
"Hai sayang, apa kau masih merindukan ku?" Donita memeluk Ferdy dari arah belakang.
Ferdy yang sudah minum dari tadi pun membalas mencium pipi Donita, mereka tampak begitu mesra dan menikmati pertemuan itu. Donita langsung berjalan begitu manja duduk di samping Ferdy dan menyandarkan tubuhnya. Malam itu mereka menghabiskan dengan minum bersama dan bermesraan di bar Casandra itu.
Sementara Yeni menangis di rumah kesal karena Ferdy meninggalkannya begitu saja setelah memukul pipinya. Yeni juga marah kepada Bagas, sebab semua itu adalah penyebab Bagas sehingga Ferdy memukulinya dan pergi acuhkannya.
****
5 Tahun kemudian...
"Papa..?!" Sabrina memanggil papanya.
"Ya Sayang sebentar, papa sedang memakai dasi." Dion menjawab panggilan anaknya.
"Sayang kau cantik sekali pagi ini. Dan.., hari ini juga harum sekali, aku jadi..." Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu.
Tok, tok, tok, papa... Sabrina sudah selesai. Nanti Sabrina tunggu papa di mobil saja ya pa.." Sabrina membuat Dion tak melanjutkannya.
"Hem, Sabrina membuat kita tersadar bahwa hari harus pergi bekerja." Dion tersenyum.
"Dan kau jangan menggoda ku lagi, karena.. apa ya?" Ayu pun pergi meninggalkan Dion begitu saja di dalam kamarnya.
"Dasar kau ya, lihat saja nanti ketika kau kembali dari kantor. Mungkin sikap mu akan berubah manja pada ku dan tak akan mau pergi dari pelukan ku." ujar dalam hati Dion.
Saat ini Dion sudah bekerja di perusahaan kecil milik papanya, dan sekolah kini Ayu yang mengurusnya. Setiap pagi Ayu dan Sabrina di antar ke sekolah oleh Dion, yang sekalian berangkat kerja ke kantor milik papanya. Tadinya kantor itu milik papa dan temannya mereka berdua mengelola sampai sekarang berkembang pesat. Sehingga mereka berdua berinisiatif untuk membagi kantornya dan mengambil milik mereka masing-masing. Akhirnya papa menyerahkan kepada Dion untuk di kelola karena papa sudah sangat tua untuk menjalankan perusahaan saat ini.
Kini Bagas di suruh atasannya untuk pergi ke perusahaan ****, dan atasannya ingin perusahaan mereka dapat bekerjasama dengan perusahaan tersebut. Sehingga perusahaan mereka dapat menanam saham dan ikut keberuntungan dari perusahaan itu.
Bagas pun mengerti, atasannya itu memberikan beberapa berkas untuk ia baca dan sampaikan ke perusahaan **** yang mereka targetkan. Setelah selesai jam makan siang, Bagas pun datang ke gedung perusahaan milik papanya Dion tersebut. Mereka pun bertemu disana, dan ternyata Ibam sepupunya Aisyah juga bekerja disana. Ibam sendiri di rekrut oleh Dion sebagai orang kepercayaan dan menggantikan Dion untuk mengunjungi klien-klien bisnisnya yang ada di luar kota atau luar negri.
__ADS_1
Tok, tok, permisi pak Dion. Ada pak Bagas dari perusahaan *** ingin bertemu dengan bapak, dan mereka sudah membuat janji." ucap sekretaris Dion mengantar Bagas ke ruangan Dion.
"Oke Sherly persilahkan pak Bagas masuk segera." ujar Dion dengan lembut.
"Baik pak. Silahkan pak Bagas, pak Dion sudah menunggu anda di dalam." Sherly pun mempersilahkan.
"Terima kasih Bu Sherly," Bagas membungkukkan badannya sedikit kepada Sherly.
Drap
Drap
Drap
Bagas berjalan ke arah meja Dion dan berdiri disana, Dion yang masih sibuk menandatangani berkas langsung mempersilahkan Bagas untuk duduk di kursi hadapannya.
"Dion suaminya Ayu?!" Bagas terkejut melihat yang ada di hadapannya.
"Hai pak Bagas, apa kabar anda saat ini?" Dion berdiri dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya baik pak Dion, saya tak menyangka kita akan bertemu di sini ya?" Bagas pun menyambut tangan Dion dan bersalaman.
Mereka pun berbicara tentang kerjasamanya dan Dion setuju setelah mendengar penjelasan dari Bagas. Akhirnya mereka pun sepakat untuk bekerjasama antara perusahaan mereka. Bagas sedari tadi melirik foto yang ada di meja kantor itu, dan ia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Dion.
"Maaf pak Dion itu putri bapak? Ia begitu cantik sama seperti mamanya." Bagas terus memandanginya.
"Oh iya pak Bagas, itu putri saya dan Ayu. Mereka berdua memang sangat cantik, bagi saya mereka adalah bidadari di rumah saya." ujar Dion menjelaskan.
Bagas langsung terdiam dan merasa tidak senang mendengar ucapan Dion tersebut. Bagas merasa Dion sedang menyindir dirinya, padahal Dion tak bermaksud seperti itu kepada Bagas. Setelah itu Bagas pun berpamitan untuk kembali ke kantornya kembali, dengan wajah kesal ia pergi begitu saja tanpa berjabat tangan lagi dengan Dion.
__ADS_1
"Aku merasa kalau anak itu adalah anak ku, ketika Ayu bercerai dari ku pastilah ia sedang hamil anak ku dan Dion menikahinya. Ya aku yakin itu." Bagas sangat percaya diri.
Dion menatap foto istri dan anaknya dan membuatnya kembali bersemangat kembali, Dion berencana akan membawa sesuatu untuk mereka berdua ketika akan pulang kerumah. Membawakan sesuatu yang mereka sukai pasti akan membuat mereka bahagia pikir Dion. Dion pun kembali menandatangani berkas yang tadi sempat tertunda, berkas itu akan ia berikan ke Sherly sekretarisnya.
Sebentar lagi sudah waktunya untuk pulang dan Dion segera menyiapkannya hari itu juga. Sherly juga menunggu dan membantu Dion untuk menyusun semua berkas ke dalam map nya masing-masing.
Sekarang sudah pukul 17:30, Dion sudah dalam perjalanan pulang dan sudah menyiapkan semua kejutan yang ia rencanakan. Dion juga tadi sempat melewati sebuah butik muslimah dan mampir membelikan satu set gamis beserta kerudungnya untuk Ayu, dan mukena baru untuk Sabrina. Tak lupa membeli martabak telur kesukaan mereka berdua.
Brem...
Ayu mendengar suara mobil Dion dari dalam rumah, segera Ayu menuju dapur lalu menyiapkan minuman untuk suaminya. Sabrina berlari membuka pintu rumahnya, menyambut ke datangan papanya yang pulang dari kantor saat itu.
"Papa...!" Sabrina melambaikan tangannya di depan pintu rumahnya.
"Assalamualaikum putri papa yang manis.., dimana mama sayang?" Dion mencari Ayu istrinya.
"Iya mas, ada apa?" Ayu pun menghampiri Dion dan meletakkan minuman yang ia bawa.
Dion tanpa berkata memberikan sekotak martabak telur kepada mereka berdua, Sabrina tersenyum dan sangat senang melihat ada makanan yang sangat ia sukai di hadapannya.
"Papa membelikannya untuk kita pa?" tanya Sabrina sambil menatap ke arah papanya.
Dion mengangguk dan tersenyum, lalu ia memberikan sebuah tas ke Ayu, dan sebuah tas ke Sabrina. Mereka merasa heran karena belum tahu apa isi dari kantong tas itu.
"Diminum airnya mas." ucap Ayu.
"Ini apa pa?" tanya Sabrina lagi yang penasaran.
"Kalau kamu penasaran, ya di buka donk sayang..., itukan buat Sabrina dan mama." Dion berbicara sambil meneguk air minum yang telah di hidangkan oleh istrinya.
__ADS_1
Mereka pun membuka dan melihatnya, Sabrina sangat senang mendapatkan mukenah lucu dari papanya, ia pun memberi tahu ke mamanya bahwa itu warna kesukaannya. Dion memberikannya kejutan sebab ia sudah lancar membaca dan mengaji di sekolahnya, bahkan gurunya juga mengatakan Sabrina anak yang cerdas.
BERSAMBUNG...