Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Pencarian


__ADS_3

Maya yang masih terus menatap kepergian Alvin tersentak oleh tangan Abrisam yang merangkul pundaknya. Ia pun menoleh menatap Abrisam yang melempar senyum tipis kepadanya.


"Jangan membuat ku cemburu," ucap Abrisam yang kini memasang wajah serius.


Maya tersenyum menundukkan kepalanya mendengar apa yang Abrisam katakan.


"Sekarang apa yang kamu tertawaan, Hmm?"


"Tidak, Aku hanya sedang berpikir, Ternyata tanpa kita perlu membalas kejahatan orang terhadap kita, Tuhan sendiri yang akan membalasnya."


"Kamu tidak bersimpati padanya?"


"Bukan Aku tidak bersimpati padanya. Ya Aku merasa prihatin melihat Alvin seperti itu, Tapi biarlah dia merasakan apa yang tengah ia jalani saat ini, Mungkin dengan ini, Dia akan bisa memperbaiki diri."


"Yah, Kamu benar."


"Kenapa sekarang Mas Adi yang diam?" tanya Maya yang melihat Abrisam terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Vanya..."


Maya menarik nafas dalam-dalam dan mengusap punggung Abrisam untuk menguatkannya. Maya tau benar Abrisam pasti tengah bingung memikirkan nasib putrinya.


"Kita bisa melihatnya," ucap Maya.


Abrisam mengangkat wajahnya dan menatap Maya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, Seburuk apapun dia, Dia adalah putrimu, Tidak ada yang bisa merubah itu."


"Kamu sudah benar-benar memaafkannya?"


"Aku sudah memaafkannya dan menerimanya sebagai putri ku, Tidak ada lagi perasaan dendam di hati ku sejak Aku merasakan ketulusan cinta mu,"


Abrisam tersenyum tipis dan mengecup punggung tangan Maya. Ia merasa senang karena Maya benar-benar telah memaafkan Vanya dan menerimanya sebagai putrinya.


•••


Vanya mendatangi rumah sakit ke empat setelah tidak menemukan Andrie di ketiga rumah sakit swasta yang sudah ia datangi.


Ia sedikit kesulitan karena tidak mengetahui apapun tentang Andrie bahkan nama lengkap nya pun ia tidak tau sehingga saat menanyakan dimana Andrie di rawat hanya membuat Vanya bingung karena terdapat beberapa nama Andrie dengan berbeda-beda nama belakangnya.


"Ini semua gara-gara ibu, Jika ibu tidak memukulnya tentu Aku tidak akan kesulitan seperti ini,"


"Tapiii... Kenapa Aku begitu gigih ingin menemuinya, Bagaimana jika bukan Andrie Ayah dari bayiku? Ahhh... Aku tidak peduli, Jika dia bukan Ayah dari bayi ini, Maka dia harus mengatakan dimana Rio tinggal."


Setelah berpikir panjang, Vanya mulai memeriksa satu persatu ruang inap untuk mencari keberadaan Andrie. Namun hingga ia memeriksa begitu banyak kamar, Tidak juga menemukan Andrie.


"Harus kemana lagi Aku mencari?" di dalam keputusasaannya Vanya berniat meninggalkan ruangan tersebut. Namun baru saja memutar tubuhnya ia menabrak seseorang yang duduk di kursi roda.


"Apa kamu tidak punya mata!?" tanya seorang wanita yang mendorong kursi roda tersebut.

__ADS_1


Vanya yang semula menunduk, Mengangkat kepalanya dan melihat wanita muda serta pria yang duduk di kursi roda tersebut.


Netra nya membuat sempurna melihat pria yang duduk di kursi roda tersebut adalah Andrie, Pria yang ia cari sejak dini hari tadi.


"Andrie..." lirih Vanya yang melihat Andrie dengan kepala terbalut perban.


"Heh! Minggir, Sudah nabrak gak mau minta maaf, Sekarang bengong lagi!" ucap wanita itu dengan sinis.


Andrie mengangkat wajahnya dan melihat Vanya di depan nya.


Mereka saling menatap sesaat hingga wanita itu kembali mendorong kursi roda melewati Vanya yang masih berdiri mematung.


"Andrie..." triak Vanya.


Mendengar Vanya meneriakkan nama Andrie, Wanita itu kembali menghentikan langkahnya dan memutar kursi roda itu menghadap Vanya.


"Siapa kamu berrani-berrraninya memanggil nama suami ku?"


"Suami?" batin Vanya.


"Sayang... Siapa dia, Apa kamu mengenalnya?" tanya wanita itu yang mencondongkan tubuhnya menatap wajah Andrie.


Andrie hanya terdiam menatap Vanya yang masih terlihat terkejut.


Bersambung...

__ADS_1


Buat yang belum, Baca juga Novel Author yang lainnya šŸ¤—



__ADS_2