Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 31


__ADS_3

Kebahagiaan selalu menyelimuti hidup Ayu saat ini, Ayu juga sudah memberitahu kepada Rani tentang kehamilannya itu. Rani sangat begitu senyum mendengar bahwa dirinya akan menjadi seorang tante yang memiliki kemenakan dari sepupunya. Hidup ayu benar-benar berubah penderitaan yang dulu pernah ia alami, kini sudah dapat dilupakannya. Sekarang Ayu hanya memandang ke arah depan dan meniti rencana bahagia bersama keluarga kecilnya nanti.


Hampir setiap hari Mama mertuanya datang ke rumah untuk menjaga Ayu karena masih dalam keadaan lemah, kedua orang tua Dion sangat menyayangi Ayu. Bahkan mereka berdua menganggap Ayu sebagai Putri kandung mereka, Ayu Tini memiliki keluarga kecil yang bahagia, dan memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya. Kali ini semua doa dan perjuangan Ayu telah terbayar dengan kehadirannya Dion pria yang ia cintai kini telah bersatu dalam ikatan cinta yang sah. Ayu benar-benar bersyukur dan lebih mendekatkan dirinya lagi kepada Sang Pencipta. 


***********


Sudah 5 bulan berlalu...


Ayu sudah sehat dapat beraktifitas kembali, mama mertuanya selalu mengantarkan makanan ke rumah mereka. Bahkan sekarang Ayu tidak di perbolehkan memasak di rumahnya. Hanya sarapan pagi yang Ayu siapkan untuk Dion setiap hari, selebihnya mamanya lah yang memasak dan menyuruh supirnya untuk mengantarkan


Brem...


"Mas, sudah pulang?"


"Mas bawa apa ini?" tanya Ayu yang terlihat senang.


"Ini untuk mu dan anak kita, agar dia sehat didalam sana. Makanlah buah alpukat itu, katanya baik untuk janin di dalam perut." Dion mengelus perut Ayu dan mengecup dahi wanita itu.


Ini yang sangat di inginkan oleh Ayu dari Bagas suami ya yang dulu, tapi sikap Bagas selalu dingin dan tak pernah menganggap Ayu adalah istrinya. Dion sangat berbeda, dirinya penuh kasih sayang kepada Ayu yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Drrrrtttt....


Drrrrtttt....


Terdengar suara ponsel bergetar, ternyata itu ponsel milik Ayu yang silent. Dia menerima panggilan dari ponselnya, sejenak terdiam dan berjalan menghampiri kursi.


"Iya, kenapa Rani?" tanya Ayu yang sembari terkejut.


"Apa?!"


"Innalilahi...," Ayu meneteskan air matanya.


"Hiks, iya Rani. Kakak akan ke kampung segera." ucapnya.


"Ada apa, kenapa kamu menangis?!" Dion memeluk istrinya.


"Ayahnya Rani, mas.... Meninggal di kampung. Dan sekarang Ayu ingin ke sana melihatnya."


"Rani pasti sangat terpukul mas, malam ini juga kita berangkat bisa kan mas?" Ayu meminta ke suaminya.

__ADS_1


"Baiklah sayang, mas bersiap dan kamu juga bersiap. Jangan lupa makan malam dulu, kasihan anak kita nanti kelaparan." Dion membelai istrinya.


"Em," Ayu menganggukkan kepalanya.


Mereka pun mengerjakan tugas mereka masing-masing, dan berangkat malam itu juga dengan mobil Dion ke sana. Ditengah perjalanan Dion mulai mengantuk, dan kampungnya Ayu masih jauh dari yang sudah mereka tempuh. Dion berinisiatif untuk berhenti dan istirahat sejenak, karena dari pulang kerja memang Dion belum ada istirahat sama sekali. Ayu pun memakluminya dan membiarkan suaminya istirahat sejenak, Ayu masih mengotak Atik ponselnya di dalam mobil. Mencoba mencari tahu lagi dari Rani keberadaan dirinya.


Tetapi Rani tak menjawab telpon dari Ayu saat di hubungi, sudah berulang kali tetap tak ada jawaban. Ayu mencoba menelpon saudara mamanya yang di kampung juga tidak ada yang menjawabnya. Ayu berfikir mungkin semua orang sangat sibuk saat ini, dan memang semua sibuk mengurusi keperluan jenazah ayahnya Rani. Karena mamanya sudah tiada, dan Rani belum juga kembali karena masih berada di jalan untuk pulang melihat ayahnya.


Sampai di kampung...


Semua orang ramai di rumah Rani, dan Gadis itu sedang menangis karena ayah tercintanya pergi terlalu cepat meninggalkannya. Ayah Rani terkena serangan jantung di tempat kerjanya, sekarang ayahnya hanya bekerja di kampung saja dan tidak merantau lagi. Pemakaman pun dilaksanakan dan berjalan dengan lancar, Rani sangat sedih karena ayahnya sudah tiada, kini ia hidup sendirian dan Ayu mengajaknya kembali tinggal bersama dirumahnya. 


Ayu kembali saat itu ke Jakarta, tidak mengikuti persiapan yang lainnya di karenakan Dion akan bekerja keesokan harinya. Ayu juga sangat kecapean sehingga perutnya mengalami keram yang membuatnya kesakitan. Namun Ayu dapat mengatasinya dan tidak perlu sampai ke dokter untuk mengecek, hanya istirahat di rumah dan tidak banyak beraktifitas sudah membuatnya merasa nyaman.


Setiap hari Ayu tidak perlu melakukan semua aktifitas dan pekerjaan rumah, sudah ada art dan juga mertuanya yang selalu mengirim makanan untuk dirinya. Bersyukur sekarang miliki mertua yang perduli akan dirinya, Bagas tanpa sengaja melintas di depan rumah wanita itu. Dan ia melihat Ayu dengan perutnya yang besar, Bagas merasa sedih dan bahagia Ayu sekarang akan menjadi calon ibu saat itu.


Rasa menyesalnya membuatnya tak hentinya menyalahkan diri, ternyata Ayu dulu pasti bisa mengandung anak dan menjadi hidup bahagia pikirnya.


"Kalau saja dulu aku tak mengacuhkannya, mungkin kehidupan ku tak seperti saat ini." Bagas pun pergi karena takut akan ketahuan dengan Ayu.

__ADS_1


Bagas pulang ke Jakarta karena ingin melihat mamanya dan ingin memberi tahukan bahwa sebentar lagi akan membawa mamanya untuk tinggal bersamanya. Dan akan terus berusaha meniti karir dari nol sampai memiliki perusahaan sendiri seperti papanya dulu.


Bersambung....


__ADS_2