
Tambah membuat Ayu terlihat semakin Soleha sebagai ibu dari seorang putri yang manis pula. Bagas semakin ingin berbalikan dengan Ayu kembali, dan hidup bersama Ayu serta Sabrina menjadi satu keluarga bahagia. Semua sudah di bayangkan oleh Bagas, ia sangat ingin Ayu dan Sabrina bersamanya menjadi keluarga yang utuh. Apalagi Bagas sudah di vonis tidak dapat memiliki anak lagi bila ia menikah, sebab kecelakaan itu ia sudah tak dapat memiliki anak. Itulah sebabnya Bagas sangat ingin kembali bersama Ayu yang sudah memiliki anak dan ia malah merasa Sabrina adalah putrinya.
Tring...
Tring....
"Ya pak?!" Bagas menjawab telpon dari atasannya.
"Datanglah ke ruangan, ada hal yang mau saya sampaikan dan yang harus kamu kerjakan saat ini." telpon di tutup oleh atasannya.
"Apa lagi ini, masih pagi juga sudah ada kekacauan. Atasan ini tinggal enak menyuruh saja dan duduk dengan tenang. Sementara aku yang harus mengerjakan dan bertanggung jawab bila ada kesalahan dari bawahan." Bagas menggerutu dan menggelengkan kepalanya.
Bagas sangat kesal karena atasannya mengganggu lamunannya tentang Ayu dan Sabrina yang akan menjadi keluarga kecilnya suatu saat nanti. Bagas pun beranjak dari kursinya, dan bergegas pergi ke ruangan pak Kamil atasannya sendiri di kantor itu.
"Tok, tok, tok, selamat pagi pak Kamil." Bagas mengetuk pintu ruangan itu lalu masuk begitu saja.
"Bagas silahkan duduk, ada sesuatu yang membuat saya heran. Mengapa sampai saat ini pak Dion dari perusahaan **** itu belum juga menandatangani proyek dan kerjasama kita sampai saat ini?!" Kamil melempar berkasnya ke atas meja.
"Bukankah kamu bilang ia akan menandatanganinya ketika sudah pulang dari luar kotanya?! Mengapa sudah sampai saat ini belum juga ada berkas yang kita terima penandatanganan itu! Saya minta kamu datang ke kantornya segera dan bicarakan padanya baik-baik, dan tanyakan di mana keberatannya ia untuk tidak setuju dengan syarat yang kita ajukan tersebut. Saya tidak mau mendengar alasan dari mereka yang tidak masuk akal seperti kamu katakan ke saya waktu itu!" Kamil sedikit emosi karena belum ada juga pemberi Tahuan proyek kedua mereka yang ingin di jalankan.
__ADS_1
"Baiklah pak, nanti siang saya akan kesana dan segera memberi tahu kepada bapak secepatnya, saya permisi kembali ke ruangan saya sekarang." Bagas pergi begitu saja keluar dari ruangan Kamil.
Ia berjalan dengan cepat dan terburu-buru, pintu ruangannya ia banting saja dan mencampakkan berkas itu ke atas mejanya. Bagas ternyata sangat kesal dengan tugas yang di berikan kepadanya, sebab ia tak suka harus kembali lagi ke kantor Dion dan harus mengemis menanyakan kerjasama itu. Bagas tak suka kepada Dion yang merupakan pemilik perusahaan yang sangat bonafit, sedangkan dirinya hanya dapat disuruh kesana dan kemari oleh atasan. Tidak seperti dulu yang dapat menyuruh tanpa harus keluar dari ruangannya dan menjadi bos di perusahaan papanya.
Siang harinya...
Bagas datang ke kantor Bagas dan sudah menelpon sekretarisnya untuk membuat janji sebelumnya. Dan sekretaris itu mengatakan bahwa akan memberi tahu kepada Dion dan membuat janji saat makan siang nanti.
Brem...
Bagas datang kesana dan menemui resepsionis di depan, ia menanyakan tentang keberadaan Dion di perusahaan itu. Namun wanita itu mengatakan Dion sedang tidak ada di tempat dan baru saja pergi belum tahu kapan kembalinya. Bagas sangat kesal dan sedikit emosi, ia meminta sekretaris Dion untuk menemuinya. Segera wanita itu menelpon sekretaris Dion yang masih berada di lantai atas untuk segera turun.
"Sayang bisa kah kau nanti ke rumah sakit langsung ketika sudah pulang dari sekolah bersama Sabrina? papa sangat ingin bertemu dengannya, beli lah makan siang untuk mama kamu dan Sabrina, serta beberapa minuman untuk mama disini." Dion memberi tahu ke Ayu untuk segera datang ke sana.
"Baiklah mas, nanti Ayu akan langsung ke sana." Ayu menjadi kepikiran dengan mertuanya.
Dion pun menenangkan papanya yang ingin sekali bertemu dengan Sabrina cucunya, karena kondisi papa sudah semakin parah. Dan mereka tak memberi tahukan ke Sabrina kondisi Opa nya, agar Sabrina tak cemas dan Oma pun tadinya tak mengizinkan Sabrina tahu. Sebab Sabrina akan terus menangis dan tak mau makan saat tahu ada anggota keluarga yang sakit, sehingga mereka akan cemas dengan kesehatan Sabrina.
Bagas di kantor Dion...
__ADS_1
"Bagaimana cara kerja kalia! Bugh!" Bagas memukul meja dan marah-marah disana.
"Maafkan saya pak Bagas, ini memang salah saya yang tidak konfirmasi pada bapak. Sekali lagi saya minta maaf pak Bagas." ucap Sekretaris Dion yang merasa bersalah.
"Sudahlah aku akan pergi sekarang, kalian sudah membuang-buang waktu ku hari ini. Lain kali tolong katakan pada atasan kalian agar membuat kesepakatan dan bertemu dengan ku lagi." ucap Bagas yang pergi meninggalkan mereka.
"Hah...! aku sangat takut melihatnya, tak ku sangka ia begitu galak dan menyeramkan." ucap Sekretaris itu ke wanita yang ada di balik meja resepsionis.
Akhirnya Bagas pergi mengendarai mobilnya kembali, Bagas bermaksud untuk menemui Ayu dan Sabrina di sekolahan. Bagas melihat sekarang sudah pukul 13:00 pasti Ayu akan makan siang atau ingin pulang karena sekolah pasti sudah berakhir.
Saat Bagas ke sana terlihat Mobil Ayu keluar dari gerbang sekolah dan ia pergi melaju di ikuti oleh mobil Bagas dari belakang. Dari membeli makanan dan berbelanja di mini market sampai sampai ke rumah sakit Bagas masih terus mengikuti.
"Mengapa Ayu tak pulang ke rumah dan malah ke rumah sakit ini?" Bagas bertanya dalam hatinya.
Bagas bermaksud bertemu dengan Ayu ke rumahnya, dan berbicara empat mata dengan wanita itu. Namun rencananya tak berjalan sesuai yang ia inginkan, sebab Ayu dan Sabrina malah ke rumah sakit untuk melihat mertuanya. Bagas ingin turun dan menemui Ayu, tapi sayangnya Dion sudah duluan menghampiri Ayu dan Sabrina. Dion menggendong putrinya dan mencium pipinya yang gempal dan merah merona, terlihat Sabrina sangat menyukainya saat Dion menggendongnya.
Karena Sabrina sudah 3 hari tidak bertemu dengan papanya terus berada di rumah sakit semenjak pulang dari perjalanan bisnisnya ke luar kota. Bagas sangat geram melihat Dion yang menggandeng tangan Ayu dan menggendong Sabrina Mereka terlihat sangat harmonis dibandingkan dengan dirinya yang tidak memiliki keluarga saat ini. bagus pun mengepal tangannya dan memukul mobilnya ketika ia belum sempat turun untuk menghampiri Ayu dan Sabrina di lapangan Rumah sakit tersebut.
Bersambung....
__ADS_1