
Dion di rumah sakit...
Saat itu kondisi papa tiba-tiba memburuk, mama sangat sedih saat itu papa harus diperiksa kembali dan mereka semua disuruh keluar dari ruangan tersebut. Dion memeluk mamanya yang sangat sedih melihat suaminya kejang dan nafasnya tersengal, detak jantungnya juga melemah. Ayu pun berdoa dalam hatinya, mama mertuanya juga berdoa agar suaminya dapat tertolong.
"Dok, jantung semakin melemah dan jika begini terus maka akan fatal akibatnya." suster itu sedikit ketakutan.
"Tit, tit, tit...........
"Dokter! jantung pasien mulai berhenti, bagaiman ini dok?!" tanya suster tersebut.
"Ambilkan saya alat pemacu jantung! Semoga pasien masih bisa di selamatkan." ucap Dokter itu dan sedang berusaha.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tit...
Tit...
Tit...
"Syukurlah, jantungnya pasien sudah mulai berdetak kembali, tapi kita masih terus pantau dan tolong selalu cek keadaan pasien setiap saat." kata dokter itu kepada para suster yang ikut dalam menolong pasien itu.
__ADS_1
Ceklek....
"Dokter bagaimana dengan papa saya?" Dion menghampiri dokter yang keluar dari kamar itu.
Dion merangkul mamanya di samping, Sabrina bersama Ayu hanya berdiri di belakang sedikit jauh dari Dion dan mama mertuanya. Ayu tak ingin Sabrina terlalu mendengar berita tentang Opa nya saat itu.
"Pak Dion, pasien saat ini masih dalam pantauan kami. Tadi sempat jantung pasien tak berdetak dan kami sudah mengatasinya, tapi kami belum bisa pastikan ini akan baik-baik saja. Jadi alangkah baiknya kita banyak berdoa saja, dan untuk sementara waktu anggota keluarga tak bisa menjenguk terlalu ramai masuk ke dalam, hanya di perbolehkan satu orang saja. Dan itu pun harus menjaga kondisi pasien agar tak banyak pikiran atau membuatnya panik secara tiba-tiba." ungkap dokter itu menjelaskan.
Hati Dion dan mamanya bercampur aduk saat ini, terutama mamanya yang takut kehilangan suaminya. Mama pergi ke musholla yang ada di rumah sakit itu, kebetulan mereka belum pada ibadah. Dion, sabrina dan mama memanjatkan doa untuk kesembuhan papanya, sedangkan disana ada Ayu yang menunggu papa di dalam kamar tersebut. Setelah mereka selesai dan kembali, baru lah Ayu yang gantian beribadah saat itu.
Hari ini memang benar-benar begitu di uji keluarga mereka, mama sangat sedih sekali melihat suaminya terbaring lemah disana. Dion mencoba menguatkan mamanya agar tetap tegar apa pun yang terjadi pada papanya.
"Ma, ini semua kehendak Allah. Jangan mama terus menangis dan tidak mau makan, nanti mama jatuh sakit dan kalau papa mengetahuinya pasti akan sedih sekali." Dion masih memeluk mamanya.
"Ingat tadi ucapan dokter ma, jangan membuat papa berpikir yang macam-macam, nanti akan fatal akibat ke papa." Dion pun mengingatkan ke mamanya.
"Sin, bagaimana bapak yang kalian tangani itu? Sebenarnya bagaimana kondisinya tadi?" temannya bertanya.
"Aku sedikit kasihan dengan bapak itu dan keluarganya, kami sempat kewalahan di dalam sebab jantung berhenti secara tiba-tiba dan nafas sudah tak ada. Dokter Gunawan sempat kelelahan menggunakan alat pacu jantung, berulang kali tetap gagal juga." Sinta menjelaskan kepada temannya.
"Terus bagaimana selanjutnya? Apakah bapak itu bisa sembuh Sin?" masih ingin tahu.
"Entahlah, aku juga gak tahu akan hal itu. Biar bagaimana pun aku berdoa untuk kesembuhannya, dan Allah lebih tahu untuk para hambanya. Aku pun sangat perihatin dengan keluarga bapak itu, semoga mereka kuat dan tabah menghadapi apa pun yang terjadi." Sinta segera menghabiskan makan siangnya dan kembali berjaga di hari itu.
Ayu pun kembali berjalan normal setelah tadi sempat jalannya melambat karena ia ingin tahu tentang apa yang di bicarakan oleh suster tersebut itu adalah papa mertuanya. Ayu merasa sedih mendengar mereka berbicara, firasatnya mengatakan seakan ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarga mereka.
__ADS_1
Ayu berjalan dengan cepat dan tanpa terkendali, ia ingin segera sampai di ruangan papa mertuanya, tapi tiba-tiba ia menabrak seseorang disana.
"Bugh!
"Auh, sakit sekali." Ayu meringis kesakitan.
"Maafkan saya Bu, tak memperhatikan jalan dan sedang terburu-buru." ucap wanita itu kepada Ayu.
"Tidak apa-apa kok Bu, saya juga salah..," suara Ayu mengecil.
"Oh, kamu rupanya! Kalau jalan itu matanya melihat donk! Apa kamu sekarang sudah buta ya semenjak di tinggalkan Bagas? Hah?!" wanita itu malah mengomel kepada Ayu.
"Maaf kamu siapa ya? saya gak pernah kenal kamu, dan kenapa tahu tentang saya dan Bagas?!" Ayu merasa heran dan bertanya langsung kepada wanita itu.
"Sudahlah, lain kali saja kalau mau perkenalkan diri. Anak ku lebih penting dari pada kamu yang gak penting dari kehidupan ku saat ini." ujar Yeni.
Yeni pun pergi mengejar suster yang membawa anaknya dengan kursi roda, anaknya tertabrak motor saat main bola di jalanan. Dan Yeni tak tahu bahwa anaknya sudah main ke jalan, sebab sibuk menelpon Ferdy suaminya yang sudah beberapa hari tak pulang-pulang juga.
Anak Yeni di tangani, begitu banyak luka dan kepalanya pun mengeluarkan darah terbentur ke aspal jalanan. Sementara Ayu bingung dengan Yeni yang tahu akan identitas dirinya yang pernah menikah dengan bagas. Ayu terus berjalan dan menghampiri Mama mertuanya yang sedang memangku Sabrina yang telah tertidur di atas kursi.
Mertuanya menyuruh Ayu dan Sabrina pulang saja, dan mereka bisa kembali lagi besok ke rumah sakit itu. Akhirnya Dion pun mengantar mereka pulang ke rumah, lalu kembali lagi ke rumah sakit segera. Ayu yang di rumah merasa cemas terus memikirkan papa mertuanya, namun kasihan Sabrina yang sampai tertidur menunggu disana.
malam harinya...
Dari ke jauhkan Bagas melihat Ayu yang masih duduk di teras atas kamarnya dengan baju piyama. Terlihat wajah Ayu sangat cemas, dan Bagas menatap dari dalam mobilnya diam-diam, semua itu ia lakukan karena sangat merindukan Ayu.
__ADS_1
"Aku tak menyadari kalau ia benar-benar menawan, dan lain dari wanita yang pernah aku temui. Aku sangat menyesal, sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya ya Allah." Bagas menangis sebab ia hanya dapat memandangi dari jauh rasa rindu itu pun tak terobati.
Ibam sepupunya Aisyah juga masih belum bisa melupakan Ayu, sampai sekarang ia masih terus memandangi foto lama mereka saat dimasa kuliah dulu. Ayu yang dulu di foto sampai sekarang sudah lebih dari 10 tahun wajahnya tak ada yang berubah. Namun Ibam tak seberani Bagas yang ingin bertemu dan mengajak kembali padanya.