
"Pak Kamil?" Bagas terkejut dan ia berdiri seketika.
"Maaf pak semalam saya lupa memberi tahu bapak sebab bapak gak ada di ruangan. Semalam pak Dion tidak di tempat ada urusan mendadak yang gak bisa di tunda. Dan hari ini saya sudah buat janji dengan sekretarisnya. Dan hasilnya akan saya berikan kepada bapak setelah saya mencapai kesepakatan dengan pak Dion nanti." ujar Bagas yang sedikit menunduk.
"Pokoknya saya gak mau tahu hari ini juga saya mau hasilnya, dan bagaimana tanggapan dari pak Dion dari perusahaan *** itu menanggapi perusahaan kita." Kamil pergi dari ruangan itu dengan masih dalam emosi.
"Aku sangat tidak suka bila bertemu dengan Dion kembali, tapi harus bagaimana aku hanya seorang bawahan dan bukan bos perusahaan semua harus kujalani sesuai apa yang dibilang oleh Pak Kamil." Bagas mengolah nafasnya dan ia duduk kembali di atas kursinya tersebut.
Ketika jam makan siang bagus pun pergi ke perusahaan Dion, mereka sudah membuat janji untuk bertemu di cafe dekat kantor Dion, sambil mereka menikmati makan siang di sana. ternyata Dion telah menunggu di cafe tersebut bersama sekretarisnya, Bagas pun langsung menuju ke Cafe itu tanpa harus ke kantornya lagi.
"Selamat siang pak Bagas Maaf ketika kemarin anda datang kita tidak dapat bertemu, dan pada hari itu saya sedang ada urusan pribadi mengenai keluarga saya." Dion mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bagas.
"namun kali ini saya pastikan akan memberitahu hasil dan kerjasama yang akan kita rajut dalam proyek besar dari perusahaan negara tetangga, mari silakan duduk pak Bagas. Hari ini saya pun akan cepat menyelesaikannya karena masih ada urusan pribadi kemarin yang belum selesai." Dian mempersilahkan Bagas dan memberi daftar menu makanan agar segera memesan makanannya.
Setelah selesai memilih menu makanan, Dian pun segera membicarakan masalah proyek dan kerjasama antar perusahaan mereka. Dion pun tidak ingin berlama-lama dan Ia menjelaskan semua kerjasama antara perusahaan mereka berdua. Dion pun sudah membaca berkas yang dikirim oleh atasan Bagas kepadanya, di depan mata Bagas Dion menandatangani berkas itu dan mereka akan bekerjasama kembali sekali lagi.
__ADS_1
Makanan yang telah mereka pesan pun sudah ada di depan mata kini mereka berdua tinggal menikmati makan siang itu sambil membicarakan kembali sedikit yang belum sempat dia menjelaskan kepada Bagas. Namun Bagas sangat bosan melihat Dion karena ia teringat akan diri Ayu yang sekarang telah menjadi istrinya.
Sementara Dion berencana siang itu akan menemui Ayu dan juga Sabrina di depan sekolah mereka, Namun semua harus gagal lagi sebab Pak Kamil atasannya telah marah, karena hasil dari laporan berkas yang seharusnya ditandatangani belum selesai juga. akhirnya pertemuan Mereka pun berakhir setelah makan siang habis, sejarah ion berpamitan kepada Bagas karena ia sangat terburu-buru ingin ke rumah sakit melihat kondisi orang tuanya lagi.
Drrtt..., Drrrtt..
"Assalamualaikum, iya sayang mas akan segera ke sana sebentar lagi akan sampai kamu tunggu lagi sana bersama Sabrina." Dion menjawab telepon ketika akan berjalan menjauhi Bagas yang masih duduk di meja itu membereskan beberapa berkasnya.
Bagas terdiam dan menatap punggung Dion dari arah belakang tubuhnya ia sangat kesal tangannya pun digenggam sangat erat. Bagas bener-bener merasa tidak senang ketika Dion memanggil Ayu dengan kata-kata sayang di hadapannya. seketika pria itu menjadi murung dan ia pergi begitu saja ketika sudah selesai menyusun semua berkas yang harus ia serahkan kepada Pak Kamil atasannya.
Yeni istri Ferdy...
"Mas kamu sudah pulang? sudah 2 hari kau pergi tanpa memberi kabar kepadaku, semenjak kau marah pergi begitu saja Aku sangat merindukanmu Mas." ucap Yeni dengan lembut berharap suaminya tidak marah lagi kepadanya.
Yeni dengan manja duduk di sebelah Ferdi meletakkan kepalanya di atas bahu suaminya sambil memeluk sebelah lengan Ferdi saat itu. namun dengan kasar Ferdi menarik lengannya agar terlepas dari pelukan ini, ia bergeser sedikit menjauh dari Yeni Ferdi masih emosi dan marah kepada istrinya.
__ADS_1
Ferdy masih marah karena sudah 5 hari tak bertemu dengan Donita yang hilang begitu saja, bahkan ponselnya Donita juga tak dapat di hubungi saat itu. Wanita itu juga tidak nampak di bar tempat biasa dia bekerja, dan semua orang di tanya pada tidak tahu dan tak mau memberi tahu kepadanya.
Ferdy tak tahu kalau Donita telah berpaling darinya, dan diam-diam sudah menikah dengan Boby suami dari Dina yang sebentar lagi akan resmi bercerai. Saat ini Donita sedang menikmati hari-harinya dengan bergelimang harta, apa lagi saat ia dapat mengandung anak dari Boby hidupnya akan terjamin. Sebab Boby menjanjikannya sebuah rumah besar beserta isinya dan mobil serta butik yang tadinya milik Dina akan Boby berikan menjadi atas namanya nanti.
Donita sangat senang dan menantikan itu semua berada di tangannya. Boby sangat kaya di bandingkan Ferdy yang tak pandai dalam bisnis dan perusahaan, kali ini perusahaan yang ia rampas dari Bagas semakin tenggelam, dan kehabisan dana karena dana perusahaan selalu ia gunakan sesuka hatinya. Satu persatu karyawannya keluar dari perusahaan itu mengundurkan diri, karena tidak tahan bila gajian selalu di beri setengah dan mencicil bayarannya.
Sudah beberapa kali karyawannya demo di depan gedung kantor mereka sendiri. dan Ferdi sangat pusing menangani mereka semua yang ingin haknya diberikan sepenuhnya oleh Ferdy ke mereka. setelah kejadian itu Ferdi pun tidak juga cerah dan serius menangani perusahaan tersebut. Hingga ia harus berhutang ke bank begitu besar dan ditambah lagi dengan bunga yang membengkak.
kali ingat Ferdy benar-benar sangat pusing, setiap hari ia selalu emosi, karena terlalu banyak masalah di kantor dan di rumahnya, apalagi hubungannya dengan istrinya serta Donita kekasih gelapnya itu. Membuat Ferdi menjadi kala p dan sering memukul ini sampai seluruh tubuhnya lebam-lebam kena hantaman tangan Ferdy.
Sampai akhirnya Yeni tak tahan lagi, tapi ia masih mencintai suaminya itu. Ia juga khawatir dengan anaknya dan kehidupannya nanti yang tak terjamin lagi, setelah bercerai dari Ferdy saat ini. Yeni tak mengetahui bahwa kondisi Ferdi saat ini sudah diambang kebangkrutan, yang diketahui oleh istrinya Ferdi itu memiliki perusahaan dan uangnya tidak akan habis apabila untuk kehidupan mereka saja.
Yeni yang hanya ingin tahu di rumah dan shopping menghabiskan uang gaji suaminya tanpa memperdulikan untuk masa depan kehidupan mereka nanti dihabiskan begitu saja setelah diberikan oleh Ferdi saat ia gajian. Ferdy selalu marah kepada Yeni, dan istrinya malah balik marah kepada Ferdy sehingga membuat Ferdy memukulinya. Ferdy tak suka Yeni selalu menghamburkan uangnya sementara Ferdy selalu menghamburkan uangnya dengan Donita tanpa di ketahui Yeni di rumah.
Bersambung....
__ADS_1