
Setelah berpikir cukup lama, Akhirnya Vena memiliki ide.
Ia segera melepas pelukan pada Vanya dan mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Sayang ada kemungkinan itu bukan bayi Alvin, Jika begini ceritanya Aku harus menghentikan Alvin melakukan tes kesuburan, Alvin tidak boleh sampai tau kebenarannya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan ibu?"
"Tenanglah, Ibu yang akan mengurusnya." Vena memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan. Namun baru saja sampai di depan pintu Vena berpapasan dengan Maya dan Abrisam.
"Kenapa kamu terlihat begitu tegang, Apa terjadi sesuatu pada Vanya?" tanya Abrisam sembari melihat-lihat kedalam.
Mendapat pertanyaan Ayahnya yang terdengar khawatir, Vanya pun segera berakting dengan berpura-pura lamah.
"Ya, Putri kita begitu lemah, Apa lagi mendengar... Tuduhan dari ibu sambungnya, Membuat kondisi Vanya semakin menurun." dengan lirikan mata sinis.
Abrisam menoleh ke arah Maya dan menggenggam jemari tangannya. Kemudian menuntunnya masuk tanpa menghiraukan ucapan provokasi Vena.
Tidak mau putrinya tertekan sendirian menghadapi Ayah dan ibu sambungnya, Vena pun kembali masuk dan berdiri di samping Vanya.
"Bagaimana keadaan mu?"
Pertanyaan Abrisam mengagetkan Vanya yang tengah menatap tangan Ayahnya yang sedang menggenggam tangan Maya tanpa mau melepaskannya.
"Aku takut sekali Ayah, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada calon cucu Ayah," ucap Vanya berharap Ayahnya akan menyalahkan Maya karena peristiwa kemarin.
"Maafkan Aku Vanya, Aku tidak tau kalau kamu tengah mengandung," ucap Maya.
Vanya menahan kekesalannya. Sedikit pun ia tak menginginkan kata maaf dari Maya, Ia hanya ingin melihat reaksi Ayahnya ketika ia menyebutkan cucu yang ada dalam kandungannya. Namun harapanya tak sesuai keinginan nya karena Abrisam menanggapi nya dengan dingin sehingga membuat Vanya kecewa dan tak merasa jika Ayahnya memang benar-benar sudah berubah dan tak lagi menyayanginya seperti dulu.
__ADS_1
"Sudahlah Vanya, Kamu sendiri juga baru tahu tentang kehamilan mu jadi mana mungkin ibu Maya sengaja mencelakai mu dan bayi mu."
"Ayah... Ini bukan bayi ku saja, Tapi ini juga cucu Ayah, Calon penerus keluarga Abrisam, Apa Ayah tidak merasa khawatir sama sekali kepadanya?"
"Tentu saja Ayah khawatir, Tapi sekarang tidak lagi, Kamu terlihat sehat, Bayi mu juga sehat jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi."
"Semudah itu kamu mengatakan tidak perlu khawatir setelah apa yang istri mu lakukan kepada putri kita, Tidak kah kamu menghukumnya karena hampir mencelakai putri dan cucu kita?" ucap Vena mencelah pembicaraan Vanya dan Abrisam.
"Jangan pernah mengatakan kita, Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan mu!" tegas Abrisam.
"Abrisam!"
"Kecilkan suara mu!" tegasnya lagi.
"Kemarin Aku menolong mu hanya sebatas kemanusiaan, Jadi jangan pernah mencoba menjalin hubungan apapun lagi dengan ku dengan mengatasnamakan putri dan cucu kita!"
Vena terdiam dan tidak bisa lagi berkata-kata, Harapannya untuk kembali masuk kedalam kehidupan Abrisam seakan sudah tertutup rapat karena Abrisam sedikitpun tidak memberikan celah untuk nya.
Vanya hanya mengangguk kecil, Ia tidak bisa lagi merengek seperti dulu agar keinginannya terpenuhi. Dalam hatinya Vanya merasa telah benar-benar kehilangan Ayahnya meskipun raga mereka masih saling bertatap muka.
Setelah kepergian Maya dan Abrisam, Vena mendekati Vanya yang hanya diam dengan sikap Ayahnya yang terkesan tidak mempedulikannya lagi.
"Vanya... kenapa kamu diam saja dan membiarkan Ayah mu pergi?"
"Sejak kehadiran Maya, Ayah tidak lagi menyayangi ku ibu, Hanya Maya saja yang ada dalam pikirannya, Jadi apapun yang Maya katakan maka Ayah akan melakukannya."
Vena menarik nafas dalam-dalam dan berpikir niatnya kembali merebut hati mantan suaminya seamakin sulit.
Menuju pintu keluar, Maya langsung melepaskan genggaman tangan Abrisam dan mempertanyakan ucapannya yang telah menolong mantan istrinya.
__ADS_1
"Mas tidak pernah cerita," ucap Maya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Cerita apa?"
"Jika Mas pernah bertemu dan menolong mantan istri Mas."
Mendengar itu, Abrisam justru tertawa, Ia merasa senang karena untuk pertama kalinya Maya terlihat cemburu padanya.
"Kenapa Mas malah tertawa?"
"Apa kamu cemburu, Hmm?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan." Maya semakin mengerucut manja dan membelakangi Abrisam dengan kedua tangannya terlipat di perutnya.
Abrisam tersenyum dan mendekap tubuh Maya dari belakang.
Dengan meletakkan dagu di pundak Maya, Abrisam menjelaskan pertemuannya dengan mantan istrinya saat itu dan mengakhiri dengan meniup leher Maya hingga membuat Maya meremang geli.
"Apa yang Mas lakukan," ucap Maya sembari menepuk tangan Abrisam yang melingkar di perutnya.
"Apa kamu merasa malu?"
Maya menoleh kesana kemari dan melihat beberapa orang dan perawat menatap ke arahnya. Melihat hal itu Maya pun langsung menarik diri dari dekapan Abrisam dan menjauh darinya.
"Lihatlah semua orang menatap kita."
"Lalu kenapa, Aku kan memeluk istri ku, Bukan istri mereka."
"Maaasss..."
__ADS_1
Abrisam hanya terkekeh dan kembali merangkul pundak Maya.
Bersambung...