Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Mengelak


__ADS_3

Andrie dan Vanya masih saling memandang hingga pandangan itu terhenti oleh istri Andrie yang melangkah mendekati Vanya.


"Heh! Kenapa menatap suami ku seperti itu? Apa kamu ingin kehilangan kedua mata mu?!"


Perkataan sadis dari istri Andrie tidak membuat Vanya menciut, Vanya masih tetap menatap tajam wanita tersebut dengan sedikit menaikan dagunya.


"Tundukan pandangan mu?"


"Kenapa, Apa kamu pikir Aku takut pada mu?"


"Kau!"


"Siska ayolah, Tidak perlu meladeni orang yang tidak kita kenal," ucap Andrie di atas kursi rodanya."


Mendengar itu Vanya menjadi tidak terima dan melangkah mendekati Andrie.


"Kamu bilang tidak mengenal ku?!"


Andrie hanya diam memalingkan wajahnya.


Melihat suaminya di dekati wanita lain, Wanita yang bernama Siska itu menarik Vanya dan menjauhkannya dari Andrie.


"Kamu berrrani mendekati suami ku?"


"Lepaskan!" Vanya menghempas tangan Siska yang terus mencengkeram lengannya.


"Asal kamu tau, Suami mu telah menghamili ku!"


Siska tercengang mendengar apa yang Vanya katakan. Kemudian ia menatap Andrie dan meminta penjelasan darinya.


"Apa yang di katakan wanita tak tau malu ini benar?!" tanya Siska kesal.


"Itu tidak benar Sayang, Dia memfitnah ku, Dia sedang berusaha menghancurkan rumah tangga kita."


"Aku tidak memfitnah mu Andrie!" saut Vanya.


"Diam lah kau pelakor, Wanita mura'han! Jangan asal bicara tanpa bukti apapun!" tegas Siska.

__ADS_1


"Aku akan membuktikannya."


"Baiklah, Lakukan tes DNA sekarang juga!" saut Siska.


Mendengar hal itu Vanya dan juga Andrie sedikit merasa tegang, Mereka sendiri juga masih meragukan apakah bayi itu darah daging Andrie atau bukan.


"Kenapa terdiam bukankah tadi kamu bilang ingin membuktikannya? Apa sekarang kamu merasa ragu siapa Ayah dari bayi yang kamu kandung?" lanjut Siska.


"Sayang sudah ku bilang jangan meladeninya," ucap Andrie.


"Baiklah... Buang-buang waktu saja." Siska kembali berdiri di belakang kursi roda Andrie dan bersiap membawanya pergi.


"Wanita ja'lang seperti mu tidak mungkin hanya berhubungan dengan satu pria saja," ucap Siska yang kemudian membawa Andrie pergi.


Vanya hanya bisa membiarkan mereka pergi tanpa bisa melakukan apapun. Bahkan ia lupa tujuan lainnya untuk meminta Andrie mencabut laporan supaya ibunya terbebas dari segala tuntutan.


Setelah sampai ruangan, Siska yang sebelumnya tidak menunjukan kemarahannya kepada Andrie, Kini meluapkan amarah kepadanya.


"Apa kau pernah tidur dengannya?!"


"Jawab Andrie!"


"Ya."


"Ya?"


"Iya tapi itu sebelum kita menikah Sayang, Dan kita sudah sama-sama tau kan masa lalu kita, Jadi tidak perlu di permasalahkan sekarang."


"Tapi bagaimana jika wanita itu benar-benar mengandung bayi mu!"


"Seperti yang kamu bilang padanya, Dia tidak hanya berhubungan dengan ku, Jadi tenanglah."


"Kamu benar-benar brengs'ek Andrie..." dengan memukul pelan Andrie keduanya tertawa dan tak mengambil pusing dengan apa yang Vanya tuduhkan.


•••


Di lobby rumah sakit, Vanya yang melangkah dengan lemah karena memikirkan nasib buruk yang menimpanya secara bertubi-tubi tanpa sengaja menabrak seseorang pria. Vanya yang semula ingin memarahinya menjadi begitu terkejut melihat pria tersebut.

__ADS_1


"Kamu!" ucap Vanya.


Pria itu memperhatikan Vanya dengan seksama seolah tengah mengingat siapa wanita di depannya.


"Kamu Rio kan?"


Pria itu yang nampak masih tidak mengingat siapa Vanya hanya mengernyitkan keningnya.


"Kamu Rio teman Andrie kan?"


Mendengar itu Rio menelan ludah kasar mengingat saat ia dan Andrie membawa Vanya ke hotel.


"Maaf... Mungkin Anda salah orang," ucap Rio yang pura-pura tidak mengenalnya.


"Aku tidak mungkin salah orang, Kamu pria yang sama yang telah membawa ku ke hotel bersama Andrie dan sekarang kamu kesini pasti ingin menjenguk Andrie kan?"


"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Siapa kamu, Siapa Rio, Dan siapa Andrie?" Rio masih saja berpura-pura tidak mengenal nama-nama yang Vanya sebutkan hingga membuat Vanya sendiri menjadi ragu.


"Permisi." Rio melewati Vanya begitu saja seolah ia benar-benar tidak pernah mengenal Vanya sebelumnya. Dan lagi-lagi Vanya tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri pun tidak begitu mengingat wajah Rio karena saat tersadar dari mabuknya ia hanya melihatnya sesaat.


•••


Abrisam dan Maya yang sudah menunggu Vanya lebih dari tiga jam, Mulai merasa bosan. Abrisam pun bangkit dari duduknya dan melihat keluar gerbang, Berharap putrinya itu akan segera pulang. Namun cukup lama ia berdiri Vanya belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Apa Mas sudah kembali mencoba menghubunginya?" tanya Maya.


"Belum, Pesan yang Aku kirim saja dia belum membacanya."


"Cobalah telpon dia sekali lagi, Barangkali dia akan mengangkatnya."


Abrisam menganggukkan kepalanya dan menekan nama Vanya untuk melakukan panggilan telepon. Namun baru saja sambungannya terhubung, Abrisam melihat mobil Vanya sudah di depan gerbang.


"Dia pulang," ucap Abrisam yang bergegas keluar menyambutnya lalu di ikuti oleh Maya yang berjalan di belakangnya.


Vanya yang turun dari mobil begitu terkejut melihat Ayah dan ibu sambungnya sudah berdiri di depannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2