Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 34


__ADS_3

"Nak Ayu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke mama ya? Anggap mama ini adalah mama kamu juga, dan mama dari dulu sangat ingin memiliki anak perempuan. Tetapi mama saat itu tak bisa memiliki anak yang lain lagi selain Dion, dan sekarang mama malah memiliki putri dan cucu perempuan saat ini." mertuanya menggenggam tangan Ayu.


"Terima kasih ya sayang, sudah berjuang melahirkan cucu mama." Mertuanya terlihat tulus mengatakan itu padanya.


Mata mertuanya berkaca-kaca, dan sangat penuh cinta. Ayu kini memiliki keluarga yang sangat baik sekali kepadanya. Semua itu adalah hasil dari ketabahan Ayu selama ini menjalankan kehidupannya dan kini berubah manis yang dirasakan.


****


Bagas kini sudah cukup lumayan kehidupannya, dan ia sangat ingin membawa mamanya bersamanya. Namun tak dapat semudah itu mengeluarkan Mamanya dari dalam rumah Ferdy kakak tirinya itu. Istrinya Ferdy mengurung mamanya di sebuah gudang, karena pernah ketahuan olehnya Wenny mertuanya itu ingin kabur dan pergi dari rumah tersebut. Sementara Ferdy tidak ada dirumah dan sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota.


Sudah 2 hari Wenny tak di beri makan oleh Istrinya Ferdy, dan anaknya Ferdy juga selalu memukulinya. Mereka sangat kejam memperlakukan Wenny, berjanji memberi makanan setelah selesai bekerja membereskan rumah, nyatanya Wenny tetap hanya mendapat air mineral yang selalu di suguhkan kepadanya. Wenny sudah lemas di dalam kamar gudang itu, ia masih terus berteriak memanggil menantu dan cucunya Agat di bukakan pintu oleh mereka. Terkadang air minumnya habis merek tak mau memberikannya lagi, terpaksa Wenny harus meminum air keran di kamar mandi dalam gudang itu.


"Yeni..., Yen..., tolong keluarkan mama dari sini. Mama sangat lapar dan lemas Yen..." Wenny terus memanggil istrinya Ferdy dengan suara lemahnya.


Namun Yeni dan anaknya sedang asik menonton tv dan tak mendengar suara Wenny yang memanggil dari gudang belakang rumah mereka. Tak beberapa lama, Bagas datang ke rumah Ferdy dan Yeni, ia bermaksud ingin membawa mamanya dari sana dengan cara baik-baik.


Ting, tong...


Ting, Ting...


"Siapa sih hari gini bertamu, malas banget aku melayani tamu yang datang hanya numpang makan dan minum saja kerjanya." Yeni menggerutu dengan wajah kesalnya.


"Sebentar ya sayang, mama lihat dulu siapa yang datang!" ujarnya lagi sambil melangkah meninggalkan anaknya di ruang tv.

__ADS_1


Ting, Tong...


"Iya tunggu! gak sabaran amat sih...!" Yeni bertambah kesal.


Ceklek...


"Oh, kamu rupanya! mau apa datang kesini? mau pinjam uang!" pekik Yeni.


"Atau mau ngemis tinggal disini juga?! Gak ada kamar kosong lagi di rumah ini, mending pergi saja deh kamu dari sini!" Yeni mencoba menutup pintunya dengan cepat.


"Mbak, saya ke sini bukan mau itu semua. Saya hanya ingin membawa mama dari rumah ini!" Bagas dengan tegas berbicara pada Yeni.


"Dimana mama, mbak?! Aku hanya mau mama saja gak ada yang lain!" Bagas kembali menegaskan keinginannya.


Tok,tok,tok...!


"Mbak, buka pintunya mbak! Aku gak percaya kalau Mbak bilang mama gak ada di rumah ini. Mbak...!" Bagas masih menggedor pintu rumah itu.


Lalu Bagas mencoba untuk pergi dan mencari info dari para tetangga yang sering memperhatikan Yeni. Tetangga Yeni memang sangat curiga padanya, mereka pernah melihat Yeni menyeret seorang wanita tua ke dalam gudang belakang samping rumahnya. Ketika para ibu-ibu itu lewat Yeni malah mengatakan bahwa itu adalah kotak barang tak terpakai yang akan di simpan di dalam gudang.


Karena mendengar perkataan itu akhirnya Bagas pun memberanikan diri mas lagi ke dalam rumah Yeni. Ia mengendap-ngendap masuk dari pagar lalu berjalan ke samping rumah untuk menghampiri gudang belakang yang dikatakan para tetangga tersebut. Bagas pun melirik dan melihat keadaan, apakah dirinya aman dan tidak ketahuan oleh Yeni. akhirnya ia pun sampai di depan gudang yang dikatakan oleh para tetangga Yeni tersebut, dengan cepat Bagas ingin membuka pintu itu Namun ternyata pintu itu dikunci dan ia tak memiliki kuncinya.


"Yeni..., Yen, tolong mama Yen..." Wenny kembali berbicara namun suaranya semakin kecil dan hampir tak terdengar.

__ADS_1


Bagas mencoba membukanya dengan memukul gemboknya dengan batu besar disana, tapi tak bisa juga terbuka. Dengan sekuat tenaga Bagas merusak gembok itu lagi dan mendobrak pintunya, akhirnya berhasil terbuka juga. Bagas terkejut melihat seorang wanita paru baya lemas tergeletak di lantai yang dingin tanpa alas dan pakaiannya basah kuyup semua.


"Mama..?!" Bagas terkejut dan ternyata benar itu adalah mamanya.


Ibu-ibu para tetangga datang menolong Wenny dan Bagas dengan menerobos masuk ke dalam rumah Yeni yang pagarnya sudah terbuka. Yeni merasa heran setelah mendengar keributan dan mengintip dari jendela rumahnya. Dengan cepat Yeni membuka pintu rumahnya dan keluar dari dalam untuk menyergap mereka semuanya.


"Hai, mau apa kalian masuk ke rumah orang tanpa permisi dahulu?!" Yeni mengomel dan menghardik para ibu-ibu itu.


"Bu..., astagfirullah. Dasar biadab kamu Yeni, mertua mu sendiri kau sekap dalam gudang dan ia hampir mati karena lemas tak kau beri makan. Ayo ibu-ibu bantu ibu ini bawa masuk ke dalam mobil bapak itu." Mereka bergotong royong mengangkat Wenny dan memasukkannya ke dalam mobil Bagas.


"Tak kusangka kau perlakukan mama ku seperti ini! Ingat kau punya anak yang nantinya akan mengasuh mu setelah kau sudah tua." Bagas memarahi Yeni.


"Bila sampai kenapa-kenapa sama mama, aku akan buat perhitungan dengan kalian semuanya!" Bagas pun pergi dari rumah itu.


Ia ingin membawa mamanya ke rumah sakit secepatnya, karena keadaannya sudah sangat parah, bahkan sudah tak sadarkan diri lagi. Bagas pun berterima kasih kepada para ibu-ibu yang sudah menolongnya membantu Wenny mamanya.


"Ibu-ibu terima kasih atas bantuannya, dan saya harus segera pergi membawa mama saya sekarang juga ke rumah sakit. Terima kasih semuanya." Bagas pun pergi menginjak gas mobilnya dan pergi langsung ke rumah sakit terdekat. Mobil melaju dengan cepat dan hati Bagas sangat takut dengan kondisi mamanya saat ini, sampai di rumah sakit, Bagas langsung memanggil suster jaga di ruang UGD agar mamanya segera di periksa oleh mereka.


Hati Bagas cemas, karena kondisi jantung dan nafasnya saat ini tidak normal. Wenny mulai sadar tapi kesadarannya tidak sempurna, ia masih mengambang dan memanggil nama Yeni meminta pintu gudang itu di buka.


"Yeni..., Yen..., tolong mama Yen..." Wenny masih terus mengucapkan itu.


Bagas menjadi sedih dan ia menggenggam tangan mamanya dan selalu di samping mamanya terus. Bagas berjanji akan membuat perhitungan dengan Yeni dan Ferdy kakak tirinya itu, yang sudah membuat mamanya jadi begitu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2