Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 54


__ADS_3

Mereka berdua pun berjabat tangan dan Bagas pergi keluar dari ruangan tersebut untuk kembali ke kantornya. Dion tidak mengajaknya untuk makan siang bersama, walaupun hari itu tepat di jam makan siang. Sebab dirinya ingin makan siang berdua dengan istrinya Ayu yang sedang tertidur pulas di dalam ruang kamar kantor tersebut.


Dengan perlahan dia membangunkan istrinya dan mengajak untuk makan siang, di dekat kantornya saja. Ia sengaja memesan makanan yang bergizi dan lebih banyak protein juga sayur, agar kondisi anak dan Ibunya tetap sehat seperti yang dianjurkan oleh dokter kandungan mereka.


****


Bagas pergi dari kantor itu dengan rasa kesal, ternyata ia masih menunggu Ayu dan Dion turun ke parkiran. terlihat Dion menggenggam tangan Ayu dengan sambel tersenyum manis bagus yang berada di dalam mobil menggenggam erat tangannya seperti ingin rasanya memukul wajah Dion saat itu juga.


"Mengapa harus orang lain yang bahagia di depan mataku, sementara Ayu itu dulu adalah wanita yang sama menikah denganku, aku yang harus bahagia saat ini." ucap Bagas merasa ia yang harus memiliki Ayu.


Bagas memutar kunci mobil dan menyalakan mesinnya, ketika Dion dan Ayu berjalan menghampiri mobil mereka, Bagas dengan cepat mengarahkan mobilnya ke arah Dion. Ia ingin membunuh Dion dengan menabrakkan mobilnya ke tubuh pria itu, namun ia tidak sadar bahwa di samping Dion ada wanita yang ia cintai.


"Awas Mas Dion!" teriak Ayu sambil menolak tubuh Dion ke arah seberang sebaliknya.


"Bugh!


"Cit~


"Ayu?! Ayu!" Jihan berteriak memanggil istrinya dari seberang sana.


Darah segar mengalir dari tubuh Ayu, wanita itu terguling ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh Bagas. Dion dengan cepat berdiri dari tanah dan berlari mendekati tubuh Ayu yang terguling disana. Dari hidungnya keluar darah begitu juga kondisi kepala Ayu yang sedikit robek sebab terbentur ke lantai parkiran.

__ADS_1


"Cepat panggil ambulan...!"Dion berteriak ketika seorang satpam menghampiri dirinya di parkiran tersebut.


Dengan cepat satpam itu berlari ke posnya, lalu menelpon mobil ambulans, agar segera datang ke lokasi gedung kantor mereka. Semua orang berkumpul melihat kejadian itu, lalu mereka membantu Dion mengangkat tubuh Ayu untuk menepi sebelum ambulan datang.


Wi~u... Wi~u....


Ambulans telah tiba di tempat kejadian dengan cepat petugas membawa Ayu masuk ke dalam mobil ambulans tersebut. Dion pun segera naik ke dalam mobil ambulans, Jerman nelpon seorang sopir pribadi kantornya untuk membawakan mobil miliknya ke rumah sakit.


"Mas~, mas Dion..."ayo tersadar terus memanggil nama Dion di dalam ambulans tersebut.


"Ya sayang di sini Mas Dion, kamu harus tetap kuat dan bertahan demi Mas dan juga demi Sabrina Putri kecil kita." ujar Dion yang begitu panik melihat kondisi Ayu.


"Syukurlah kamu selamat Mas, maafkan Ayu jagalah Putri kecil kita dengan baik, maafkan Ayu yang tidak bisa menjaga bayi kita." Ayu sudah memiliki firasat bahwa bayi yang ada dalam kandungannya tidak akan selamat.


Sampainya di rumah sakit para suster langsung mendorong Ayu untuk memasuki ruang operasi Dion pun disuruh untuk mengisi data-data dan juga pembiayaan administrasi yang akan mempercepat proses penanganan istrinya. Dion merasa panik Bahkan ia sampai lupa menelpon mamanya dan juga Sabrina yang belum Ia jemput saat ini.


sudah 1 jam berlalu Dion menunggu di luar ruang operasi tersebut, Ia baru menyadari bahwa dirinya belum memberitahu keluarga dan juga memberitahu pihak sekolah agar mengantar Sabrina untuk pulang ke rumahnya.


"Tring...


"Tring...

__ADS_1


"Halo, halo ma. Ini Dion ma, sekarang Dion berada di rumah sakit, mungkin Dion tidak akan pulang, jagalah Sabrina di rumah dengan baik ma." ujar Dion sedikit terisak.


"kenapa kamu di rumah sakit nak? siapa yang masuk ke rumah sakit?! kamu jangan menutupi apapun dari mama, hanya kamu, Ayu, dan juga Sabrina yang Mama miliki saat ini." ucap mamanya.


"Ma~ maafkan Dion yang tidak bisa menjaga menantu dan juga calon cucu Mama saat ini. Ayu sedang berjuang di dalam ruang operasi, ia mengalami kecelakaan sebab ingin menolong Dion ketika akan ditabrak oleh sebuah mobil di parkiran gedung kantor Dion." Dion menuturkan dan menjelaskan kepada mamanya bagaimana raga kejadian tersebut namun dengan hati-hati agar kondisi mamanya tidak syok mendengar semua itu.


"Astaghfirullah nak...?! Jadi bagaimana kondisi Ayu menantu mama nak? Jangan biarkan Ayu sampai kenapa-napa Dion, mama gak rela harus kehilangan menantu mama. Dan bagaimana nanti dengan Sabrina cucu mama yang harus kehilangan mamanya." Mama Dion mengatakan hal itu dengan merasa sedih.


Namun dari arah belakang ternyata Sabrina mendengar perkataan itu ketika ia ingin meletakkan tas sekolahnya. Sabrina berlari mendekati Omanya lalu menangis memeluk dan bertanya untuk mendapat jawaban apa yang telah komanya bahas dari pembicaraan yang ia dengar.


Telepon telah ditutup Oma memeluk Sabrina sambil mengelus rambut anak tersebut ingin menenangkan cucunya agar ia tidak merasa panik atau berpikiran yang macam-macam.


"Mengapa Oma mengatakan mama akan pergi? Sabrina tidak mau ditinggal oleh Mama dan juga Papa. Apa yang dikatakan oleh Papa Oma? Ada apa dengan mama? mengapa Oma menangis dan terlihat sedih?" begitu banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh cucunya itu kepadanya.


"Mama tidak apa-apa kok Sabrina, hanya saja kondisi Mama sedang tidak stabil sebab sedang mengandung calon adik Sabrina. Jadi malam ini mama dan papa menginap di rumah sakit, dokter akan memeriksa adik Sabrina dan memastikan mama, adik pasti akan pulang dengan selamat." tutur Oma memberi pengertian ke cucunya.


****


Bagas yang mengetahui ia telah menabrak Ayu, pergi begitu saja dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan. Bagas sangat shock melihat Ayu bersimbah darah dan terguling ke tanah. Bagas seperti orang gila yang tertawa dan mengamuk di dalam mobilnya, mengemudi tanpa arah dan tak tahu ingin kemana.


"Argh! Ini semua salah Dion! Dia yang sudah menyebabkan Ayu begitu, aku akan membuat perhitungan lagi padanya suatu saat nanti, awas kau Dion kalau Ayu sampai kenapa-napa!" Bagas terus melaju dan menambah kecepatan lagi.

__ADS_1


Malam itu Bagas tidak pulang kerumahnya, dan semua orang cemas sebab ponselnya tak dapat di hubungi. Dina juga sangat cemas menanyakan ke semua teman serta rekan karyawan di kantornya Bagas, tapi tak seorang pun yang tahu dimana keberadaan Bagas saat itu.


Malam itu Bagas melarikan diri untuk membuang semua rasa bersalahnya, dan juga ingin sendiri meratapi kondisi wanita yang ia tabrak tanpa sengaja olehnya. Berhenti di pinggir pantai, menatap layar ponsel dengan background foto Ayu, ia menangis dan berteriak disana.


__ADS_2