Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Adu Domba


__ADS_3

"Aaarrrggghhh...!!! Kita tidak bisa terus seperti ini Alvin!" triak Vanya yang kembali membanting barang-barang di ruangan barunya.


"Kita tidak bisa terus diam seperti ini, Lihat ruangan kita, Begitu kecil dan tidak ada fasilitas mewah di dalamnya!" lanjutnya.


Kemudian Vanya mendekati Alvin dan menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Alvin penuh curiga.


"Apa kamu masih menginginkan Maya?"


"E... A-apa maksud mu, Kenapa bertanya seperti itu?" Alvin memutar setengah lingkaran menghindari tatapan tajam sang istri.


"Lihat Aku!" ucap Vanya yang kembali membuat tubuh Alvin menghadapnya.


"Aku tidak keberatan jika kamu ingin mendekatinya?"


"E... S-sebenarnya apa yang coba ingin kamu katakan Vanya?"


"Alvin, Hanya kamu yang bisa merubah nasib kita."


"Bagaimana bisa, Apa yang bisa ku lakukan?"


"Alvin, Rebut kembali Maya dari Ayah ku, Maka Ayah akan menceraikan Maya dan mengembalikan semua fasilitas yang Ayah berikan pada ku, Setelah itu tinggalkan Maya dan kembalilah pada ku, Jika itu berhasil Maka kita akan kembali hidup bahagia dan Maya akan kembali menjadi ke pemukiman kumuhnya."


Alvin menarik nafas dalam-dalam mencerna apa yang Vanya katakan.


"Bagaimana Alvin?"


"Apa yang harus Aku putuskan, Hatiku memang menginginkan Maya, Tapi jika Aku berpisah dari Vanya, Maka kehidupan ku akan terasa sulit seperti dulu, Apa Aku harus melakukan yang Vanya katakan agar Aku dapat keduanya?" batin Alvin.


"Alvin?"


"E... Ya, A-aku akan memikirkannya."


"Tidak ada waktu untuk berpikir Alvin, Sehari saja Aku menjalani hukuman ini, Ini sudah terasa seperti setahun!"


"Tapi Vanya, Jika Ayah tau dia bukan hanya akan mengusir Maya, Tapi Aku juga!"


"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Selama kamu mengerjakan tugas mu, Aku yang akan menangani Ayah, Jika perlu Aku akan membuat Ayah mengalihkan sebagian Aset nya pada ku."


Mendengar itu, Alvin tidak dapat menolak lagi dengan rencana yang telah Vanya susun.


"Ya baiklah, Kapan kita mulai rencana ini?"


"Sekarang!"


"Sekarang?"

__ADS_1


"Ya, Aku tidak ingin lebih lama lagi menderita di bawah tekanan mantan istri mu itu!"


"Baiklah, Terserah kamu saja."


"Kalau begitu ikutlah denganku." Vanya menarik tengan Alvin meninggalkan ruangannya.


Sementara Maya dan Abrisam baru saja mengurai pelukannya dan saling melempar senyum manisnya.


"Apa kamu mau lagi?" tanya Abrisam menggoda sang istri.


Maya hanya tersipu malu sembari memukul dada Abrisam.


Setelah itu Maya turun dari pangkuan Abrisam dan merapikan pakaiannya.


"Kita bersihkan diri?"


"Maaasss..."


"Hehe... Aku hanya bercanda, Pergilah ke kamar mandi, Aku akan ke kamar mandi ruangan ku, Setelah itu Aku akan sedikit memeriksa pekerjaan, Jadi kalau kamu merasa bosan, Kamu bisa menonton, Pesan makanan atau keluar untuk jalan-jalan."


Maya mengangguk dan melangkah ke kamar mandi.


Sementara Abrisam meninggalkan ruangan Maya dan pergi ke ruangannya.


Alvin dan Vanya yang sudah mengintai, Langsung bergerak cepat setelah melihat Abrisam keluar. Vanya menyuruh Alvin masuk ke ruangan dan menunggu Maya keluar.


"Lakukan apapun sampai Maya luluh pada mu Alvin, Aku tau Maya belum sepenuhnya melupakan mu dan mencintai Ayah ku, Jadi gunakan kesempatan ini sebaik mungkin!"


"Ya baiklah."


"Tapi ingat Alvin, Jangan lakukan ini dengan perasaan, Kamu harus ingat tujuan kita!"


"Jangan khawatir." Alvin langsung masuk dan duduk di kursi dengan menaikan kedua kakinya di meja.


"Suiiittt... Suiiittt..." Alvin bersiul ketika melihat Maya keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.


Maya yang baru begitu terkejut melihat Alvin yang berada di ruangannya langsung melangkah dengan cepat untuk meluapkana kekesalannya. Namun sayangnya kakinya tersangku karpet hingga Maya terjatuh tepat di atas tubu Alvin.


"Klik... Sempurna," ucap Vanya yang mengambil foto mereka.


"Tidak sia-sia Aku kembali kesini, Hemm... Tuhan memang sedang berpihak kepada ku, Tanpa Aku dan Alvin melakukan apapun, Tuhan Membuatnya jatuh dan memberiku kesempatan untuk mengambil gambar ini," ucap Vanya yang kemudian meninggalkan ruangan itu.


Sementara Maya mengangkat wajahnya yang membentur dada Alvin. Mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya Maya bangkit dan berdiri tegap di depan Alvin.


"Sedang apa kamu disini?!"


"Sedang apa lagi Maya, Tentu Aku sedang menunggu mu."

__ADS_1


"Sudah berapa kali Aku katakan, Menjauhlah dari ku!"


"Kenapa Maya?" Alvin bangkit dari duduknya dan melangkah memutari Maya dari jarak yang begitu dekat.


"Apa kamu takut jika perasaan mu pada ku kembali bersemi?" Semakin berani, Alvin mendekati pundak Maya dan menghirup rambutnya yang masih sedikit basah.


"Alvin! Hentikan ini...!!!" dengan kesal Maya mendorong tubuh Alvin hingga menabrak ke dinding.


"Aku tidak ada perasaan apapun lagi pada mu, Jadi jangan terlalu percaya diri!"


Tidak menyerah, Alvin tersenyum smirk dan kembali mendekatinya.


"Benarkah? Apakah karena kamu sudah mencintai Ayah mertua ku?"


Maya terdiam, Ia sendiri belum begitu yakin akan perasaannya pada Abrisam, Tapi yang jelas hatinya begitu bahagia dan nyaman saat bersama suaminya itu.


"Kamu tidak bisa menjawabnya?" Alvin menjeda ucapannya.


"Apa yang begitu sulit Maya, Kamu hanya tinggal mengatakannya, Apakah kamu mencintainya atau tidak."


"Itu bukan urusan mu Alvin!" ucap Maya yang memutar tubuhnya membelakangi Alvin.


"Bagaimana perasaan Ayah mertua ku jika mengetahui ini Maya, Ayah mertua ku begitu mencintai mu dan mempercayai mu, Hingga ia menghukum putri kandungnya sendiri demi diri mu, Sementara kamu..?


Jangankan membalas cintanya, Mengatakan cinta di hadapan ku saja kamu tidak bisa."


"Ayah dengar itu?" tanya Vanya yang telah membawa Abrisam ke ruangan tersebut untuk menyaksikan apa yang sedang Maya dan Alvin bicarakan.


Abrisam hanya terdiam menatap Maya sembari mencerna apa yang ia dengar dan saksikan.


"Ibu Maya tidak bisa berbohong Ayah, Bahkan sama Alvin pun dia tidak bisa berbohong dengan mengatakan jika dia mencintai Ayah."


Vanya menatap Ayahnya dan menunggu reaksinya.


"Jika memang ibu Maya mencintai Ayah, Lalu apa susahnya mengatakan itu, Apalagi di depan mantan suaminya." lanjut Vanya lagi.


"Hanya ada dua kemungkinan Maya, Kamu tidak mencintai Ayah mertua ku atau kamu masih menyimpan cinta untuk ku," ucap Alvin.


Mendengar hal itu Vanya tersenyum menatap Ayahnya yang terlihat mulai marah. Bahkan tangan kanannya sudah terlihat mengepal seolah ingin menonjok kaca jendela yang ada di hadapannya.


Bersambung...


šŸ“Œ Terimakasih untuk yang sudah selalu sabar menunggu.


Terimakasih juga untuk yang sudah memberikan koin, Bunga, Kopi, Vote, Like dan komentarnya, Maafkan Author yang belum bisa maksimal Update karena berbagai hal, Semoga Allah membalas kebaikan kalian, I love you All šŸ˜˜ā¤ļø


Jangan lupa juga mampir ke Novel Author yang lainnya ya šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2