Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
55


__ADS_3

Malam itu Bagas tidak pulang kerumahnya, dan semua orang cemas sebab ponselnya tak dapat di hubungi. Dina juga sangat cemas menanyakan ke semua teman serta rekan karyawan di kantornya Bagas, tapi tak seorang pun yang tahu dimana keberadaan Bagas saat itu.


Malam itu Bagas melarikan diri untuk membuang semua rasa bersalahnya, dan juga ingin sendiri meratapi kondisi wanita yang ia tabrak tanpa sengaja olehnya. Berhenti di pinggir pantai, menatap layar ponsel dengan background foto Ayu, ia menangis dan berteriak disana.


"Ayu maafkan aku, bukan maksud ku~," Bagas terdiam dan tak bisa berbicara lagi.


"Semua ini salah Dion! Dia harus bertanggung jawab dengan kejadian ini. Aku benar-benar menginginkannya mati dan Ayu menjadi milikku saat itu." Bagas masih terus menyalahkan Dion di hatinya.


****


Sekarang Ayu sudah berada di kamar rawat inap nya, butuh 3 jam lebih Dion menunggu Ayu keluar dari ruang operasi itu. Dan sekarang ia masih belum sadarkan diri saat ini, kepalanya begitu banyak penuh jahitan. Janin dalam kandungan Ayu tak dapat di selamatkan karena Ayu terjatuh begitu keras mengakibatkan rahimnya robek dan pecah. Dokter sudah mengangkat rahimnya, dan kini Ayu tak bisa hamil kembali.


Dion juga sudah tahu akan hal itu, dan ia dapat menerima semuanya tetap mencintai Ayu seperti sebelumnya tanpa menguranginya sedikit pun. Dion duduk di samping Ayu yang masih belum sadarkan diri, ia meraih tangan istrinya dan menggenggam erat sambil menahan air mata. Dion sedikit terisak menangis menyesali apa yang terjadi pada Ayu dan calon anak mereka.


"Maafkan mas sayang, yang gak bisa menjaga kalian berdua. Mas sangat menyesali kejadian ini sampai menimpa diri mu dan, hiks, hiks," Dion tak sanggup mengatakannya lagi.


Ia pergi keluar dari ruangan itu, baginya di dalam sangat membuatnya begitu pilu. Dion pun duduk di kursi luar ruangannya, mengambil ponsel dari sakunya teringat akan mamanya yang di rumah bersama Sabrina.


"Tring...


"Tring...


"Ya hallo?" ucap mamanya.

__ADS_1


"Ma, ini Dion. Ayu sudah di kamar rawat sekarang, tapi ia masih belum sadarkan diri. Dan..." Dion terdiam.


"Dan kenapa nak? Ada apa?" mamanya bertanya dan mengerutkan dahinya.


Dion tak langsung menjawab pertanyaan mamanya, keadaan hening sejenak, dan hanya terdengar suara Isak tangis dari Dion di ponselnya. Akhirnya mamanya tersentak dan menyadari arti tangisan Dion putranya tersebut.


"Baiklah nak, mama tahu. Kalau memang sudah tidak bisa di selamatkan lagi, itu sudah takdir garis kehidupan. Lain kali Allah akan memberikannya dan menitipkan buah hati di rahim Ayu." ujar mamanya yang tak mengerti sepenuhnya.


"Tapi ma, itu sudah tak akan terjadi lagi. Dokter sudah mengangkat rahim Ayu yang rusak akibat kecelakaan itu. Rahimnya robek dan harus segera di angkat, karena akan fatal bila terus di biarkan dan tidak di lakukan apa pun saat itu." Dion jadi tak tahan harus menutupi rasa sedihnya.


"Dion tak tahu harus bagaimana memberi tahunya nanti ke Ayu, setelah ia bangun dan sadar dari biusnya." ucap Dion yang semakin pecah rasa kesal dan bersalahnya kepada Ayu.


Mamanya terkejut dan hanya diam sejenak, wanita paruh baya itu tak menyadari dampaknya akan sangat separah itu ke kehidupan Ayu dan putranya. Ponsel pun terputus, mamanya Dion diam mematung di sana. Lalu ia teringat dengan Sabrina cucunya yang masih terlelap tidur di dalam kamar, wanita itu melangkahkan kakinya dan mendekati sabrina.


"Entah apa yang Sabrina pikirkan dan rasakan bila ia tahu, adiknya sudah tiada saat ini." dalam hati Oma sangat khawatir.


****


Keesokan harinya...


"Hoa..., tin....!" Bagas terkejut mendengar klakson mobilnya sendiri.


Pria itu tersentak lalu membuka matanya melihat sekeliling di mana ia berada Ia pun merasa heran lalu berpikir sejenak ketika melihat pemandangan yang ada di depannya begitu banyak air dan juga pohon kelapa.

__ADS_1


"Mengapa aku ada di sini? apakah tadi malam aku tidak pulang dan hanya tidur di dalam mobil?!" bagus kembali mengingat dalam lamunannya apa yang terjadi pada dirinya.


Dengan cepat ingatannya mengingat kejadian yang telah terjadi, di saat ia menabrak Ayu lalu pergi melarikan diri ke pantai tersebut. akhirnya ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan merasa kesal akan peristiwa itu menimpa padanya.


"Sial, kau Dion! saat ini harus aku yang menanggung semuanya sendirian, sementara pria itu pasti sedang menunggu di samping Ayu dan menjadi seorang pahlawan di depannya. Ia menjadikan dirinya suami yang sangat berarti bagi Ayu, sedangkan aku sebaliknya harus menjadi sebuah pelaku yang saat ini mungkin Tengah dikejar oleh polisi. Bagaimana aku harus pulang saat ini, dan yang paling penting bagaimana aku dapat membalas kembali yang telah terjadi saat ini? karena seharusnya dialah yang tertabrak dan mati di sana!" Bagas benar-benar sangat dendam kepada Dion Bahkan ia tidak menyadari kesalahan yang telah ia lakukan sebab hatinya yang masih belum dapat menerima Ayu dan diam berbahagia sampai saat ini.


Pria itu pun mencoba untuk kembali ke rumahnya, dan untuk dua hari ia tidak masuk ke kantornya. Bagas pun menelpon atasannya dan mengambil cuti selama 2 hari dengan alasan ia sedang sakit, sehingga ia tidak akan keluar rumah dan melihat perkembangan Apa yang terjadi sambil memikirkan rencana untuk kembali mencoba membunuh Dion dan kembali bersama Ayu.


"Brem....


"Tin, tin...!


Bagas telah sampai di depan pagar rumahnya kebetulan Dina sedang berada di teras duduk sambil menikmati teh dan membaca majalah di sana. Dina melihat ke arah keluar lalu ia sumringah melihat mobil Bagas berhenti untuk menunggu pagar rumahnya dibuka.


Dina meletakkan majalahnya, lalu berlari kecil dengan senang membukakan pagar rumah tersebut.


Dina pun menyambut kepulangan Bagas seolah-olah Ia adalah istri Bagas saat ini, tersenyum berdiri dan menyambut kedatangan pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk membawa tas yang ada di tangan Bagas.


"Kenapa kamu pulang pagi Mas? apakah kamu semalam lembur? aku sangat khawatir sampai-sampai tidak dapat tidur tadi malam." Dina mencoba ingin memeluk Bagas, namun pria itu menepis tangan Dina dengan kasar.


"Kamu kenapa mas? Aku hanya ingin menyambut mu saja, tapi kamu malah begitu sama aku." Dina memasang wajah sedihnya.


Bagas yang berjalan melangkahkan kakinya terhenti, lalu ia teringat masih membutuhkan Dina di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2