
Vanya begitu kesal ketika dua pria yang begitu ia cintai kini berpihak kepada Maya.
"Maya! Maya! Maya! Apa sih yang membuat semua orang tergila-gila pada nya? Benar-benar menyebalkan!"
•••
Di kamarnya, Abrisam tengah mengobati luka yang terdapat di ujung kening Maya. Meskipun tanpa mengucapkan satu kata pun. Namun Maya dapat melihat kekhawatiran Abrisam kepadanya.
"Kamu yakin tidak ingin ke dokter?" tanya Abrisam yang mengagetkan Maya.
"E... Tidak."
"Baiklah kalau begitu istirahatlah." Abrisam beranjak dari duduknya seolah ingin menghindari tatapan sang istri.
"Mas... Aowhhh..."
"Maya!" Abrisam langsung memegangi kedua lengan Maya saat Maya mencoba turun dari ranjang. Kemudian netranya tertuju pada kaki Maya yang nampak memar.
"Kaki mu, Kenapa tidak bilang kalau kaki mu terluka?"
Maya hanya terpaku menatap Abrisam yang begitu mengkhawatirkan nya sekalipun ia masih marah pada nya.
"Maya..."
"E... Tidak papa, Aku baik-baik saja, Aku hanya butuh istirahat."
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Ya."
"Baiklah istirahat saja, Katakan jika kamu membutuhkan sesuatu."
"Mas Adi mau kemana?"
Abrisam melihat kedua tangan Maya yang memegangi jemarinya. Menahannya agar tidak pergi.
"Aku tau Aku orang baru dalam hidup Mas Adi, Dan sampai kapan pun ikatan Mas Adi dan Vanya akan lebih kuat daripada Aku yang baru mengisi hati mu, Tapi jika di hati Mas Adi ada sedikit saja kepercayaan terhadap ku, Mas Adi bisa mengawasi mereka secara senyap, Dengan itu Mas Adi akan tau siapa yang berkata jujur dan siapa yang berbohong."
"Beristirahatlah," ucap Abrisam melepaskan kedua tangan Maya tanpa menanggapi apa yang Maya katakan.
•••
Keesokan harinya, Alvin yang sejak kemarin tidak melihat Maya keluar dari kamar, Mengintai kamarnya untuk menunggu Ayah mertuanya keluar.
Setelah lebih dari lima belas menit ia menunggu, Akhirnya ia melihat Abrisam keluar dari kamarnya. Kesempatan itu pun langsung di ambil oleh Alvin yang langsung menyusup masuk untuk melihat keadaan mantan istrinya.
Maya yang melihat kedatangan Alvin begitu terkejut karena Alvin begitu nekat datang ke kamar padahal Ayah mertuanya serta istrinya masih berada di rumah. Namun Maya berusaha tenang dan diam-diam meraih ponselnya untuk menyalakan rekaman video di ponselnya.
"Ehm! Al-alvin... Berrani nya kamu datang ke kamar ku?!"
"Sssttt!!! Tenanglah Maya, Aku datang hanya ingin melihat keadaan mu, Sejak semalam Aku tidak bisa tidur, Aku benar-benar menghawatirkan mu Maya."
__ADS_1
Maya terdiam mendengar apa yang Alvin katakan, Ia menatap wajah mantan suaminya yang terlihat benar-benar menghawatirkan nya. Namun ia tidak ingin lagi terbuai apalagi menjadi lemah karenanya.
Dengan tekad yang kuat untuk membuktikan dirinya tak bersalah dan mengembalikan kepercayaan suaminya, Maya pun berpura-pura menyambut baik kedatangan Alvin.
"Aku baik-baik saja Alvin, Tidak perlu khawatir." ucapnya melembut.
"Syukurlah, Aku merasa lega. E... Maya, Jika kamu sudah sembuh Aku ingin bertemu dengan mu, Berdua saja tanpa perlu di ketahui Adiyaksa Abrisam maupun Vanya."
Mendengar hal itu muncul ide Maya untuk menjebak Alvin seperti ia berhasil menjebak Vanya menjadi tertuduh di hadapan Abrisam.
"Baiklah, Aku akan mengabari mu kapan kita bisa bert!emu."
"Baiklah, Kalau begitu Aku pergi sebelum ada orang lain yang melihat ku di sini."
Maya hanya mengangguk melihat Alvin yang bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Setelah itu Maya tersenyum dan melihat rekaman video yang ada di ponselnya. Hanya dengan satu kali tekan, Video itu telah terkirim ke nomer Vanya.
"Tring..."
Vanya yang baru akan memasuki mobilnya menghentikan langkahnya untuk membuka pesan masuk di ponselnya. Netranya langsung terbelalak saat melihat video Alvin yang memasuki kamar mantan istrinya secara diam-diam.
"Maaf Aku harus menyiapkan beberapa presentasi untuk hari ini, Jadi..."
Alvin langsung menghentikan ucapannya saat Vanya memutar tubuhnya dan menatap dirinya dengan kemarahan.
Bersambung...
__ADS_1