Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Perlawanan


__ADS_3

Vanya yang masih menunggu di luar,, Begitu merasa kesal atas apa yang Ayahnya lakukan, Seumur hidupnya ia tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh Ayahnya. Namun setelah kehadiran Maya, Ia bukan hanya merasa di nomor duakan oleh Ayahnya. Namun ia merasa Ayahnya tidak lagi menyayanginya seperti dulu lagi.


"Ini tidak boleh terjadi! Maya tidak boleh mencurahkan rasa cintanya pada Ayah, Jika ini terjadi maka Ayah akan semakin di perbudak olehnya dan Ayah akan semakin mengasingkan ku!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Maya telah mengatakannya, Sekarang pasti mereka sedang mencurahkan rasa cintanya satu sama lain," ucap Alvin.


Vanya terdiam menatap Alvin dan mengingat rencana sebelumnya yang gagal saat ia menyuruh Alvin untuk membuat Maya jatuh cinta kembali kepadanya.


"Vanya...?"


Tidak menghiraukan pertanyaan Alvin, Vanya melangkah melewati Alvin dan mendekati ibunya.


"Ibu... Apa ibu masih memiliki perasaan pada Ayah?"


"A-a-apa maksud Sayang?"


"Ibu, Aku ingin ibu kembali pada Ayah, Aku tidak rela jika Ayah bersama Maya."


"Tapi mereka sudah menikah Sayang, Dan Ayah mu tidak mencintai ibu lagi."


"Lalu apa masalahnya? Seperti Aku berhasil merebut Alvin dari Maya, Maka ibu juga harus berhasil merebut Ayah darinya."


"E... Bagaimana caranya Sayang, Ayah mu begitu membenci ibu."


"Jangan khawatir ibu, Aku akan membantu ibu untuk mendapatkan Ayah kembali."


Vena terdiam dan mulai berpikir mendengar ide jahat putrinya.


"Vanya benar-benar licik, Bagaimana Aku bisa terjerat oleh wanita sepertinya dan meninggalkan wanita seperti Maya." batin Alvin menatap kesal istri dan ibu mertuanya.


"Tapi... Tidak masalah, Jika Vanya berhasil memisahkan Maya dan Adiyaksa Abrisam, Maka kesempatan ku untuk kembali bersama Maya akan terbuka lebar," ucap Alvin tersenyum smirk.


•••


Maya merasa panik melihat Abrisam yang meringis kesakitan.


Namun meskipun begitu Abrisam masih nampak berusaha tenang dan memaksakan senyumnya.


"Akan ku panggilkan Dokter," ucap Maya.

__ADS_1


"Tidak perlu... Kamulah Dokter dari segala penyakit ku."


"Mas Adi, Kamu masih bisa bercanda?"


Abrisam tersenyum dan meraih tangan Maya. Kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Apa yang membuat mu begitu sulit mengatakannya?" tanya Abrisam


"Seperti yang ku katakan di depan semua orang, Bukankah sikap dan tindakan nyata lebih baik daripada sekedar kata-kata?"


"Ya, Aku percaya itu, Tapi tidak dengan orang lain, Mereka tidak percaya jika kamu mencintai ku dan Aku sebagai manusia biasa tidak munafik, Bahwa Aku juga menginginkan kata cinta terucap dari bibir mu." Abrisam mengusap bibir Maya dengan ibu jarinya seakan ingin kembali me'lumaya.


"Dan Aku telah mengatakannya, Apa sekarang Mas Adi senang?"


"Ya lebih baik, Sayang saja keadaan ku sedang seperti ini, Jika tidak..."


"Jika tidak apa yang akan Mas Adi lakukan?"


"Maka Aku akan langsung menerkam mu! Aaarrrggghhh...!" Abrisam yang kembali menggenggam rambut bagian belakang Maya dan menyatukan hidung kembali merasakan sakit di bagian lehernya.


Maya terkekeh geli dan melesapkan tangan Abrisam dari rambutnya.


"Tidak-tidak... Maafkan Aku," Maya masih menahan tawanya sembari turun dari ranjang.


"Mau kemana?"


"Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Mas."


Abrisam mengangguk pelan dan membiarkan Maya, Meninggalkan ruangan.


Begitu sampai luar, Tatapan tajam dari Vanya, Alvin dan juga Vena tertuju kepadanya mengisyaratkan ketidak sukaan mereka atas apa yang terjadi. Namun Maya mengabaikan mereka semua dan terus melangkah melewati mereka.


"Jangan merasa senang apalagi merasa menang dari ku!" ucap Vanya sehingga menghentikan langkah Maya yang kembali menoleh ke belakang.


Dengan senyum tipis Maya sedikit menaikan dagunya seolah menantang Vanya yang terlihat begitu marah padanya.


"Aku Vanya Adiyaksa Abrisam, Jika Aku bisa merebut suami pertama mu, Maka Aku juga bisa merebut suami kedua mu yang tak lain adalah Ayah yang begitu menyayangi ku."


"Benarkah? Tapi sepertinya sekarang Ayah mu lebih menyayangi ku daripada menyayangi mu?"

__ADS_1


"Maya, Kau berrrani menantang ku!!!" Vanya mengangkat tangan untuk menampar Maya. Namun Maya segera menahannya dan mencengkeramnya dengan erat.


"Jangan pernah berrrani mengangkat tangan mu kepada ku!" tegas Maya sembari mempererat cengkramannya.


"Aowww sakitttttt..." ringis Vanya.


"Maya...." ucap Alvin mencoba mendekati mereka namun di dahului oleh Vena yang coba menghentikan apa yang di lakukan oleh Maya pada putrinya.


"Lepaskan putri ku!"


"Aku ajan melepaskannya jika Anda bisa mendidik putri Anda dengan benar!"


"Jadi kamu menilai didikan ku salah?"


"Tanyakan saja kepada dirimu, Apa menurut mu dia sudah menjadi anak yang baik?!" Maya terus mencengkeram pergelangan tangan Vanya seolah meluapkan kekesalan yang tertahan selama ini.


"Sakitttttt... Lepasinnn..." Vanya terus berusaha melepaskan tangannya. Namun Maya sedikit pun tak peduli melihat Vanya merengek kesakitan.


"Maya kamu mentakitinya," ucap Alvin.


"Hegh! Baru seperti ini saja kalian sudah merasa Aku menyakitinya?!"


"Maya... Lep-as..."


"Vanya!" triak Alvin yang melihat Vanya tiba-tiba jatuh pingsan.


"Sayang..."


Maya yang melihat Vanya pingsan langsung melepaskan cengkeramannya dan sedikit merasa panik dengan apa yang terjadi.


"Vanya, Bangunlah..." ucap Alvin menepuk-nepuk pipi Vanya.


"Cepat bawa dia menemui Dokter," ucap Vena panik.


Maya hanya bisa melihat Alvin menggendong Vanya dan membawanya pergi.


"Jika terjadi sesuatu pada putri ku, Aku tidak akan memaafkan mu," ucap Vena sebelum pergi menyusul Alvin.


"Astaga apa yang ku lakukan, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Vanya, Mas Adi pasti tidak akan pernah memaafkan ku," ucap Maya menggenggam rambutnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2