Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Ending


__ADS_3

"Ibuuuu..." triak Vanya dari sebrang jalan.


Pemotor yang menabrak Maya, Memarkirkan motornya dan melihat keadaan Maya. Sementara Vanya yang telah mengalami pecah ketuban dengan rasa kesaktiannya mendekati Maya yang tengah berusaha bangkit dari tempat ia tersungkur.


Pemotor itu bergegas membantu Maya bangun dan berkali-kali minta maaf karena benar-benar tidak melihat saat Maya menyebrangi jalan. Dengan senyum tipis Maya yang kini sudah berhasil duduk hanya mengangguk pelan mendengar permintaan maaf pemotor tersebut.


"Ibu..."


Maya melihat Vanya yang kini sudah berdiri di depannya. Ia menjadi begitu terkejut melihat air ketuban yang telah mengalir di antara kedua kaki Vanya.


"Vanya kamu...!?


Pak tolong Aku," ucap Maya meminta pertolongan pemotor itu untuk berdiri.


Kini giliran Vanya yang menjadi begitu terkejut melihat Maya yang mengalami pendarahan.


"Ibu pendarahan?"


"Akan saya Carikan taksi," ucap pemotor itu yang langsung bergegas lari menuju motornya. Namun baru saja ia menyalakan motornya, Sebuah mobil berwarna hitam yang melintas berhenti dan membuka pintu, Kemudian bergegas menghampiri Maya dan Vanya.


"Nyonya Maya..."


"Alvin..." lirih Maya.


"Alvin!" Vanya yang terakhir kali bertemu dengan Alvin saat perceraian mereka di pengadilan beberapa bulan yang lalu, Begitu terkejut melihat Alvin yang kini terlihat jauh lebih matang dan berwibawa.


Melihat dua wanita yang pernah mengisi hidupnya sama-sama merasa kesakitan, Alvin merasa bingung harus menolong Maya atau Vanya terlebih dahulu. Hingga Alvin tersentak ketika pengendara motor itu berlari ke arahnya.


"Apa Tuan mau menolong mereka?"


"E-ya, Tolong bantu saya membawa mereka ke dalam mobil.


Akhirnya Alvin lebih memilih membopong tubuh Maya terlebih dahulu, Sementara Vanya yang masih bisa melangkah di bantu oleh pengendara motor itu. Tidak ada lagi rasa cemburu atau iri kepada Maya, terlebih ia tengah merasakan kesakitan yang luar biasa, Membuat Vanya tidak mempermasalahkan Alvin yang memilih ibu tirinya di banding dirinya.


"Terimakasih telah menolong mereka Tuan, Saya benar-benar tidak sengaja, Saya juga orang tidak punya jadi saya tidak mungkin menanggung biyaya persalinan Nyonya ini."


"Tidak masalah, Aku akan mengurusnya," ucap Alvin yang kemudian masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Alvin melihat ke belakang sesaat dan kemudian mengambil ponsel di sakunya.


"Aku harus menghubungi Tuan Adiyaksa Abrisam, Dia pasti belum mengetahui hal ini," ucap Alvin yang kemudian menghubungi sembari menjalankan mobilnya.


"Hallo..."


"Hallo Tuan Abrisam, Cepatlah ke rumah sakit ibu dan anak, Sepertinya istri dan putri mu akan segera melahirkan."


"Apa!?" Abrisam melihat layar ponselnya dan melihat nama Alvin tertera di sana.


"Alvin! Bagaimana bisa?"


"Anda bisa bertanya langsung kepada mereka nanti, Sekarang cepatlah bersiap."


"Baiklah Alvin, Terimakasih."


Abrisam langsung berlari mengambil dompet dan kunci mobilnya kemudian dengan cepat meninggalkan rumah dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


•••


Sesampainya di rumah sakit Abrisam langsung menghubungi Alvin yang sudah terlebih dahulu sampai di rumah sakit. Sambil melangkah dengan cepat, Abrisam tidak sabar lagi mendengar kondisi istri dan putrinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Maya dan Vanya?" tanya Abrisam.


"Mereka tengah di tangani Dokter, Anda naik saja mereka ada di lantai empat, Setelah keluar dari lift belok kiri dan lurus saja."


"Baiklah, Terimakasih Alvin."


Setelah menutup ponselnya, Tak lama kemudian Abrisam sampai di lantai empat, Abrisam segera berlari begitu melihat Alvin.


"Alvin..."


"Tuan Abrisam..."


Abrisam tersenyum dan memeluk Alvin dengan penuh rasa bangga dan bahagia, Melihat mantan suami dari istri dan anaknya itu terlihat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Kamu terlihat begitu banyak perubahan,"


"Aku hanya sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi Tuan."


"Dan kamu sudah berhasil, Terimakasih telah menolong anak dan istri ku."


"Bukan masalah, Semua orang yang melintas jika melihat mereka tengah kesakitan pasti akan melakukan hal yang sama seperti ku."


"Memangnya apa yang terjadi dengan mereka, Mereka jalan-jalan pagi masih terlihat begitu sehat, Tidak ada tanda-tanda mereka akan melahirkan?"


"Aku tidak tau soal itu, Aku hanya kebetulan lewat dan..."


"Permisi... Apa kalian berdua suami dari keluarga pasien?" tanya seorang perawat memotong pembicaraan mereka.


"Ya saya.." saut Abrisam.


"Selamat ya Tuan, Bayi tuan telah lahir dengan selamat, Bayi laki-laki untuk Nyonya Maya dan bayi perempuan untuk Nona Vanya."


Abrisam tersenyum lebar mendapatkan anak dan cucu dalam waktu bersamaan. Tak terlukiskan bagaimana bahagianya dia meskipun cucunya terlahir tanpa seorang Ayah.


"Selamat Tuan, Semoga kelak putra Anda mewarisi kebaikan dan kesuksesan Anda,"


"Terimakasih Alvin, Ini semua berkat pertolongan mu." Abrisam kembali memeluk Alvin sesaat kemudian ia menoleh kearah perawat menanyakan kondisi Maya dan Vanya.


"Lalu bagaimana dengan kondisi mereka?"


"Jangan khawatir, Mereka baik-baik saja, Dokter masih menanganinya."


"Mereka harus melahirkan secara Caesar karena Nyonya Maya telah mengalami pendarahan. Sementara Vanya karena sudah kehilangan cukup air ketuban." saut Alvin yang menyetujui operasi keduanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Alvin pun menceritakan kronologi kejadian sesuai apa yang Vanya dan Maya ceritakan saat mereka menuju rumah sakit.


"Alviiiin.... Sekali lagi aku benar-benar berterima kasih pada mu, Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika terjadi sesuatu pada mereka berdua."


"Sama-sama Tuan, Anggap saja ini penebus dosa ku pada Nyonya Maya."


"Dan Vanya, Apa kamu sudah memaafkan nya?"


Belum sempat Alvin menjawab, Pintu ruang operasi terbuka sehingga Abrisam langsung berlari melihat Maya yang terlebih dahulu di pindahkan ke ruang rawat inap.


"Sayang..." Abrisam menggenggam tangan Maya dan mengusap kepalanya kemudian mengecup keningnya.

__ADS_1


"Maafkan Aku karena Aku tidak ada di sisi ku saat kamu berjuang melahirkan buah cinta kita."


"Ini bukan salah Mas Adi, Mas juga tidak tau kan jika hari ini bayi kita akan lahir?"


"Ya, Jika Aku tau, Aku terus berada di sisi mu."


"Yang terpenting sekarang Aku dan bayi kita lahir dengan selamat."


"Begitu juga dengan Vanya dan bayinya." jawab Abrisam.


"Benarkah?"


"Ya, Bayi perempuan, Cucu kita." Mereka tertawa renyah mengingat anak dan cucunya lahir di hari dan tanggal yang sama. Hingga tawa mereka terhenti oleh Alvin yang memberikan ucapan selamat pada mereka. Tak lama kemudian Vanya di pindahkan ke kamar yang sama sesuai keinginan mereka.


"Vanya Sayang..." Abrisam langsung menyambut Vanya dan mencium keningnya sekilas. Belum sempat mereka berbincang, Perawat mengantar bayi Maya dan Vanya yang sudah di bersihkan.


"Ini bayi Nyonya Maya, Dan ini bayi Nona Vanya," ucap perawat sambil mendorong bayi tersebut di samping ranjang mereka.


"Terimakasih Suster."


"Sama-sama..."


Setelah suster keluar, Vanya menatap Alvin yang masih berdiri di tengah-tengah mereka.


"Bagaimana kabar mu Alvin?" tanya Vanya yang seolah masih menyimpan rasa.


"Seperti yang kamu lihat."


"Kamu masih belum memaafkan ku?"


"Aku sudah memaafkan mu, Tidak ada gunanya menyimpan dendam pada seseorang, Lagipula kita sudah memiliki kemampuan masing-masing."


"Jadi kamu sudah menikah lagi?"


Bersamaan dengan pertanyaan itu, Ponsel Alvin berdering.


Alvin melihatnya sesaat kemudian meminta izin untuk pulang.


"Ya... Aku telah menikah, Dan sekarang istri ku tengah menunggu ku,


Tuan Abrisam, Nyonya Maya... Aku pulang dulu, Semoga kalian lekas sembuh."


Setelah berpamitan, Alvin langsung keluar ruangan.


Ia memang telah menikah dengan wanita sederhana yang telah memiliki satu orang anak berusia dua tahun yang telah di tinggal mati suaminya. Meskipun dalam kesederhanaan namun istrinya mampu membuat Alvin menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.


Sementara di dalam ruangan Vanya yang melihat Ayahnya dan Maya begitu bahagia menatap putra mereka, Merasa sedih dengan nasibnya kini, Terlebih mengingat Alvin yang telah menikah kembali, Membuat penyesalan di hatinya kembali muncul karena telah mengkhianati suami yang telah susah payah ia dapatkan dari merusak rumah tangga Maya yang kini menikah dengan Ayahnya.


T.A.M.A.T


Terimakasih yang sudah membaca dari bab satu hingga TAMAT.


Ambil baiknya jika memang ada kebaikan di novel ini, Jika tidak ada kebaikannya, Jadikan ini sebagai hiburan kalian semata šŸ˜‚šŸ™ā¤ļø


Baca Novel terbaru Author "Bukan Niatku Selingkuh" Insya Allah besok Up lagi, Extra Bab "Mengejar Duda Teman Papa" juga di usahakan šŸ˜‚


Terimakasih untuk kalian semua, I love you All šŸ˜˜ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2