
Argh?!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Prang!
Bagas memukul meja kantornya dan mencampakkan barang-barang yang ada di sana. Dia berteriak mengamuk di dalam ruangan itu seperti orang gila, hidupnya saat ini benar-benar hancur. Apabila hal itu diketahui oleh Papanya pasti akan menjadi bencana dan penyakit jantung Papanya akan kamu kembali. Bagas apa mencoba untuk mencari jalan, dan menyelesaikan permasalahan yang ada di kantornya tersebut agar tidak menjadi kebangkrutan. Dan Bagas juga akan merahasiakan sementara permasalahan yang ada di kantornya saat ini dari Papanya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Bulan depan Ayu akan ke Jakarta, semua pimpinan yang ada di kantor cabang segera datang ke Jakarta untuk mengadakan rapat dan melihat perkembangan dari kantor cabang mereka. Ayu sudah memberitahu kepada Rani bahwa dirinya akan pulang bulan depan. Ia akan tinggal selama 2 hari di Jakarta lalu keesokan harinya ia akan berangkat kembali ke Makassar.
Di saat Rani mengetahui akan hal itu ia berinisiatif untuk memberitahu kepada Dion atas kepulangan Ayu nanti. Rani berpikir sudah saatnya untuk Ayu mengetahui dan menjemput kebahagiaannya, sepupunya Rani itu merasa sangat sayang kepada Ayu sehingga ia berinisiatif untuk menyatukan mereka berdua. Akan tetapi semua itu tergantung kepada Ayu mau menerimanya atau tidak. Namun Rani berharap Ayu akan dapat membuka hatinya dan menerima Dion yang benar-benar mencintainya.
Hari berganti Hari seiring jalannya waktu Wenny Mamanya Bagas mengambil kesempatan setelah mengetahui adanya permasalahan di kantor yang sedang ditangani oleh Bagas. Wenny dengan sengaja memberitahu kepada Pak Rahmat yaitu suaminya, atas permasalahan yang ada di kantor yang sedang ditangani oleh Bagas, Ia pun segera memberitahu permasalahannya dan terlalu membesarkan permasalahan itu dengan menyalahkan Bagas yang tidak pantas dalam mengelola kantor milik Papanya.
Seketika penyakit Pak Rahmat pun kambuh ia mengejang dan memegang dadanya yang sebelah kiri Weni untuk sesaat hanya diam saja dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Malah dengan sengaja tanpa mengambil obat ataupun memberi pertolongan kepada Pak Rahmat saat penyakitnya kambuh. Wenny masih terus berbicara dan mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat Pak Rahmat semakin kesakitan mendengar apa yang dikatakan oleh Wenny istrinya itu.
Dengan menganggap kesempatan itu Weni mengeluarkan kertas yang sudah ia sediakan lalu membuat cap jempol di jari suaminya agar dapat menempel ke kertas tersebut. Sebagai pembuktian bahwa Pak Rahmat telah menyetujui isi dari berkas tersebut. Berkas itu yang berisi tentang pengalihan kepemilikan perusahaan, serta aset yang dimiliki oleh Pak Rahmat jatuh ke tangan Ferdi, anaknya Weni dari suaminya yang dahulu.
Pak Rahmat sangat terkejut melihat perilaku dari istrinya dan pada saat itu juga ia tidak dapat menahan lagi rasa sakit pada dada kirinya seketika Ia pun menghembuskan nafas terakhir di dalam ambulan masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Dalam hati Weni sangat gembira karena sudah dapat surat pernyataan yang disetujui oleh Rahmat suaminya melalui dirinya sendiri.
Pada saat itu barulah Wenny menelpon Bagas dan memberi kabar duka itu kepadanya, dengan tangan yang gemetar dan suara yang terbata-bata Bagas merasa tak percaya bahwa Ia mendapat kabar Papanya sudah tiada dari mamanya sendiri. Bagaikan petir di siang bolong ponsel yang bagus pegang pun jatuh ke lantai tangannya terkulai lemas dan dirinya pun terduduk di atas kursi di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Papa telah meninggalkanku bagaimana aku harus menjalani hidup ini dan mengelola perusahaan ini tanpa adanya papa."
"Aku masih tidak percaya kalau Papa pergi dengan begitu saja, padahal sore ini aku bermaksud untuk melihat keadaan Papa namun bukan begini caranya." Ujar Bagas dalam hatinya.
Dengan cepat bahkan segera pergi dari kantor menuju ke rumah Papanya, Bagas masih belum mengetahui bahwa semua itu adalah ulah mamanya sendiri, yang ingin mendapatkan semua aset dan juga warisan tanpa memberikannya sedikitpun kepada Bagas. Di saat Bagas sudah sampai di rumah, lalu terdengar suara tangisan seorang wanita yang begitu menyayat hati. Bagas pun berjalan masuk ke dalam rumah melalui pintu depan dan menghampiri mamanya yang sedang menangis di samping jenazah Papanya.
"Bagas papamu telah meninggalkan Mama, sekarang mama sendiri, bagaimana dengan hidup Mama nanti."
"Mama tinggal dengan siapa Bagas Mama tidak ingin hidup lagi Mama ingin ikut dengan papa..., hiks, hiks..." Weni memainkan perannya begitu sempurna.
Padahal di dalam hatinya ia sedang tertawa dan merasa puas telah mendapatkan surat yang dicap jempol oleh Rahmat suaminya tersebut. Namun dirinya harus tetap berpura-pura sedih agar tidak ada yang curiga terutama Bagas anaknya. Ferdi pun hadir di sana namun Ia hanya memantau dari jauh dan tidak mendekat sama sekali, kali ini akting Weni di depan jenazah Pak Rahmat dan di depan seluruh para pelayan sangat luar biasa. Begitu banyak pelayan yang merasa sedih dan juga simpati kepada dirinya, balas pun menangis dan merasa tak percaya namun setelah melihat jenazah apanya Ia pun yakin ternyata Papanya sudah tiada.
Bersambung...
__ADS_1