Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 48


__ADS_3

Dina pun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi kepada satpam itu, wanita itu pergi dengan rasa kesal dan mencoba mencari tahu informasi dari para tetangga yang pernah melihat Bobby sebelumnya. Saat itu Dina bermaksud untuk membeli minuman di warung terdekat rumahnya, lalu ia mencoba mencari informasi dan bertanya kepada pemilik warung tersebut tentang bobby mantan suaminya.


Pemilik warung itu tidak begitu banyak mengetahui tentang mantan suaminya, namun ia pernah melihat Bobby bersama wanita masuk ke dalam rumah mereka. Bahkan mereka berdua terlihat begitu mesra, lalu Bobby dan wanita itu keluar keesokan paginya setelah matahari terbit. Semua itu menandakan bahwa wanita itu telah bermalam bersama Bobby di rumah mereka, Dina sangat kesal mendengar perkataan dari pemilik warung tersebut. Namun hanya itulah yang pemilik warung itu ketahui tentang hobi mantan suami Dina selama ini.


Setelah itu Dina pun pergi dan ia merasa geram atas apa yang dilakukan bumi terhadap dirinya ternyata Dina benar-benar tidak mendapatkan sebesar harta dari mantan suaminya. Di dalam taksi Dina memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan harta ataupun kehidupan yang mewah tanpa harus berhubungan lagi dengan Bobby. Bahkan Dina tidak ingin mengemis dari bumi karena ia tidak memiliki uang lagi untuk kehidupannya saat ini.


****


Menepati janji keesokan harinya...


Ayu pun pergi ke cafe depan sekolah miliknya, ternyata di sana Bagas sudah menunggu dan memesankan sepiring camilan untuk Sabrina. Bagas ingin terlihat seperti seorang pria yang siaga untuk seorang wanita dan seorang anak kecil, ia ingin menarik simpati dari Ayu dan Sabrina di saat itu.


"Hai Sabrina semakin hari kamu tambah cantik ya sama seperti mamamu. Om sudah pesan kak makanan dan juga ice cream kesukaan ayah sini duduk dekat Om." Bagas dengan lembut dan mengeluarkan sifat ke bapaknya di depan Ayu dan Sabrina.


"Oh masih ingat kesukaan Sabrina? Om benar-benar pria yang selalu ingat semuanya, kalau Papa Dion Dia sedikit pelupa namun ia sangat sayang dengan Sabrina." ujar anak itu dengan polosnya.

__ADS_1


"Oh ya masa sih lupa dengan kesukaan Sabrina yang manis seperti ini kalau Om yang menjadi Papanya pasti tidak akan pernah lupa." balas dengan sengaja mengatakan hal itu di depan Ayu.


"Sabrina apa yang telah kamu ucapkan apakah itu pantas mengatakan Papa di depan orang yang baru saja kamu kenal?" Ayu segera menegur Sabrina agar tidak memperpanjang pembicaraan yang membuat Bagas dapat mengambil kesempatan.


"Katakan apa keperluanmu Mas, aku dan Sabrina tidak dapat berlama-lama di sini. Karena kami harus kembali dan sudah berjanji dengan Mas Dion untuk keluar bersama sore hari ini. dan mungkin sebentar lagi Mas Dion akan menjemput kami untuk membawa pulang ke rumah." Ayu mulai merasa tak nyaman dengan perkataan Bagas ke Sabrina.


Ayu mulai curiga dan merasa penasaran karena dari ucapan Bagas, pria itu seperti ingin memprovokasi Sabrina untuk lebih dekat dengannya dan sedikit demi sedikit dapat menguasai anaknya. Bagas pun mulai mengutarakan isi hatinya dan sesekali ia meyakinkan Ayu dan juga Sabrina untuk menerima dirinya dalam kehidupan mereka.


Bagas ingin masuk ke dalam kehidupan mereka sedikit demi sedikit lalu mendominasi dan membuat mereka tidak dapat jauh dari dirinya. panjang lebar Bagas menjelaskan Bahkan ia berbelit-belit untuk mengatakannya secara langsung, ayo semakin jenuh mendengar apa yang ia ucapkan dan berpikir bahwa semua itu telah membuang waktunya dengan sia-sia.


Hari ini Dion sekeluarga akan berkunjung ke rumah kakaknya mama mertua Ayu. Disana ada syukuran cucunya yang baru dilahirkan, sehingga semua akan pergi sore itu juga. Sabrina juga akan bertemu keluarga besar dari Omanya disana, semua pada bertanya putri kecilnya Dion dan Ayu.


Mereka berencana akan menginap dan keesokan harinya akan pulang kembali ke rumah mereka. Ayu yang meminta agar mamanya menginap, sebab sudah lama tak dapat berkumpul semenjak papa sudah meninggal. Mama yang tak ingin kemana pun dan hanya duduk di dalam kamar memandangi foto suaminya sambil menangis.


Seluruh keluarga sangat khawatir, dan kali ini Ayu mengatakan ke suaminya agar bisa pergi kesana lebih awal dan berkumpul bersama keluarga mama jadi lebih lama. Dion pun menyetujuinya dan menyelesaikan berkas pekerjaannya lebih awal, agar semua sudah selesai dan tak menjadi pikiran selama berada di Bandung nantinya.

__ADS_1


Mama dan Sabrina sangat senang selama di perjalanan, dan Dion sesekali menatap wajah istrinya yang berada di samping. Dion merasa penasaran dengan raut wajah Ayu yang sedikit gelisah dan murung, dengan lembut Dion bertanya ke Ayu.


"Kau kenapa sayang? Semenjak pulang dan kita pergi wajah mu seperti memikirkan sesuatu? Apa ada yang tertinggal di rumah atau di sekolah?" tanya Bagas ke istrinya.


"Oh, Ayu tidak apa-apa kok mas. Hanya sedikit lelah dan~ ya begitulah." Ayu tak berkata terus terang.


Ayu tak ingin membicarakan hal itu di depan mertuanya dan anaknya Sabrina. Tapi Ayu sudah bertekad permasalahan itu harus ia laporkan ke Dion suaminya agar ada tindakan untuk ke depannya. Kali ini Ayu tak ingin rumah tangganya hancur dan ia harus kehilangan keluarganya lagi, dan kehilangan Sabrina putri kecilnya.


Perjalanan masih berlangsung dan sekitar setengah jam lagi mereka semua akan sampai di Bandung tempat keluarga mama mertuanya Ayu. Dion pun menyuruh Ayu untuk tidur beristirahat sebentar di mobil selama belum sampai ke tujuan. Sabrina sudah tidur dari tadi di pangkuan Omanya, karena hari juga sudah mulai malam dan gelap.


Dion pun sudah sedikit lelah menyetir seharian membawa mobilnya sepulang dari kantor. Namun ia masih sanggup untuk menahan lelah dan kantuknya, mobil masuk ke dalam jalan yang sudah nampak rumah kakak mamanya. Dion menghentikan mobil itu dan membangunkan mama serta Ayu istrinya, semua saudara melihat mobil mereka yang terparkir di jalanan di luar rumah.


"Dion sudah datang! mbak adik kita datang sekeluarga, senangnya hati ini." kakaknya pergi keluar menyambut kedatangan keluarga Dion.


Mereka semua suka cita,mama Dion pun memeluk kakaknya sambil menangis dan merasa sedih. Sebab kali ini adiknya tak ada pendamping lagi, tapi semua orang menyambut mereka dengan pelukan hangat dan kekeluargaan. Ayu yang melihatnya menjadi terharu dan bahagian, mama mertuanya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Dion menggendong Sabrina yang masih tertidur, dan membawanya masuk ke dalam kamar agar lebih nyaman istirahatnya.

__ADS_1


__ADS_2