Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Talak


__ADS_3

Sebelum Tidur, Maya teringat dengan keadaan Vanya yang terakhir kali ia lihat masih di rumah sakit, Meskipun awalnya ia begitu membencinya. Namun seiring berjalannya waktu, Rasa benci dan dendam itu telah lenyap dari hatinya karena ketulusan cinta yang Abrisam berikan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Abrisam yang melihat Maya diam termenung.


"Mas... Apa Mas Adi sudah menelfon Vanya?"


"Belum." jawabnya singkat.


"Kenapa tidak menelfon, Apa Mas tidak ingin tau keadaannya, Setidaknya tanyakan dia sudah pulang atau belum."


Abrisam tersenyum melihat Maya yang terlihat sudah benar-benar tulus menerima dan memaafkan Vanya.


"Kok malah tersenyum sih?" dengan manja Maya mengayunkan kaki Abrisam yang malah tersenyum menatapnya.


"Bagaimana Aku tidak tersenyum jika istriku tidak lagi mengingat masa lalunya dan fokus mengurus ku dan calon bayi kita."


"Ya, Karena setelah Aku pikir-pikir, Itu tidak ada gunanya, Dan lagipula Aku tidak cukup kuat untuk membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada ku."


Abrisam meraih tubuh Maya untuk bersandar di dadanya yang kini tengah setengah berbaring di sandaran ranjang.


"Siapa bilang kamu tidak cukup kuat membalas perbuatan Vanya dan Alvin, Apa kamu tidak sadar telah berhasil membalas dendam pada mereka dengan menikahi ku?"


"E-Mm... Mas Adi... A-aku..."


Abrisam tertawa melihat Maya yang menjadi gugup. Kemudian ia semakin mempererat pelukannya.


"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Aku tidak keberatan kamu menikahi ku dengan alasan apapun, Karena yang terpenting sekarang kamu sudah benar-benar mencintai."


"Sangatttt..." ucap Maya sembari mengecup dada Abrisam dan menempelkan sebelah pipinya ke dada sang suami.


•••


Vanya yang sampai di rumah langsung ke kamar dengan segala kekesalan yang tertahan di hatinya. Dan kekesalan itu berganti menjadi rasa terkejut melihat koper besar yang sudah terletak di samping ranjang. Dengan perasaan cemas, Vanya langsung membuka lemarinya satu persatu dan melihat baju Alvin yang sudah tidak ada di dalamnya.

__ADS_1


"Alviiiin..." ucap Vanya yang langsung berlari ke kamar mandi.


Kamar mandi yang terkunci dari dalam cukup membuat Vanya sedikit lega karena menandakan jika Alvin masih berada di dalam.


Meskipun sejak pernikahan Maya dan Abrisam mereka selalu bertengkar. Namun cinta Vanya untuk Alvin masih tersisa di hatinya.


"Alvin... Tok... Tok...Tok..."


Mendengar ketukan pintu dari luar, Alvin yang tengah berdiri di depan cermin wastafel hanya menoleh ke arah pintu sesaat. Kemudian kembali terdiam memikirkan keputusan yang akan ia ambil.


"Alvin... Aku tau kamu di dalam, Keluarlah... Kita bicarakan baik-baik."


Mendengar hal itu Alvin merasa kesal dan langsung keluar menemui Vanya.


Ckleekkk...


"A-a-alvin..."


"Apa yang perlu di bicarakan baik-baik jika kelakuan mu di belakang ku sangat menjijikkan!"


"Baiklah, Jelaskan! Aku ingin dengar bagaimana kamu bisa hamil sementara Aku baru saja membuktikan jika Aku tidak bisa memiliki keturunan!" dengan begitu Marah, Alvin melempar hasil tes kesuburannya ke wajah Vanya.


"Aku di perkosa... Hiks... Hiks... Hiks..."


"Di perkosa?"


"Ya Alvin, Saat malam kita bertengkar, Dan Aku meninggalkan rumah, Seseorang telah membawaku ke hotel dan memperkosa ku," ucapnya sedih.


"Hahahaha.... Di perkosa kamu bilang?"


Vanya menganggukkan kepalanya dengan terus menundukkan wajahnya tanpa berani menatap Alvin.


"Apakah ada orang di perkosa diam-diam saja begitu pulang ke rumah, Tanpa bicara pada suami, Keluarga apalagi polisi?"

__ADS_1


Vanya terdiam dan tidak bisa menjawab apa yang Alvin katakan.


"Tidak ada kesan kamu habis di perkosa Vanya! Kamu terlihat happy-happy saja setelah malam itu."


"Tapi Aku tidak berbohong Alvin, Memang itulah kebenarannya."


"Cukup Vanya! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari mu, Aku benar-benar merasa jijik dengan mu, Aku menyesal karena meninggalkan wanita sebaik Maya demi wanita murahan seperti mu!"


Kata-kata yang begitu tajam yang keluar dari mulut Alvin cukup membuat Vanya tercengang karena selama ini Alvin tidak pernah berani berkata kasar padanya. Namun Vanya tidak bisa memarahinya seperti biasanya mengingat kondisinya saat ini yang tengah mengandung tanpa siapapun mau bertanggung jawab atas kehamilannya.


Alvin yang merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Meraih kopernya dan bersiap meninggalkan kamar. Namun baru beberapa langkah, Vanya langsung menghentikannya.


"Alviiiin... Kamu mau kemana?"


"Ke Neraka, Apa kamu mau ikut?" dengan melepaskan tangan Vanya secara kasar, Alvin keluar meninggalkan Vanya tanpa mau mempedulikannya lagi.


"Alviiiin.... Alviiiin.... Jangan tinggalkan Aku..." triak Vanya yang coba berlari mengejarnya.


"Jangan pernah mengejar ku, Karena kamu bukan lagi istri ku!"


Seketika itu juga perkataan Alvin menghentikan langkah Vanya yang sudah beberapa langkah di belakang Alvin.


"Apa yang kamu katakan Alvin?"


"Apa pendengaran mu sudah bermasalah?"


Vanya hanya terpaku menatap sisi lain dari Alvin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Dengarkan Aku baik-baik, Kamu bukan lagi istri ku, Aku menalak mu Nona Vanya Adiyaksa Abrisam!" Setelah mengatakan itu, Alvin kembali melangkah, menuruni anak tangga satu persatu. Sementara Vanya hanya bisa mematung melihat suami yang dulu ia rebut dengan susah payah, Kini pergi meninggalkannya.


Bersambung...


šŸ“Œ Banyak yang berharap Vanya bukan anak kandung dari Abrisam.

__ADS_1


Tapi kalau di buat bukan anak kandung Abrisam ntar melenceng dari judul dong? 🤣


__ADS_2