
Setelah Dokter selesai memeriksa Abrisam, Maya mendekati Abrisam dengan sedikit gugup mengingat karenanya Vanya jatuh pingsan.
Dan itu dapat dilihat oleh Abrisam yang sejak pemeriksaan melihat Maya yang tak banyak bicara meskipun di sampingnya. Bahkan setelah Dokter keluar, Maya pun tidak menanyakan keadaannya.
"Apa yang kamu pikirkan Maya, Apa kamu begitu khawatir padaku sampai tak bisa berkata-kata?" tanya Abrisam mencoba bersikap biasa saja.
"M-mas... Vanya..."
"Vanya, Kenapa dengan nya?"
"Tadi... Aku... Bertengkar dengan nya, Dan karena pertengkaran itu Vanya jatuh pingsan..."
"Dan untungnya bayinya tidak apa-apa," ucap Vena yang mendadak masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Alvin di belakangnya.
Abrisam dan Maya menoleh ke arah Vena dan begitu terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Bayi, Vanya mengandung?" tanya Abrisam.
"Ya... Dan istri mu ini hampir mencelakainya, Mencelakai calon penerus keluarga Abrisam, Hmm! Mungkin dia tidak ingin jika anaknya memiliki pesaing sehingga ia dengan sengaja ingin mencelakai calon cucu kita."
__ADS_1
"Itu tidak benar!" tegas Maya.
"Apanya yang tidak benar, Kamu melakukannya di depan mataku, Di depan Alvin juga."
"Tapi Aku tidak tau jika Vanya sedang mengandung, Lagipula bagaimana dia bisa Vanya mengandung jika Alvin di vonis tidak bisa memiliki keturunan?"
"Apa maksudmu Maya? Bagaimana kamu mengatakan ini sementara Aku tidak mengetahui itu?" tanya Alvin.
"Alvin, Apa kamu ingat kita pernah memeriksakan kesuburan kita karena Aku ingin segera memiliki anak dari mu?"
Alvin terdiam mengingat hari itu, Dia yang saat itu tidak menginginkan seorang anak awalnya tidak mau mengikuti keinginan Maya, Namun karena Maya terus merengek dan mendesaknya, Akhirnya ia bersedia untuk di periksa.
"Apa sekarang kamu ingat?" tanya Maya.
"Karena Aku tidak mau kamu kecewa dan merasa tertekan dengan hasil yang Dokter berikan, Sehingga Aku terus merahasiakan ini hingga kita bercerai."
"Heh! Ini pasti akal-akalan mu saja kan, Kamu tidak ingin melihat putriku mengandung anak mantan suami mu, Cucu dari suami mu yang pasti akan menjadi pesaing anak mu sehingga kamu mengarang cerita seperti ini, Iyakan?!" hardik Vena sambil mengayunkan tangan Maya dengan kasar
"Alvin kamu jangan percaya dengan ucapan wanita licik ini..." lanjut Vena.
__ADS_1
"Abrisam, Kenapa kamu diam saja, Katakan sesuatu, Istri mu sedang menuduh putri kita!"
"Mudah saja, Lakukan tes ulang jika kamu tidak mempercayai apa yang istri ku ucapkan."
"Jadi kamu langsung mempercayai ucapan wanita ular ini begitu saja?"
"Dia istri ku bicara yang sopan dengan nya! Lagipula Vanya pernah melakukan sesuatu yang memalukan dengan suami orang, Siapa yang bisa menjamin jika dia tidak kembali melakukannya dengan orang lain?" ucap Abrisam dengan pandangan lurus seolah menggambarkan kekecewaannya terhadap putri kesayangannya.
"Abrisam!" triak Vena.
"Ayah mertua... Jadi Ayah meragukan jika itu cucu Ayah?"
"Apa kamu tidak merasa ragu Alvin? Tanyakan hati kecil mu, Jangan karena kamu tidak ingin menerima kenyataan jika kamu tidak bisa menjadi seorang Ayah lalu memungkiri fakta yang ada."
"Abrisam cukup! Kamu benar-benar menghina putri kita tanpa mau mencari bukti terlebih dahulu!"
"Kamu benar-benar telah di butakan oleh wanita ular ini!" lanjut Vena yang kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan kesal.
Alvin tak bisa berkata-kata lagi dan ikut keluar meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Bersambung...
š mohon maaf Update nya selalu lama. Bukan tidak menghargai pembaca setia apalagi PHP, Bulan lalu selain jaga ibu yang sakit, Saya sendiri juga sering kurang sehat dan tiga hari lalu saya baru melahirkan, Jadi buat yang sudah menjadi seorang ibu pasti tau gimana sakit dan reportnya. Jika masih berkenan silahkan stay di novel ini, jika tidak saya tidak memaksa, Terimakasih banyak untuk dukungannya sampai sejauh ini šā¤ļø