Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Membahagiakan


__ADS_3

Abrisam mengangkat kepalanya dari ceruk leher Maya ketika mendengar Maya mengerang seperti menahan sakit.


Ia menatap wajah sang istri dan melihat keringat dingin memenuhi dahinya.


"Sayang, Apa kamu baik-baik saja?" tanya Abrisam sambari memeriksa suhu tubuh Maya dari dahi hingga lehernya.


"Perutku sakit sekali Mas." ringis Maya sembari memegangi perutnya.


"Tahan sebentar, Aku ke kamar mandi dulu," ucap Abrisam yang langsung berlari ke kamar mandi.


Tak berlama-lama Abrisam kembali keluar dan membantu Maya mengenakan pakaiannya.


"Darah?" tanya Abrisam yang melihat bercak darah di atas seprei dimana Maya duduk.


"Mas..." Maya hanya menatap Abrisam bingung.


"Apa kamu datang bulan?"


"Ntah lah, Tapi Aku tidak pernah datang bulan sesakit ini."


"Baiklah, Kalau begitu kita ke rumah sakit." Abrisam langsung membopong tubuh Maya dan membawanya menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Abrisam tak henti-hentinya menggenggam tangan Maya yang menahan rasa sakit di perutnya, Sementara tangan kanannya fokus untuk mengemudi.


"Mas Adiiii ini sakit sekali..."


"Sabar Sayang sebentar lagi kita sampai."


Setelah perjalanan kurang dari satu jam, Akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


Abrisam langsung membopong tubuh Maya dan berlari masuk berteriak meminta pertolongan.


"Dokter... Suster... Tolong istri Saya." pekik Abrisam.


Dua perawat pun berlari ke arahnya dengan membawa kursi roda.


"Silahkan dudukan di sini Tuan." ujar perawat.


Abrisam mengangguk dan mendudukkan Maya di kursi roda tersebut.


"Biar kami yang menangani."


"Tapi Sust..."


"Anda bisa menunggu di luar ruangan, Silahkan ikut kami."


Mendengar hal itu Abrisam mengangguk patuh dan mengikuti kemana Perawat akan membawa Maya.


"Baiklah, Tuan bisa tunggu di disini, Doker akan segera menangani istri Anda."

__ADS_1


"Sayang..." Abrisam mengusap kepala Maya karena rasa khawatirnya.


"Aku tidakak papa Mas," ucap Maya melepaskan tangan Abrisam yang masih menggenggamnya.


Dengan terpaksa, Abrisam melepaskan tangan Maya dan membiarkan Perawat membawa Maya masuk ke dalam ruangan Dokter yang akan memeriksanya. Sementara ia harus menunggu di balik pintu menantikan hasil pemeriksaan yang Dokter lakukan.


•••


Waktu yang menunjukkan hampir pukul satu dini hari membuat Alvin resah karena Vanya belum juga kembali ke rumah.


Ia terus berjalan mondar-mandir dan sesekali membuka tirai jendela untuk melihat kedatangan Vanya. Namun hingga waktu terus berjalan Vanya tidak juga kembali.


"Kemana Vanya pergi." gumam Alvin yang juga merasa resah memikirkan kepergian Maya.


Sedangkan yang di tunggu-tunggu tengah asyik menikmati alunan musik DJ di sebuah club malam dengan di apit dua pria yang melihat kemolekan tubuh Vanya. Tak jarang para lelaki hidung belang itu memberinya minuman untuk Vanya yang terlihat pasrah menenggak minuman yang mereka sodorkan ke mulutnya.


"Eummm... Ini sudah cukup," ujar Vanya setelah menenggak minuman untuk yang kesekian kalinya.


Kedua pria itu hanya saling melihat dan tertawa puas karena mangsa terlihat sudah mulai hilang kesadarannya.


"Satu kali lagi, Ayolah..." bujuk salah satu pria tersebut.


"Tidak, Ini sudah cukup, Aku ingin pulang." ujar Vanya dengan langkah yang sempoyongan.


"Kami antar."


"Tidak perlu!" dengan kasar Vanya mendorong pria tersebut.


"Ayolah cantik, Biarkan kami mengantar mu."


Melihat kedua pria itu yang terlihat begitu sungguh-sungguh ingin mengantarkannya, Akhirnya Vanya setuju dan memberikan kunci mobilnya pada salah satu pria tersebut.


Vanya pun masuk kedalam mobil dengan duduk di kursi belakang dengan satu pria menemani dan satunya memegang kemudi.


Dengan cepat mobil meninggalkan club malam tanpa bertanya di mana alamat rumah Vanya.


Vanya yang sudah cukup mabuk hanya menyandarkan kepalanya ke jok mobil tanpa curiga kemana kedua pria tersebut akan membawanya.


"Sepertinya dia sudah mulai teler Bro," ucap Pria yang berada di samping Vanya.


"Sikat aja Bro, Hahahaha..." ucapnya tertawa lepas.


Pria yang di samping Vanya pun mulai menelisik seluruh tubuh Vanya dari ujung rambut hingga ujung kaki, Rok yang sangat minim serta belahan dada yang begitu rendah membuat Pria tersebut menelan salivanya.


"Sial...!!! Si Jony gue bangun Bro." ujar Pria tersebut.


"Tunggu apa lagi, Sikat Bro."


"Di sini?"

__ADS_1


"Kenapa tidak, Ntar gue ikutan deh, Gue juga ingin merasakan sensasinya bermain dalam mobil, Hahahaha."


"Dasar!"


Setelah mendengar apa yang rekannya ucapkan, Pria yang di samping Vanya pun mulai menjalankan aksinya secara brutal, Vanya yang setengah sadar membelalakkan matanya dan memukul-mukul lengan kekar pria itu. Namun tubuh kecilnya tak mampu melawan Kungkungan pria tersebut.


"Eummmhhh... Eummmhhh..." pria itu terus menggarapnya tanpa ampun hingga Vanya yang sebelumnya memberontak kini hanya bisa pasrah menikmati sensasi yang tidak pernah ia dapatkan dari Alvin.


"Arghhh...! Bikin gue pengen aja," ucap pria yang memegang kemudi.


"Hahahaha lanjut ke hotel Bro."


"Ide bagus, Sepertinya gadis ini juga tidak menolak, Hahahaha."


Dan benar saja, Mereka berdua membawa Vanya yang kini terkulai lemas ke hotel terdekat untuk melanjutkan aksi bejadnya.


•••


Ckleekkk...


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Abrisam begitu melihat Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Tidak perlu merasa khawatir, Hal ini biasa terjadi pada kehamilan trimester pertama."


"Apa! Hamil? Istri saya hamil Dok?"


"Ya benar, Usia kehamilan istri Anda kini telah menginjak usia lima minggu, Tiga hari, Selamat ya Tuan..."


"E... Ya Dok, Terimakasih, Tapi kenapa istri saya terlihat begitu kesakitan Dok? Dan darah itu?"


"Ada banyak alasan mengapa ibu hamil mengalami pendarahan ringan atau bercak pada trimester pertama.."


"Apa ini karena..." Abrisam menghentikan ucapannya karena merasa malu untuk mengatakannya. Namun Dokter yang mengetahui apa yang tidak bisa Abrisam ucapkan tersenyum dan mulai menjelaskannya.


"Kebanyakan tidak ada hubungannya dengan aktivitas hubungan int'im. 15 hingga 25 persen bumil mengalami perdarahan pada trimester pertama bisa dikarenakan implantasi sel telur yang telah dibuahi.


Pendarahan yang lebih berat dapat menunjukkan masalah seperti plasenta previa atau kehamilan ektopik. Kehamilan membuat serviks mengalami beberapa perubahan besar. Hormon kehamilan bisa membuatnya lebih kering dari biasanya dan bahkan bisa menyebabkan pembuluh darah lebih mudah pecah. Kadang-kadang berhubungan int'im dapat menyebabkan iritasi ringan pada **** * sehingga menyebabkan pendarahan atau bercak ringan yang akan terlihat merah muda. Kondisi ini termasuk normal dan akan hilang dalam satu atau dua hari. Tapi Anda perlu mewaspadai jika kondisi pendarahan istri Anda menunjukkan gejala sebagai berikut :



Berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari.


Berwarna merah tua atau berat (mengharuskan ibu hamil untuk sering mengganti pemba'lut).


Diiringi dengan kram, demam, nyeri, atau kontraksi." tutur Dokter mengakhiri penjelasannya.



"Baiklah Dok, Terimakasih banyak. Aku akan menjaga istriku dengan baik," ucap Abrisam yang bahagia tak terkira mendengar Maya telah mengandung buah cintanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2