juga masih belum bisa melupakan Ayu, sampai sekarang ia masih terus memandangi foto lama mereka saat dimasa kuliah dulu. Ayu yang dulu di foto sampai sekarang sudah lebih dari 10 tahun wajahnya tak ada yang berubah. Namun Ibam tak seberani Bagas yang ingin bertemu dan mengajak kembali padanya.


****


"Papa...!


"Pa, jangan tinggalkan mama pa..., mama mohon jangan tinggalkan mama dan kami semua." mamanya Dion berteriak.


"Ma, sabar ma. Jangan begitu, ikhlaskan saja ma.." Dion memeluk mamanya.


"Enggak, papa masih hidup kan Dion? mama yakin papa akan sembuh, mama sangat ingin pergi bersama papa kalau sudah sembuh. Mama dan papa sudah nabung akan berangkat haji tahun depan. Dion, bangunkan papa, Dion..., papa pasti bangun kalau kamu yang bangunkan, atau minta Sabrina yang bangunkan Opa nya, suruh Sabrina ke sini Dion...?!" mamanya terus berbicara seperti orang kebingungan.


"Sudahlah ma..., biarkan papa pergi. Karena itu sudah kehendak Allah, dan mama harus kuat menghadapinya." Dion berkata sedikit tegas dengan mamanya.


Mamanya diam terduduk di kursi luar, para suster sedang menyiapkan jenazah papanya Bagas untuk di bawa pulang oleh mereka. Semua alat di cabut, dan Bagas di suruh mengisi dan menandatangani kertas kepulangan jenazah tersebut.


Drrtt...


Drttt...

__ADS_1


"Iya, Assalamualaikum, mas. Ini kami sebentar lagi akan kesana, dan menyiapkan makan untuk kamu dan mama untuk nanti siang." ucap Ayu sembari menyiapkan makanan ke dalam box bekal.


Sabrina menjadi kesal karena lama sekali baru akan berangkat, ia hanya duduk di depan tv sambil sesekali memperhatikan mamanya.


"Astaghfirullah, innalilahi, mas apakah itu benar?!" Ayu terkejut dan terduduk lemas di kursi meja makan.


art mereka pun khawatir melihat wajah Ayu, tiba -tiba pucat seketika. Dion memberi tahu kepada Ayu untuk menyiapkan proses pemakaman di rumah mereka. Jenazah papanya akan di mandikan di rumah Ayu dan Dion, kabar duka itu pun sudah di siarkan dari masjid di dekat rumah mereka.


Jenazah sudah tiba di kediaman Dion dan Ayu, rumah mereka penuh dengan pelayat, mama Dion terlihat masih menangis dan lemas, sehingga jalan harus di papah. Proses pemakaman pun dilakukan dengan layak, dan semua sudah terlaksana. Sabrina dan mamanya Dion masih belum bisa melepas kepergian papanya. Ayu pun juga sedih karena tak dapat bersama papa mertuanya ketika menghembuskan nafasnya yang terakhir.


****


3 Bulan kemudian...


Ayu juga senang mama mertuanya ada di rumahnya, mereka suka membuat makanan dan berbagai macam kue setiap harinya. Ayu jadi pandai membuat kue semenjak mertuanya tinggal disana, makan bersama di meja makan dan tidak kesepian lagi setiap harinya bila Dion bertugas ke luar kota.


Sabrina juga setiap hari tidak pernah bosan karena Omanya selalu ada bersamanya. Dion sangat senang dan berterima kasih ke istrinya, karena dengan penuh cinta menyelimuti keluarga kecil mereka. Bahkan Ayu menjadi menantu idaman di mata mama, sering memuji Ayu menantunya setiap bertemu teman arisannya.


Bagas merasa kesal sebab sampai saat ini ia belum berhasil bertemu langsung dengan Ayu dan Sabrina. Sementara Dina masih terus menempel kepadanya, Dina meminta Bagas memasukkan dirinya ke perusahaan tempat Bagas bekerja. Dina beralasan agar dapat hidup mandiri dan ingin tinggal sendiri keluar dari rumah Bagas segera.


Saat malam hari di rumah Bagas...

__ADS_1


Pria itu masih belum tidur dan duduk di ruang tv menikmati siaran berita di sana. Kebetulan Dina yang ingin pergi mengambil minum melihat Bagas di sofa sedang berbaring malam itu. Dengan penuh percaya diri Dina menghampiri dan duduk di sebelah Bagas sambil meletakkan kepalanya di bahu pria itu.


"Mas, terima kasih sudah baik kepada ku. Dan maafkan aku yang sudah berbuat jahat kepada mu waktu itu, andai saja kita dulu masih bersama sampai saat ini, mungkin kita sudah...," Dina menangis dan memainkan peran di hadapan Bagas.


Bagas menjadi bingung dan merasa tak enak hati, dengan cepat Bagas memeluk Dina agar ia tak bersedih dan menangis lagi. Dina pun mengambil kesempatan membalas memeluk tubuh Bagas saat itu juga. Malam itu mereka merasa sedikit melepas rasa dan mengingat kembali pernah menjalin hubungan.


"Sudahlah, kau tidak usah memikirkan hal itu lagi, yang lalu biarlah berlalu. Semua sudah kehendak Tuhan dan kita tak bisa berbuat apa-apa." ujar Bagas.


"Tapi mas, bila mas mau kita bisa memulai lagi dari awal dan mencoba saling menyatukan hati menciptakan keluarga harmonis." tutur Dina menatap wajah Bagas.


Bagas terdiam dan merasa heran dengan ucapan Dina, karena ia secara tiba-tiba mengutarakan hal itu. Sedangkan impian Bagas ingin kembali kepada Ayu dan bersatu dengannya yang sudah memiliki anak saat ini. Dina tidak mengetahui bahwa Bagas sudah tak dapat memberikan anak kepada wanita mana pun sejak kejadian kecelakaan itu.


Bagas menolak pelan tubuh Dina dan pria itu berdiri memalingkan wajahnya sambil berpikir. Dina merasa heran dengan sikap Bagas yang tadinya lembut memeluknya, kini berubah menjadi dingin menjauh dari Dina.


"Kamu kenapa mas? Apakah aku ada salah bicara?" Dina berdiri dan berjalan menghampiri Bagas.


"Tidak, tak ada yang salah, em.. mas hanya ingin ke dapur dan mengambil air untuk minum saat ini." Bagas berjalan dengan cepat menghindari Dina yang terus mendekati dirinya.


Dina hanya diam dan tak mengikuti Bagas yang pergi ke dapur, setelah itu Bagas pun pergi mematikan tv nya dan masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur. Niat hati ingin tidur, tapi ia tak dapat tidur dan malah mengingat perkataan dari Dina tadi kepadanya.


Bagas malam itu sangat gelisah, ia juga mengingat Ayu dan sudah beberapa hari ini Bagas belum melihatnya lagi. Bagas sangat merindukan Ayu dan Sabrina saat ini, pria itu berharap besok dapat bertemu dengan Ayu dan Sabrina. Malam itu Bagas pun mencoba tidur di atas kasurnya dan menutup kedua kelopak matanya. Bagas berharap dapat memimpikan Ayu dan Sabrina bersama dengannya dan menjadi seperti yang ia mau.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2