Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Buah kedondong yang ada di tangan Abrisam berjatuhan kemana-mana bebarengan dengan jatuhnya Abrisam, Bahkan ada yang mengenai kepala Maya.


Gedebuggg...!!!


"Aaaaaa..." lirih Maya memegangi kepalanya.


Begitupun dengan Abrisam yang meringis kesakitan karena posisi jatuhnya terlentang ke tanah.


"Mas Adiiii..." Maya segera berlari memegang kedua bahu suaminya untuk melihat keadaannya.


"Mas Adi, Maafkan Aku, Ini semua karena ku," ucap Maya yang tak bisa menahan air matanya.


"Ssshhttt... Tidak, Ini hanya hal kecil, Aku tidak papa," ucap Abrisam berusaha bangkit sembari menahan rasa sakitnya agar Maya tidak merasa khawatir kepada nya.


"Tapi Mas Adi terluka,"


Abrisam tersenyum memegang tangan Maya yang memegang pipinya yang terluka.


"Ini perjuangan seorang Ayah, Tidak sebanding dengan perjuangan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan."


Maya sedikit merasa mendengar perkataan Abrisam.


Kemudian Abrisam melihat ke sekelilingnya mencari buah kedondong yang ia jatuhkan.


"Kedondongnya..." ucap Abrisam.


"Biar Aku yang ambil," ucap Maya beranjak dari duduknya dan memunguti satu persatu kedondong yang berceceran dengan senyum bahagia.


Abrisam yang masih duduk di posisi nya tersenyum bahagia melihat Maya yang terlihat begitu tak sabar menikmati buah kedondong itu.


"Apa itu cukup?" tanya Abrisam.


Maya tersenyum dan kembali mendekati Abrisam.


"Ya, Ini lebih dari cukup, Sekarang kita pulang untuk membuat asinan kedondong ini, Aku sudah menelan air liur saat membayangkannya."


"Baiklah, Ayo." Abrisam berusaha berdiri. Namun ia kesulitan karena punggungnya terasa begitu sangat sakit ia rasakan.


"Aaaaaa..." ringis Abrisam berusaha memegang punggungnya.


"Mas..." ucap Maya khawatir.


Melihat sang istri khawatir, Abrisam mengurungkan niatnya dan memaksakan senyumnya agar sebisa mungkin ia tidak terlihat kesakitan di depan Maya.


"Apa rasanya sakit sekali? Apa Aku perlu memanggil seseorang untuk membantu kita?"

__ADS_1


"Tidak, Dirimu saja, Sudah cukup bagi ku." Abrisam meraih pundak Maya untuk membantunya berdiri.


Dengan susah payah, Akhirnya ia berhasil berdiri dan menahan rasa sakitnya yang teramat sangat.


"Kita pulang," ucap Abrisam yang masih tetap berusaha tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya menuju mobil mereka.


"Apa Mas yakin bisa bawa mobil sendiri?"


"Ya, Masuklah..."


Setelah mengendarai mobil dengan menahan rasa sakitnya, Akhirnya mereka sampai di rumah.


Maya langsung berlari ke dapur dan mulai membersihkan kedondong yang mereka dapat, Abrisam mengikuti sang istri dan menawarkan diri untuk membantunya.


"Apa yang harus ku lakukan?"


"Mas Adi kupaslah ini, Aku akan menyiapkan bahan-bahan nya."


Abrisam mengangguk dan mulai mengupas satu persatu buah kedondong tersebut hingga habis.


Setelah itu Maya mencampurkan pada bahan-bahan yang sudah ia siapkan.


"Selesai... Aku akan memasukkan ini ke kulkas terlebih dahulu biar rasanya semakin segar," ucap Maya sembari menghirup asinan yang mereka buat kemudian meletakkannya di dalam kulkas.


Maya yang baru menoleh ke belakang begitu terkejut dan langsung berteriak histeris berlari ke arahnya.


"Mas Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..." Maya meraih kepala Abrisam ke pangkuannya.


Asisten rumah tangga yang mendengar teriakan Maya langsung datang ke dapur.


"Tuan Abrisam...! Apa yang terjadi dengan Tuan Nyonya?"


"Tiba-tiba Mas Adi pingsan, Cepat panggil penjaga keamanan untuk membawa Mas Adi ke rumah sakit."


"E... Ya, Baik Nyonya."


Beberapa menit kemudian Penjaga keamanan dan supir datang dan langsung membopong tubuh Abrisam ke dalam mobil.


Alvin yang kembali datang mengintai rumah mereka terkejut melihat apa yang terjadi di depannya.


"Apa yang terjadi dengan Ayah?" ucap Alvin membuka kaca mobilnya untuk memastikan apa yang ia lihat. Kemudian Alvin melihat Maya yang terlihat menangis dan ikut masuk ke mobil.


Setelah mobil berjalan, Alvin menutup kaca mobilnya dan mulai mengikutinya. Namun baru beberapa menit ia membuntuti mobil Ayah mertuanya, Ponselnya berdering hingga menganggu konsentrasinya.


Alvin melihat layar ponselnya dan melihat nama Vanya terpampang di benda pipih itu. Ia pun menempelkan benda pipih itu sambil terus menatap mobil Abrisam yang mulai jauh meninggalkannya.

__ADS_1


"Alvin!"


Teriakan Vanya membuat Alvin tersentak dan sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Sebenarnya kamu dimana Alvin! Kenapa sejak kemarin Aku perhatikan kamu terus saja menghilang tanpa meminta izin kepada ku?!"


"E... Aku sedang menyelidiki apa yang ingin kamu ketahui Vanya."


"Apa! Maksud mu, Kamu sedang mencari tau dimana Ayah dan Maya tinggal?"


"Ya."


"Bagaimana hasilnya, Apa kamu berhasil menemukan dimana mereka tinggal?"


"Ya, Aku sudah mengetahuinya, Tapi sepertinya ada yang terjadi dengan Ayah mu."


"Apa, Apa yang terjadi dengan Ayah?"


"E..." Alvin menghentikan ucapannya melihat mobil Abrisam yang berbelok memasuki gerbang rumah sakit.


"Alvin...!"


"E... Vanya, Ayah mu masuk rumah sakit."


"Apa?! Memangnya apa yang terjadi?"


"Aku tidak tau, Tapi Aku lihat penjaga keamanan mengangkat tubuh Ayah mu dan membawanya ke rumah sakit."


"Baiklah Alvin, Ikuti terus mereka, Aku akan segera menyusul mu."


"Hmm."


Alvin pun menutup panggilannya dan ikut memarkirkan mobilnya.


Beberapa perawat yang melihat kepanikan Maya, Langsung mendorong brankar mendekati mobil. Mereka memindahkan tubuh Abrisam ke atas brankar dan langsung membawanya ke ruang UGD untuk mendapat perawatan.


"Silahkan tunggu di sini Nyonya," ucap perawat menghentikan Maya yang akan ikut masuk ke ruangan.


"Tapi suami saya Sust?"


"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Anda bisa bantu kami dengan mendoakannya."


Maya mengangguk pelan dan hanya bisa menatap pintu yang tertutup tepat di depan wajahnya. Hatinya bukan hanya merasa sedih atas apa yang terjadi pada Abrisam. Ia juga begitu menyesal karena keinginannya yang nyeleneh membuat suaminya celaka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2