Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Extra Bab


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Vanya melihat Ayahnya yang sudah menunggunya di depan pintu, Vanya sedikit tegang karena lagi-lagi ia pulang tengah malam padahal Ayahnya sudah sering kali memperingatkan dirinya agar tidak lagi keluyuran karena kini ia telah menjadi seorang ibu. Dengan langkah perlahan, Vanya mendekati Ayahnya yang belum melihat kedatangannya.


"Ayah..."


Abrisam menoleh melihat Vanya yang sedikit menundukkan kepalanya. Rasa khawatir dan kesal menjadi satu di hati Abrisam.


"Bukankah Ayah sudah seringkali mengatakan jangan pernah keluar tanpa izin, Apalagi pulang sampai larut malam begini?!"


Maya yang mendengar suara lantang Abrisam bergegas keluar dan menyuruh perawat menjaga anak-anak.


"M-maafkan Aku Ayah."


"Vanya, Kapan kamu mau berubah, Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu, Jika kamu ingin kehidupan mu dan putrimu jauh lebih baik, Maka mulailah memperbaiki diri sendiri, Pikirkan lah putrimu Vanya. Bangun ikatan batin dengannya dari sekarang."


Maya yang melihat Abrisam tengah menasehati Vanya berdiam diri di pintu, Ia menunggu Abrisam selesai menasehati Vanya sebelum mengungkapkan pendapatnya.


"Ayah tau kamu sedih dengan keadaan mu, Ayah tau kamu sedih karena putrimu tidak memiliki Ayah tapi..."


Kata-kata itu semakin membuat Vanya sedih hingga ia tidak lagi mendengar kalimat apa yang Abrisam katakan selanjutnya.


Melihat hal itu, Maya mendekati Vanya dan merangkulnya.


"Sudah cukup Mas, Biarkan Vanya istirahat," ucap Maya.


"Sayang Aku belum selesai bicara, Selama ini Aku membebaskannya, Terlalu memanjakannya sehingga Vanya jadi seperti ini, Sekarang Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan terus membiarkan dia bertindak semaunya."


Vanya yang sudah tidak tahan lagi dengan kata-kata Ayahnya, Berlari meninggalkan mereka dengan tangisannya.


Melihat itu, Maya memprotes cara Abrisam yang di nilainya terlalu keras pada putrinya.


"Vanya sedang terluka Mas, Tidak bisa kita menasehatinya dengan cara seperti ini, Kita harus lebih sabar dan lembut agar nasehat kita di terima olehnya, Dengan itu ia tidak akan merasa sendiri menghadapi kenyataan hidupnya."


"Apa caraku terlalu keras?" tanya Abrisam menurunkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Tentu saja, Mas terlihat seperti ingin memangsanya saat bicara. Sangat menakutkan."


"Benarkah? Apa kamu merasa takut jika Aku ingin memangsa mu sekarang, Hmm?" Abrisam mendekat dan meraih pinggang Maya untuk merapat kepadanya.


"Tentu saja, Ini belum empat puluh hari." ujar Maya tertawa.


Abrisam ikut terkekeh mendengar jawaban Maya. "Baiklah, Aku akan sabar menunggu, Satu Minggu lagi kan?"


"Itu kalau sudah bersih kalau belum, Mas harus menunggu lebih lama lagi."


"Hhuffft! Berapa lama lagi Aku sudah tidak tahan." rengek Abrisam membenamkan wajahnya di pundak Maya.


Maya terkekeh dan mengusap kepala Abrisam. "Setidaknya tiga Minggu lagi."


"Oh ya ampun... Itu lama sekali."


"Hahaha... Sudahlah, Pergilah temani Aditya, Aku akan menemui Vanya sebentar."


"Baiklah tapi setelah itu bantu Aku yah."


Melihat Maya mengetahui maksudnya, Abrisam tersenyum dan meninggalkan Maya yang masih tertegun melihatnya.


Setelah Abrisam pergi, Maya memalingkan pandangannya yang seolah baru tersadar dari apa yang ia pikirkan. Ia memukul kepalanya sendiri kemudian pergi ke kamar Vanya.


Tok... Tok... Tok....


Ckleekkk...


Dengan wajah yang masih sedih Vanya membukakan pintu untuk Maya. Ia menyadarkan separuh tubuhnya ke daun pintu tanpa bertanya apapun kepada ibu tirinya itu.


"Boleh ibu masuk?" tanya Maya dengan lembut.


Vanya mengangguk kepalanya dan kembali masuk kedalam membiarkan Maya mengikutinya. Kemudian Vanya duduk di tepi ranjang dan meraih bantal untuk menutupi pa'ha nya yang hanya mengenakan celana yang begitu minim.

__ADS_1


Maya pun ikut duduk di depannya dan mulai mengajaknya bicara.


"Tadi dari mana?" Maya sengaja memberikan pertanyaan ringan untuk memulai pembicaraan. Namun itu justru membuat Vanya kembali sedih mengingat kebahagiaan Alvin dengan istri barunya.


"Vanya... Ada apa, Apa pertanyaan ibu salah?"


"E-tidak Bu, Aku hanya merasa sedih dengan keadaan ku."


Maya terdiam, Membiarkan Vanya meluapkan kesedihannya.


"Tadi tanpa sengaja Aku makan di rumah makan milik Alvin dan istrinya..." Vanya menjeda ucapannya.


"Meskipun dalam kesederhanaan, Tapi sekarang Alvin sudah terlihat begitu bahagia dengan istrinya, Lalu bandingkan dengan ku, Aku benar-benar menyedihkan, Bahkan putriku yang masih suci tanpa dosa tidak ada satupun dari mereka mau mengakuinya."


Maya menghelai nafas dalam-dalam dan mencoba memberikan pendapatnya untuk membuat Vanya lebih tenang dan berpikir positif.


"Bukan tidak ada, Tapi belum ada." tegas Maya.


"Maksud ibu?"


"Yah, Mungkin mereka masih sehat, Masih bisa bersenang-senang kesana kemari, Tapi tunggu saja... Akan ada masanya mereka menyesali perbuatannya dan akan mencari mu untuk mengakui Vanina sebagai putrinya tanpa kamu memintanya."


"Apa itu mungkin?" tanya Vanya yang merasa memiliki sedikit harapan.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Jika Alvin bisa hidup tenang dan bahagia, Kenapa kamu tidak."


Mendengar itu, Vanya tersenyum dan memeluk Maya.


"Terimakasih ibu, Ibu telah membuat hatiku lebih tenang, Ibu juga membuatku sedikit memiliki harapan yang indah untuk masa depan ku."


"Sama-sama Sayang, Yang penting teruslah berusaha menjadi lebih baik. Karena jika diri kita baik, Maka kebaikan juga akan turut menyertai kita."


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan terus memeluk Maya dengan begitu nyamannya.

__ADS_1


šŸ“Œ Lama gak Update masih rame gak, Gak rame gak update lagi 🤣


__ADS_2