Menikah Karena Amanah

Menikah Karena Amanah
Bab 53


__ADS_3

"Oh, cucu Oma kok nangis? siapa yang akan meninggalkan kamu sayang...? gak ada yang akan meninggalkan mu kok, ada oma." mencoba menghibur Sabrina.


Sabrina masih terus menangis dan memeluk erat Omanya, pekerjaannya sudah selesai kini Sabrina tertidur dan di temani oleh Omanya. Mama mertua Ayu beberapa kali berpikir tentang perkataan yang diucapkan oleh cucunya tadi, tapi tak ada yang lain dan semua biasa saja. Ayu tetap bersikap lembut dan berkata manis dengan anaknya sendiri, bahkan tadi Ayu tak ada marah kepada Sabrina.


****


3 Bulan sudah berlalu...


Usia kandungan Ayu sudah memasuki 4 bulan dan ia sudah kembali ke aktifitas semula. Ayu selama ini di rumah saja sangat bosan dan tak melakukan apa-apa, sebab mertuanya dan suami melarang melakukan apa pun. Apa lagi semenjak mertuanya tahu kalau ia sedang mengandung saat ini.


Semua orang pada rindu dengan Ayu, terutama Bagas yang setiap hari mencari-cari keberadaan dirinya di sekolah. Tapi karena sudah tak nampak, Bagas pun fokus ke pembukaan perusahaan yang sudah ia miliki. Sekarang Bagas merintis kembali membuat perusahaan milik almarhum papanya berjaya lagi.


Siang itu Bagas berencana mencoba lagi ke sekolah untuk mengetahui keberadaan Ayu disana. Kebetulan sebelum ke sekolah ia sudah berjanji akan bertemu dengan Dion tentang mengenai kerjasama dan ia ingin perusahaannya join ke perusahaan Dion yang sudah ternama.


Ketika ia disana jam sudah menunjukkan pukul 11:30 siang, tapi Bagas masih terus berusaha dan berpikiran positif. Ia tetap melangkah masuk ke gedung itu tanpa ragu, karena memang sudah berjanji akan bertemu, Bagas pun dengan mudah langsung menemui Dion diantar oleh sekretaris pribadi Dion ke ruangannya.


Tok, tok, tok!


"Ia silahkan masuk!" ujar Dion.

__ADS_1


Ayu melangkah ke arah pintu ruang Dion untuk membukanya, Perlahan berjalan dan membuka pintu itu, dilihatnya ada seseorang yang sangat ia kenal di baliknya.


"Terima kasih ibu, maaf mengganggu ada seseorang yang sudah berjanji dengan pak Dion. Dan saya membawanya kemari." sekretarisnya memperkenalkan Bagas.


"Baiklah suruh ia masuk karena pak Dion sudah menunggunya." ujar Ayu sambil melangkah meninggalkan mereka di depan pintu itu.


"Baik Bu, silahkan masuk pak Bagas ?!" sekretaris itu menunggu Bagas melangkah masuk dan menutup pintunya kembali.


Bagas memperhatikan perut kayu yang sudah terlihat mulai membesar Ayu berjalan mendekati sofa yang ada di ruangan Dion suaminya. Ayu pun mulai meletakkan dirinya di atas sofa tersebut dalam keadaan duduk ia tidak memperdulikan adanya kedua pria yang ia kenal di dalam satu ruangan dengannya. Ayu bener-bener tidak ingin ikut campur dengan pekerjaan mereka namun Bagas masih terus menatap ke arah Ayu yang semakin hari terlihat semakin mempesonanya.


"Mari silakan duduk pak Bagas senang bertemu denganmu hari ini." Dion mempersilahkan sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


Bagas yang menyadarinya langsung berpaling dari Ayu dan menyambut jabat tangan itu. Dion juga menyadari kalau pembicaraan ini pasti nantinya akan sangat sulit konsentrasi bila ada Ayu yang duduk disana. Akhirnya Dion pun mengajak Ayu untuk masuk ke dalam kamar istirahat agar Ayu bisa menunggu Dion dengan nyaman sambil berbaring dan istirahat.


"Oh, baiklah. Saya bisa menunggu sebentar." Bagas berkata dan memperhatikan Dion melangkah menjauh darinya.


"Sayang, bisa kah kamu menunggu di kamar ku saja? Mungkin ini akan memakan waktu dan sedikit melelahkan bagi mu. Aku tak ingin kau kelelahan dan nanti kenapa-kenapa dengan bayi kita." ucap Dion yang selalu perhatian, mengantarkan Ayu ke kamar di ruang kantor itu.


"Baiklah mas, Ayu juga sedikit mengantuk. Nanti bangunkan bila sudah selesai." Ayu pun melangkah di iringi oleh Dion.

__ADS_1


Suaminya itu membukakan pintu tersebut menunggu Ayu melangkah masuk, setelah itu pintu itu di tutup kembali, dan Dion kembali menemui Bagas. Ternyata Bagas sangat iri sekali dan kesal melihat perilaku Dion kepada Ayu. Ia sedikit kepo dan memperhatikan sedari tadi, langsung sadar dan cepat atur posisi dengan cara mengambil ponselnya dan melihatnya.


"Maaf ya pak Bagas, biasa ibu hamil sangat kelelahan. Jadi harus banyak istirahat, untuk menjaga kondisi bayi dan ibunya dengan baik." ucap Dion yang begitu perhatian.


Bagas merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Dion, yang merasa pria itu terlalu berlebihan terhadap istrinya, dan dengan sengaja memamerkan kemesraan di depan dirinya. Bagas pun mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja tempat ia duduk.


"Ternyata selama ini aku mencari Ayu tidak dapat bertemu dengannya, ia sekarang tengah mengandung anaknya Dion di dalamnya. Ayu Dewi beristirahat di rumahnya, dalam kondisi yang sangat lemah." ucap dalam hati Bagas.


"Kali ini tak akan kubiarkan kehidupan rumah tangga mereka yang manis. Aku benar-benar akan melakukan sesuatu untuk dapat merebut Ayu dari tangan Dion.


kali ini Ayu dan anaknya harus menjadi milik ku bagaimanapun caranya aku akan membawa mereka untuk tinggal bersamaku." Bagas berencana buruk ke kehidupan Ayu. Bu


Dion dan bagus pun kembali membicarakan bisnis mereka, sampai satu jam mereka melakukan pembicaraan itu, telah selesai dan sudah sepakat dengan keputusan yang mereka buat bersama. Hari itu Bagas benar-benar tidak begitu konsentrasi dan terus saja rasa tidak tenang untuk berhadapan dengan Dion. semua itu ada Ayu yang telah menganggap anaknya dia di depan matanya Bagas seperti orang asing lagi Ayu dan Dion saat ini.


"Baiklah Pak Bagas, kalau begitu dengan kesepakatan ini, bulan depan sudah dapat kita resmikan kerjasama antara perusahaan anda dengan perusahaan saya. Sekali lagi saya mengucapkan selamat kepada anda dan semoga kerjasama Kita dapat berjalan dengan sukses tanpa hambatan apapun. Saya juga akan menginvestasi di perusahaan anda untuk membantunya naik dan berkembang." Dion menjelaskan.


"Saya yang seharusnya berterima kasih kepada Pak Dion, dan perusahaan saya nantinya akan maju dan berkembang seperti perusahaan yang ada kelola saat ini. Dengan begitu, kita dapat bersaing dengan bebas dan percaya dalam perusahaan masing-masing." ucap Bagas dengan sengaja.


Dian sedikit tersadar dengan ucapan Bagas yang mengatakan bahwa dapat bersaingan bebas dengan perusahaan masing-masing yang saling berkembang. Dari kata-kata Bagas, ia menyimpulkan bahwa ia telah mengajukan sebuah perang dingin yang tak tahu apa maksud dan tujuan dari atas mengatakan itu kepadanya.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjabat tangan dan Bagas pergi keluar dari ruangan tersebut untuk kembali ke kantornya. Dion tidak mengajaknya untuk makan siang bersama, walaupun hari itu tepat di jam makan siang. Sebab dirinya ingin makan siang berdua dengan istrinya Ayu yang sedang tertidur pulas di dalam ruang kamar kantor tersebut.


Dengan perlahan dia membangunkan istrinya dan mengajak untuk makan siang, di dekat kantornya saja. Ia sengaja memesan makanan yang bergizi dan lebih banyak protein juga sayur, agar kondisi anak dan Ibunya tetap sehat seperti yang dianjurkan oleh dokter kandungan mereka.


__ADS_2