
"Ibu-ibu terima kasih atas bantuannya, dan saya harus segera pergi membawa mama saya sekarang juga ke rumah sakit. Terima kasih semuanya." Bagas pun pergi menginjak gas mobilnya dan pergi langsung ke rumah sakit terdekat. Mobil melaju dengan cepat dan hati Bagas sangat takut dengan kondisi mamanya saat ini, sampai di rumah sakit, Bagas langsung memanggil suster jaga di ruang UGD agar mamanya segera di periksa oleh mereka.
Hati Bagas cemas, karena kondisi jantung dan nafasnya saat ini tidak normal. Wenny mulai sadar tapi kesadarannya tidak sempurna, ia masih mengambang dan memanggil nama Yeni meminta pintu gudang itu di buka.
"Yeni..., Yen..., tolong mama Yen..." Wenny masih terus mengucapkan itu.
Bagas menjadi sedih dan ia menggenggam tangan mamanya dan selalu di samping mamanya terus. Bagas berjanji akan membuat perhitungan dengan Yeni dan Ferdy kakak tirinya itu, yang sudah membuat mamanya jadi begitu.
"Ma.., ini Bagas ma, jangan takut ada Bagas disini. Mama sudah aman dan tak ada lagi yang menyakiti mama." Bagas mencoba membuat mamanya untuk tenang.
Tak beberapa lama Dokter menyuntikkan obat penenang ke Wenny, ia mengalami trauma dan sedikit shock sehingga membuat jiwanya terguncang. Wenny pun tertidur, sudah beberapa hari ia tidak tidur dan juga tidak makan, sehingga Wenny sangat lemas kondisinya.
Bagas sedikit tenang saat mamanya tertidur dan sudah di bersihkan oleh tubuhnya oleh suster-suster disana. Kali ini Bagas keluar ingin mencari makanan yang bisa ia makan, sebab hari sudah sore dan ia belum ada makan siang dari tadi. Bagas pun menunggu mamanya di samping, sampai ia tertidur tanpa menyadari hari sudah malam.
****
Hoek, Hoek..." Sabrina terus menangis.
Omanya yang menggendong ia tak mau diam juga, sampai sore itu Dion pulang ke rumah dan menyapa Sabrina. Seketika Sabrina berhenti menangis dan tersenyum melihat papanya sudah pulang dan menggendongnya. Sabrina terlihat bahagia, dan ia begitu manja dengan Dion papanya, Oma sangat senang melihat kekompakan Dion dengan Sabrina.
__ADS_1
"Ternyata ia sangat manja sama kamu mas, Omanya yang menggendong ia tak mau diam." Ayu datang dengan beberapa gelas teh dan camilan sore yang biasa di hidangkan.
"Oma sampai kewalahan. Tapi tak apa kalau Sabrina manja dengan papanya, memang masih butuh perhatian lebih dan kasih sayang penuh dari orang tua seusia begini." ucap Oma yang mencolek pipi Sabrina.
"Assalamualaikum..." Opa Sabrina masuk dan menemui mereka semua.
"Wa'alaikumsalam..., Opa datang?" Ayu menyambut dan menyalami mertuanya.
"Papa gak bilang mau ke sini? biar tadi Dion jemput di rumah." ujar Dion yang masih menggendong Sabrina.
"Oh..., jadi kalau Opa mau ketemu sama cucu Opa harus bilang sama papa Sabrina dulu ya? uh cucu Opa sudah besar nih..." Opa nya ingin menggendong Sabrina.
Setelah di berikan, ternyata Sabrina tak menangis malah tertawa bahagia dengan opa nya. Oma jadi cemburu dan ikut mendekat dengan opa, dan mengajak Sabrina bermain dengan mereka berdua. Rumah dan keluarga mereka di penuhi ke bahagian setelah Sabrina lahir ke dunia, dan yang paling merasa bersyukur adalah Dion, karena dapat menikahi Ayu dan memiliki buah hati bersamanya.
Plak!
Plak!
"Maafkan aku mas, aku sudah cukup hati-hati. Tapi ternyata ketahuan juga olehnya, dan itu semua karena para ibu-ibu tetangga kita." Yeni menjelaskan ke Ferdy suaminya.
__ADS_1
"Argh! dasar kau saja yang bodoh dan tak mengerti menjaganya, sekarang bagaimana kita mau mengambilnya kembali. Aku belum puas menyiksanya, sama seperti ia dulu menyiksa papa ku karena pergi dengan pria lain dan selingkuh dengan Rahmat papanya Bagas." Ferdy sangat kesal.
Pipi Yeni merah dan bercap lima jari Ferdy suaminya, anak mereka pun melihat kejadian itu. Dan Ferdy pergi dari rumah itu untuk bersenang-senang menghilangkan stresnya karena Yeni istrinya.
"Temui aku di bar Casandra ***, sekarang juga." isi pesan dari Ferdy ke seorang wanita.
"Hem, ternyata mas Ferdy masih belum puas saat bersama ku pergi di perjalanan bisnis itu." Donita tersenyum sangat manis.
"Baiklah mas, aku akan menemui mu lagi dan melayani mu sampai kau tak dapat melupakannya." Donita pun mengganti pakaiannya.
Wanita itu pun pergi dengan taksi menuju ke bar casandra tersebut, di sana biasa tempat Ferdi dan Donita pertama kali bertemu. Akhirnya mereka pun merajut pertemanan dan sampai saat ini, menjadi lebih dari teman yang tidak diketahui oleh Yeni istri Ferdy.
Dug, Dah, Dug..," terdengar suara musik yang begitu keras dan tidak beraturan ketika Donita telah masuk ke dalam bar casandra tersebut.
Di dalam bar itu begitu ramai, dengan orang-orang yang tengah menikmati alunan musik keras, sambil menggerakkan badannya. Mereka semua terlihat sangat bahagia dan menikmati hidup disana, muda mudi yang sedang kasmaran pun tak sungkan menunjukkan perasaan cintanya. Semua disana bebas melakukan apa pun untuk bersenang-senang, asal tak membuat onar atau merusak kebahagiaan.
"Hai sayang, apa kau masih merindukan ku?" Donita memeluk Ferdy dari arah belakang.
Ferdy yang sudah minum dari tadi pun membalas mencium pipi Donita, mereka tampak begitu mesra dan menikmati pertemuan itu. Donita langsung berjalan begitu manja duduk di samping Ferdy dan menyandarkan tubuhnya. Malam itu mereka menghabiskan dengan minum bersama dan bermesraan di bar Casandra itu.
__ADS_1
Sementara Yeni menangis di rumah kesal karena Ferdy meninggalkannya begitu saja setelah memukul pipinya. Yeni juga marah kepada Bagas, sebab semua itu adalah penyebab Bagas sehingga Ferdy memukulinya dan pergi acuhkannya.
BERSAMBUNG....