Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Ngidam


__ADS_3

Keesokan harinya, Setelah jam kantor selesai, Vanya berniat membuntuti Ayahnya yang langsung meninggalkan ruangan.


Dengan setengah berlari, Vanya tak ingin lagi kehilangan jejak untuk mengetahui dimana Ayahnya menyembunyikan Maya. Namun niatnya terhenti saat dirinya menabrak seorang wanita memakai masker untuk menutupi wajahnya.


"Aww... Apa kau tidak punya mata!?" tanya Vanya kesal.


Wanita itu terdiam menatap Vanya.


Sementara Vanya yang tidak ingin kehilangan jejak Ayahnya kembali ingin berlari mengejarnya. Namun lagi-lagi wanita itu menghentikan Vanya dengan menarik tangannya.


"Vanya..."


Mendengar namanya di sebut olehnya, Vanya menoleh ke arah wanita itu dan menunggu wanita itu membuka maskernya.


Wanita itu pun membuka maskernya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu..." ucap Vanya terkejut.


"Iya sayang, Ini ibu."


Rasa haru yang Vanya rasakan seketika berubah saat mengingat penghianatan ibunya kepada sang Ayah.


"Untuk apa ibu kesini?!"


"Sayang... Apa kamu masih belum memaafkan ibu?"


"Perbuatan ibu tidak pantas di maafkan, Ibu telah mengkhianati Ayah dan pergi meninggalkan ku demi pria lain, Lalu apa ibu pikir ibu masih pantas di maafkan?"


"Sayang... Tidak ada yang bisa di salahkan dalam cinta, Cinta datang begitu saja tanpa ibu bisa menahannya, Jika seandainya kamu menemukan cinta mu dengan cara yang salah, Maka kamu akan mengetahui jika bukan cintanya yang salah, Tapi waktunya saja yang tidak tepat."


Mendengar hal itu Vanya terdiam dan mengingat bagaimana ia merebut Alvin dari Maya.


"Sayang... Kamu sudah menikah kan, Katakan bagaimana kamu jatuh cinta dengan suami mu?"


"E... Itu... Sudahlah, Aku sedang tidak ingin membahasnya," ucap Vanya melunak.

__ADS_1


"Baiklah sayang, Tidak papa jika kamu tidak ingin bercerita sekarang, Tapi ibu harap suatu saat kamu bisa bercerita banyak selama ibu tidak ada di samping mu."


Vanya hanya mengangguk pelan. Kemudian netranya tertuju pada jas hitam yang berada di tangan ibunya.


"Jas itu...?"


"Oh, Ini... Ini jas Ayah mu, Beberapa hari lalu kami bertemu, Dan Ayah mu meminjamkan ini untuk ibu."


Mendengar itu Vanya tersenyum smirk, Ide jahatnya muncul untuk membuat Maya salah paham dengan situasi saat ini.


"Sayang, Dimana Ayah mu, Ibu ingin mengembalikan ini."


"E... Ayah sudah pulang."


"Baiklah kalau begitu ibu titip jas ini pada mu saja, Tolong ucapkan terima kasih ibu pada Ayah mu."


"E... Tidak ibu." Vanya langsung menepis tangan ibunya yang menyodorkan jas kepadanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Vena bingung.


"Apa?!"


"Ya, Ibu sudah begitu lama tidak menemuiku, Jadi Aku harap ibu bisa datang ke rumah." Vanya menjeda ucapannya.


"Dengan beralasan mengembalikan jas milik Ayah, Ayah pasti tidak akan mempermasalahkan kedatangan ibu." lanjut Vanya.


Mendengar ide dari putrinya, Vena tersenyum smirk karena akhirnya ia memiliki kesempatan untuk kembali bertemu dengan mantan suaminya.


"Ibu, Aku akan memberitahu waktu yang tepat untuk ibu datang ke rumah, Simpan lah nomer telpon ku, Sekarang Aku pergi dulu." sembari menyodorkan kartu namanya, Vanya langsung berlalu pergi meninggalkannya.


Vena memandang punggung putrinya yang pergi meninggalkannya dengan sedikit harapan.


Penyesalannya karena meninggalkan Abrisam dan membuatnya menjadi wanita malam, Membuat dirinya berpikir untuk kembali pada mantan suaminya tersebut.


•••

__ADS_1


Sementara di tempat lain tanpa sepengetahuan Vanya dan Abrisam, Alvin mengikuti Ayah mertuanya untuk mengetahui dimana Maya tinggal.


Dari kejauhan Alvin melihat Ayah mertuanya turun dari mobil dan langsung di sambut oleh Maya yang nampak begitu bahagia menyambut kedatangannya.


"Oh jadi disini Ayah menyembunyikan mantan istri ku." batin Alvin yang terlihat cemburu dengan kemesraan mereka.


"Bagaimana kabar mu hari ini Sayang?" tanya Abrisam yang langsung menggendong Maya masuk ke dalam.


"Bayi kita sedang menginginkan sesuatu." saut Maya sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Abrisam dengan manja.


"Benarkah, Apa yang dia inginkan?"


"Asinan kedondong."


"Asinan kedondong, Malam-malam begini?"


"Hu'um... Dia menginginkannya sejak siang, Tapi Aku takut menganggu pekerjaan mu."


"Baiklah kalau begitu kita pergi ke pusat perbelanjaan, Kita cari di sana."


"Tidak mau."


Mendengar itu Abrisam langsung menurunkan Maya dan menatapnya dengan bingung.


"Lalu?"


"Aku ingin kedondong yang di petik langsung dari pohonnya, Setelah itu Aku ingin Mas Adi sendiri yang membuat asinan untuk ku."


"Apa!? Dimana Ada pohon kedondong Maya?"


"Carilah dimana pun, Aku tidak mau tau, Pokoknya Aku ingin sekali makan kedondong segar yang di petik dan di bikin langsung oleh tangan Mas Adi sendiri!"


Layaknya wanita yang tengah ngidam tak terpenuhi, Maya pun ngambek dan meninggalkan Abrisam yang masih bingung apa yang harus ia lakukan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2