
Bagas bermaksud bertemu dengan Ayu ke rumahnya, dan berbicara empat mata dengan wanita itu. Namun rencananya tak berjalan sesuai yang ia inginkan, sebab Ayu dan Sabrina malah ke rumah sakit untuk melihat mertuanya. Bagas ingin turun dan menemui Ayu, tapi sayangnya Dion sudah duluan menghampiri Ayu dan Sabrina. Dion menggendong putrinya dan mencium pipinya yang gempal dan merah merona, terlihat Sabrina sangat menyukainya saat Dion menggendongnya.
Karena Sabrina sudah 3 hari tidak bertemu dengan papanya terus berada di rumah sakit semenjak pulang dari perjalanan bisnisnya ke luar kota. Bagas sangat geram melihat Dion yang menggandeng tangan Ayu dan menggendong Sabrina Mereka terlihat sangat harmonis dibandingkan dengan dirinya yang tidak memiliki keluarga saat ini. bagus pun mengepal tangannya dan memukul mobilnya ketika ia belum sempat turun untuk menghampiri Ayu dan Sabrina di lapangan Rumah sakit tersebut.
****
Dina yang sudah di ceraikan berjalan dengan koper di tangannya duduk di pinggir jalam, ia tak tahu mau kemana hari itu. Butik miliknya sudah bangkrut dan disita oleh Boby mantan suaminya. Karena dulu yang membuka usaha Butik itu Boby sendiri semenjak Dina tak bekerja lagi di kantornya bagas. Sehingga sampai saat ini ia tak memiliki apa pun lagi, bahkan uang sepeser pun untuk naik kendaraan umum saja tak ia miliki juga.
Brem...
"Eh, siapa wanita itu ya? kok sangat familiar sekali bagi ku." Bagas terus saja menatapnya.
Dina yang malang itu masih duduk di tepi jalan dan ia hampir menangis sebab ia merasa lapar, tapi tak ada uang sedikit pun untuk bisa di belanjakan. Dina menatap kesana kemari dan tertunduk lagi, ia merasa sedih ketika tak ada satu orang pun yang bisa di minta pertolongannya.
"Bukankah itu Dina?!" Bagas menatapnya dan berhenti di tepi jalan tepat di hadapannya.
"Dina?! kamu kenapa kok menangis di sini, dimana suami mu?" Bagas bertanya kepadanya.
Cass...., Duar! tiba-tiba hujan turun dan guntur menyambar di atas langit.
__ADS_1
"Naiklah ke mobil ku, nanti kita akan bicara di suatu tempat."Bagas membukakan pintu mobilnya agar Dina masuk ke dalam.
"Bugh! pintu mobil di tutup kembali dan mobil melaju menerjang hujan yang begitu deras.
Cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap, padahal masih pukul 14:30, tapi sudah seperti pukul 15:30 saat malam akan menyapa bumi. Bagas membawa Dina ke kantor tempat kerjanya, disana ada kantin yang bisa tempat mereka mengobrol, kebetulan Bagas belum makan siang dan Dina pun juga sama. Bagas mentraktir Dina makan disana, karena ia berkata belum makan apa pun dari tadi pagi.
Sampai disana, Dina menceritakan semuanya kepada Bagas. Bahwa ia sudah bercerai dengan suaminya, dan sekarang ia di usir hanya karena tak hamil-hamil setelah menikah dengannya. Dina kembali menangis dan tak tahu ia akan tidur dimana malam ini bahkan tak ada orang yang mau menolongnya. Bagas sangat kasihan kepadanya dan ia mencoba menolongnya, Dina diajaknya untuk tidur di rumah bersama mamanya.
Dina sangat senang dan ia pun menunggu Bagas di kantin itu sampai pulang dari kantornya sore nanti. Selama itu ia berada di kantin dan meminta ibu kantin untuk memberikannya tempat untuk beristirahat sebentar. Dan Dina pun beristirahat di ruang tempat biasa ibu kantin itu beribadah setiap harinya.
*Sore harinya, saat hujan sudah reda...
Akhirnya Dina pun dapat tempat tinggal dan bisa tidur nyenyak di kamar bersama mamanya Bagas. Mereka hanya memiliki dua kamar utama saja, yang lainnya adalah kamar pelayan dan tak memiliki kamar tamu. Dina sebenarnya tak ingin tidur bersama mamanya bagas, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu jalan satu-satunya. Dan Dina mencari cara agar ia dapat tidur di ranjang itu sendirian, Dina tak segan untuk melakukan apa pun agar bisa mendapatkan kasur untuk dirinya sendiri.
Saat tidur bersama, Dina menarik selimut dan berpura-pura tidur dengan lasaknya. Sehingga mamanya Bagas terbangun dan terganggu dengan cara tidur ya Dina. Mamanya kedinginan sebab tidur tak pakai selimut dan temperatur AC sengaja di buatnya sangat dingin. Mamanya pun mengalah dan mengambil selimut lagi dari lemari, tapi Dina malah merebutnya lagi dalam mata tertutup. Akhirnya Mamanya Bagas tak tahan dan pergi malah tidur bersama selimutnya di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
Dina tersenyum dan ia dapat menguasai kasur itu sendirian lalu tidur dengan nyenyak. Dina masih saja begitu licik dan sifatnya sangat serakah, wanita itu tak tahu berterima kasih setelah di tolong oleh Bagas dan mamanya.
Keesokan paginya Mamanya Bagas bangun tidur dalam keadaan tubuh pegal semua. Dina hanya berpura-pura tidak tahu dengan kejadian tadi malam yang ia lakukan. Mamanya Bagas pun meminta mbok art nya untuk memijat badannya karena pegal semua. Bagas pun merasa heran melihatnya, mamanya tak mengatakan apa pun ke Bagas pagi itu saat akan pergi ke kantornya.
__ADS_1
Dina mengantar Bagas ke depan rumah layaknya seperti seorang istri, Dina memberanikan dirinya untuk merapikan bentuk dasi dan menyerahkan tas milik Bagas saat itu. Hal itu membuat Bagas sangat senang dan sempat teringat Ayu istrinya yang dulu selalu melakukannya, hanya saja Bagas tak pernah menyukainya.
"Terima kasih ya Dina. Jaga diri di rumah dan tolong perhatikan mama sepertinya sedang tidak sehat." Bagas pun masuk ke dalam mobilnya.
Dina tersenyum malu dan memiliki niat dengan Bagas kembali, tapi gak tahu isi hati Bagas masih belum move on dari Ayu mantan istrinya yang lalu. Bagas sempat menyukai sikap Dina yang perhatian padanya, tapi ia malah melihat wajah Dina adalah wajah Ayu yang sedang di depannya.
Hari ini begitu semangat Bagas bekerja di kantornya, sampai ia lupa kejadian semalam yang membuatnya kesal saat tangan Ayu di gandeng oleh Dion suaminya. Hari ini ia berencana lagi ingin menemui Ayu dan Sabrina, walau ia tahu Ayu sudah milik Dion sekarang. Bagas tak putus asa mengejar Mantan istrinya kembali menjadi miliknya.
Kali ini Bagas menjadi sangat bucin tapi dengan istri orang lain. Begitu susah payah ia kembali mengejar yang bukan miliknya lagi.
Saat Bagas sampai di ruangannya dan duduk di kursinya, tiba-tiba Kamil atasannya datang ke ruangannya dengan emosi.
"Gubrak! Bagas, bagaimana dengan tugas mu semalam yang saya berikan?!" Kamil langsung masuk ke ruangan Bagas dengan melempar berkas ke mejanya.
"Pak Kamil?" Bagas terkejut dan ia berdiri seketika.
"Maaf pak semalam saya lupa memberi tahu bapak sebab bapak gak ada di ruangan. Semalam pak Dion tidak di tempat ada urusan mendadak yang gak bisa di tunda. Dan hari ini saya sudah buat janji dengan sekretarisnya. Dan hasilnya akan saya berikan kepada bapak setelah saya mencapai kesepakatan dengan pak Dion nanti." ujar Bagas yang sedikit menunduk.
"Pokoknya saya gak mau tahu hari ini juga saya mau hasilnya, dan bagaimana tanggapan dari pak Dion dari perusahaan *** itu menanggapi perusahaan kita." Kamil pergi dari ruangan itu dengan masih dalam emosi.
__ADS_1
Bersambung....