
Dokter! Dokter! pasien hidup kembali..!" wanita itu berlari dan memberi tahukan pada mereka semua.
"Benarkah?! Ayu!" Dion berlari dengan sangat cepat menghampiri Ayu yang ada di dalam kamar itu.
"Alhamdulillah ya Allah..., kau sangat mulia. Kini anak itu tidak menjadi anak piatu yang harus kehilangan ibunya." Oma sangat senang dengan cepat melihat kondisi Ayu yang sedang di pasang alat pernafasan agar mudah untuk bernafas.
Dokter pun kembali memeriksa keadaan dan kondisi pasien yang masih pucat tetapi detak nadinya normal seperti orang pada biasanya. Dokter pun tersenyum dan terkejut karena ia baru ini mengalami pasien yang begitu mengejutkannya.
Minggu depan, Ayu dan bayinya sudah bisa pulang ke rumah. Kini kondisi Ayu berangsur-angsur membaik dan dapat mengasuh putrinya Sabrina, betapa senangnya Dion berkali lipat sebab kini anak dan istrinya dapat kembali berkumpul dengannya.
Keesokan Paginya...
Seperti biasa Dion pergi bekerja dan beraktifitas di sekolahnya kembali, sementara putrinya Sabrina bersama Ayu di rumah. Sabrina anak yang baik dan tidak banyak tingkah, ia juga penurut dan santun sekali. Mamanya Dion sangat sayang dan senang setelah memiliki cucu. Hampir setiap hari Oma datang ke rumah Ayu dan Dion, sekalian mengantarkan makanan karena Ayu tak sempat memasak.
Sore harinya...
"Assalamualaikum, Sabrina..., papa sudah pulang. Kamu sedang ngapain?" Dion meletakkan tasnya dan mencari putri kecilnya ke dalam rumah.
"Dion? kamu sudah pulang?" Oma sedang memasak di dapur menyiapkan makan malam.
Sabrina sedang terlelap dalam buaian, dan Dion menatap putrinya itu. Tanpa sadar Dion menitihkan air matanya dan terisak saat hidungnya mengeluarkan air.
__ADS_1
"Terima kasih kau sudah mau lahir di kehidupan papa ya sayang.." Dion membelai Sabrina.
"Kau sangat mirip dengan mama mu Sabrina. jadilah anak yang sholehah dan membanggakan ke dua orang tua." doa dan harapan Dion ke Sabrina putrinya.
"Dion, bersihkan dulu dirimu, sebentar lagi makan malam sudah siap mama hidangkan." Oma membuyarkan lamunan Dion yang terus menatap anaknya.
"Iya ma, kalau gitu tolong lihat Sabrina. Dion akan kembali setelah selesai membersihkan diri." ujar Dion ke mamanya.
****
"Tok, tok, tok..," terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar kamar Ayu.
Pintu pun di buka oleh Dion, ia melihat istrinya sedang sibuk memakai korset ibu habis lahiran. Dion datang menghampiri dan membantu Ayu memasang korset itu.
"Kau kesusahan sayang? mas bantu memasangkannya, kau tiduran saja disana, biar mas yang mengancing semua kancingnya ini." ujar Dion sambil mengaitkan semua kancingnya.
"Kau wangi sekali, dan terlihat sangat cantik, mas berterima kasih kepada kamu sayang sudah melahirkan bayi yang begitu imut dan manis seperti mu." Dion mengecup dahi Ayu yang masih berbaring di tempat tidurnya.
"Mas pergi mandi dulu ya sayang." Dion berdiri dan melangkah menuju makar mandinya yang ada di dalam kamar.
Ayu tersenyum melihat suaminya yang begitu perhatian kepadanya, wanita itu tak pernah mendapatkan perhatian dari suami sebelumnya. Kini ia berjodoh dengan pria yang tepat tuk hidup bersamanya saat ini. Ayu pun bersiap dan turun dari kamarnya menemui mama mertuanya yang sudah sibuk seharian di rumahnya.
__ADS_1
"Mama..., kalau sudah selesai mandilah dulu dan istirahat. Lain kali mama jangan repot-repot memasak di rumah Ayu, kalau hanya makan Ayu dan mas Dion bisa masak hanya sekedar telur dan ada nugget di kulkas." Ayu menggendong Sabrina karena hari sudah mau malam.
Sabrina sangat pulas tidurnya, dan sebentar lagi ia akan bangun untuk meminum susu asi nya. Ayu duduk di sofa yang dibeli oleh Dion khusus untuk Ayu santai memberi asi Sabrina putrinya.
"Kamu itu jangan makan yang gak bergizi donk Ayu, kasihan Sabrina ia masih butuh banyak asupan dari kamu. Biar ia jadi anak yang kuat dan juga tumbuh optimal dan cerdas, mama malah senang masih bisa memasak untuk kalian anak-anak mama." mertuanya begitu sangat sayang dengan Ayu.
Mamanya Dion hanya memiliki seorang anak saja, dan itu hanya anak lelaki Dion seorang, sehingga mamanya sangat senang dan sayang kepada Ayu dan juga Sabrina cucu perempuannya. Tak beberapa lama Sabrina menangis dan ia sudah ingin minum asinya saat itu, Ayu pun memberinya Asi agar Sabrina kenyang.
Mama mertuanya memasakkan sup ayam untuk Ayu, dan beberapa makanan agar asi untuk Sabrina melimpah. Mama mertuanya benar-benar menyayangi Ayu seperti anaknya sendiri, sementara mama kandung Ayu sudah meninggal dunia sebelum Ayu mengandung Sabrina.
" Sayang, bila ia sudah tidur berikan pada mas. Kamu makan lah dulu di sana, mas sudah selesai makannya. Mama juga sudah menunggu mu dan ingin makan bersama." ujar Dion suaminya.
Dion sangat menikmati dirinya menjadi seorang papa saat ini, putri kecilnya itu membuat dirinya sangat semangat dalam segala hal. Dan Dion juga seorang papa dan suami yang sangat bertanggung jawab sekali terhadap keluarganya.
"Nak Ayu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke mama ya? Anggap mama ini adalah mama kamu juga, dan mama dari dulu sangat ingin memiliki anak perempuan. Tetapi mama saat itu tak bisa memiliki anak yang lain lagi selain Dion, dan sekarang mama malah memiliki putri dan cucu perempuan saat ini." mertuanya menggenggam tangan Ayu.
"Terima kasih ya sayang, sudah berjuang melahirkan cucu mama." Mertuanya terlihat tulus mengatakan itu padanya.
Mata mertuanya berkaca-kaca, dan sangat penuh cinta. Ayu kini memiliki keluarga yang sangat baik sekali kepadanya. Semua itu adalah hasil dari ketabahan Ayu selama ini menjalankan kehidupannya dan kini berubah manis yang dirasakan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1