
"Dion sudah datang! mbak, adik kita datang sekeluarga, senangnya hati ini." kakaknya pergi keluar menyambut kedatangan keluarga Dion.
Mereka semua suka cita, mama Dion pun memeluk kakaknya sambil menangis dan merasa sedih. Sebab kali ini adiknya tak ada pendamping lagi, tapi semua orang menyambut mereka dengan pelukan hangat dan kekeluargaan. Ayu yang melihatnya menjadi terharu dan bahagian, mama mertuanya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Dion menggendong Sabrina yang masih tertidur, dan membawanya masuk ke dalam kamar agar lebih nyaman istirahatnya.
Malam itu mama tidur bersama kakaknya, Dion dan Ayu serta Sabrina tidur bersama di dalam kamar. Malam itu mereka semua kelelahan, dan tidur dengan pulas sampai keesokan paginya mereka baru bangun segar kembali. Udara di sana sedikit sejuk dan terlihat mendung, Ayu sudah bangun duluan ingin melihat keadaan di dapur para ibu-ibu disana. Dion yang menyadari ketika Ayu akan beranjak, langsung menarik tangan istrinya sampai jatuh di atas tubuhnya lalu memeluk Ayu sembari berkata jangan pergi.
"Mas, lepaskan aku. Hari ini sangat sibuk pasti mereka, dan memerlukan bantuan." ujar Ayu yang masih dalam dekapan Dion.
"Mas juga perlu bantuan sayang~ tapi hanya kamu yang bisa membantu mas, dan ini sangat urgent." ungkap Dion.
"Hah?! kamu kenapa mas?!" Ayu menjadi panik.
Ayu langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang itu, mencari tahu apa yang membuat suaminya meminta pertolongannya. Dion langsung memainkan peran dan pura-pura lemas, sedikit sesak nafas.
"Mas kamu kenapa mas?! Mas Dion?! Tolong, hop." suara Ayu terhenti sebab tangan Dion langsung menutup mulut istrinya.
"Mas kan sudah bilang hanya kamu yang bisa membantu mas saat ini sayang." ujar Dion dengan suara pelan.
Ayu yang menyadarinya langsung tertawa dan menjepit hidung mancung Dion dengan tangannya sendiri. Dion semakin erat memeluk Ayu dan mencium pipinya, sabrina belum bangun pagi itu. Ayu pun kembali tidur dalam pelukan Dion menikmati udara yang sejuk di pagi hari dengan hangatnya pelukan Ayu. Hubungan mereka semakin hari semakin indah dan terlihat harmonis, untuk beberapa saat Ayu melupakan Bagas, dan ia lupa menceritakan prihal kejadian dirinya, Sabrina dan Bagas yang sudah bertemu.
****
__ADS_1
Acara berlangsung di rumah kakaknya mama, cucunya begitu lucu dan menggemaskan Ayu. Dion melihat ekspresi Ayu yang begitu antusias terhadap baby tersebut, dan Dion punya rencana terhadap Ayu sekali lagi. Kali ini Dion sangat usil ke istrinya, dan mencari-cari perhatian sepanjang hari.
Ketika Ayu sedang mengambil minum di dapur dan tidak ada orang disana. Dion pun mengikutinya dari belakang, pria itu sengaja menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan gaya begitu maskulin.
"Hai, mamanya Sabrina? saya mau bernegosiasi sama anda, luangkan lah waktu sejenak di sini." Dion menarik kursi meja makan, mempersilahkan Ayu untuk duduk.
"Baiklah, apa yang ingin anda negosiasi kan ke saya pak Dion?" Ayu pun bertanya ke Dion setelah duduk di kursi itu.
Dion sedikit menatap sekeliling terlebih dahulu memastikan aman tak ada orang yang mendengarkannya nanti selain Ayu istrinya. Bagas pun mulai mendekat dan ikut duduk disana, setelah itu ia memulai pembicaraan yang terlihat serius bagi Ayu.
"Mas lihat tadi mama sangat menggemaskan ketika ingin menggendong bayi. Dan negosiasi ini ada sangkutannya dengan hal itu, bagaimana kalau kita memiliki anak lagi nanti?" Dion langsung mengutarakannya.
Prrff...
Dengan cepat ia menutup mulut Ayu dengan tangannya sendiri, lalu Dion dengan gemas menciumi pipi istrinya.
Ceklek...
Sebuah pintu kamar mandi di dapur itu terbuka dan seorang wanita keluar dari kamar mandi tersebut. Wanita itu terkejut melihat Dion mencium pipi istrinya, lalu menutupi wajahnya sambil senyum-senyum sendiri. Dion tak menyadari bahwa kakak mamanya dari tadi sedang di kamar mandi dan mungkin mendengar pembicaraan mereka. Ayu dan Dion jadi malu sendiri, Dion pun terduduk lemas meletakkan kepalanya diatas meja makan tersebut.
"Ha~ aku terciduk oleh seseorang, habislah harga diri ku dan nama baik ku." ujar Dion yang masih berada di atas meja makan.
__ADS_1
"Hahaha.., ya gak lah sayang? Bagi ku, ungkapan mu di depan orang merupakan kebanggaan ku, karena kau menyatakan cinta mu dengan penuh keberanian." ucap Ayu ke Dion suaminya.
Dion masih begitu lesu dan belum mau pergi dari dapur tersebut, tiba-tiba Sabrina datang menghampiri Dion. Putri kecilnya itu meminta Dion menemaninya membeli ice cream, ia menarik Dion untuk mengajak bersamanya.
"Ayo papa.., Sabrina mau ice cream sama papa. Semalam papa sudah janji sama Sabrina kalau jadi anak baik akan di belikan ice cream." ujar Sabrina yang terus menarik tangan Dion.
"Oh iya benar itu. Kemarin papa bilang begitu kan Sabrina? mama juga dengar kok, ayo pa janji harus di tepati." Ayu tersenyum mengatakannya.
Dion menyipitkan matanya dan memasang wajah memelas kepada Ayu, pria itu masih merasa malu untuk keluar dari sana. Dari raut wajahnya Dion, ia meminta tolong kepada Ayu agar mau membantunya. Sebab Dion malu keluar harus menatap para Bu ibu di luar dapur itu, pasti berita itu sudah menyebar.
"Baiklah, aku bisa gunakan Sabrina menutupi wajah ku dan berpura-pura tak menyadarinya. Huh~," Dion pun memberanikan dirinya.
"Baiklah sayang, ayo kita beli ice cream. Papa akan menemani kamu pergi beli ice cream disana, agar mama kamu puas melihat papa mu ini." Dion menggendong Sabrina dan keluar dengan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh anaknya.
"Hihi..., mas kamu sebenarnya yang menggemaskan. Baru ku sadari ada sisi dari kamu yang begitu lucu saat sedang malu dengan seseorang." Ayu bergumam dan senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba Mama menghampiri Ayu yang sedang duduk di kursi makan saat itu. Mama merasa heran sebab Ayu tersenyum dan seperti merasa geli akan sesuatu, Mama pun mulai bertanya kepada Ayu Apa yang terjadi di antara dirinya dan Dion. Ternyata mama mertuanya sudah mendengar berita tersebut dari kakaknya sendiri, dengan rasa malu Ayu pun menceritakan perihal kejadian dengan mertuanya itu.
Mama pun juga ikut tersenyum dan merasa geli ketika Ayu menceritakan apa yang telah terjadi di dapur itu tadi. Namun seketika Mama ntar siang dan mengingat kembali momen ketika Ayu tengah mengandung Sabrina dan di saat ia akan melahirkan. Mama bercampur senang mendengar keharmonisan rumah tangga anaknya, dan juga merasa sedih apabila mengingat ketika Ayu penuh perjuangan mengandung Sabrina dan melahirkan Putri kecilnya itu.
Secara tiba-tiba mama mertua memeluk Ayu dan mengatakan kepada Ayu, untuk tetap selalu menjaga keharmonisan rumah tangga mereka walau apapun yang terjadi. Ayu terdiam dan mengatakan kepada mertuanya agar tidak terlalu khawatir memikirkan kondisi mereka, karena saat ini yang ada di pikiran Ayu ialah Mama mertuanya lah yang perlu menjaga hati dan perasaannya agar tetap selalu bahagia bersama mereka.
__ADS_1
Bersambung...