
Vena terus mengikuti Andrie dan membuka pintu mobilnya. Namun Andrie langsung menghentikannya. Dengan menutup kembali pintunya sehingga tangan Vena hampir terjepit.
"Mau ngapain?"
"Andrie... B-bukankah..."
"Apa? Apa Tante pikir Aku mau kembali dengan Tante?"
"Andrie tapi kamu bilang... Kamu... E-kita..."
"Heh denger ya Tante, Aku terpaksa ngeluarin Tante dari penjara untuk merebut anak ku, Jika Tante tidak bisa melakukannya, Untuk apa Aku kembali pada Tante, Tante aja sekarang jadi gelandangan siapa juga yang mau hidup susah dan menghabiskan waktu dengan wanita tua seperti Tante."
Bagaikan tercabik-cabik pisau air mata Vena langsung mengalir deras. Ia begitu percaya diri sehingga lupa jika usianya semakin menua. Terlebih kini ia tidak memiliki apa-apa, Mana mungkin laki-laki muda dan tampan seperti Andrie mau dengannya.
Vena hanya bisa melihat mobil Andrie yang semakin jauh meninggalkannya, Kemudian ia menoleh ke rumah besar, Dimana rumah itu pernah menjadikan dirinya bal Ratu dengan segala fasilitasnya. Namun ia tak bisa menahan hawa nafsunya sehingga hanya penyesalan yang kini ia rasakan di hari tua.
Sementara di dalam Vanya tengah mendekap erat putri kecilnya yang hampir di bawa lari oleh Andrie dan juga ibunya. Sebuah perasaan yang belum pernah Vanya rasakan yaitu perasaan takut kehilangan anak yang dulu tak ia inginkan.
Melihat hal itu Abrisam tersenyum mengusap Vanya dan juga cucunya. "Sekarang kamu bisa merasakan bagaimana rasanya hampir kehilangan anak."
Mendengar itu Vanya berdiri menatap Ayahnya.
"Ayah senang lihat kamu sudah banyak berubah, Teruslah jaga dan sayangi Vanina. Jangan sampai kamu menyesal karena tidak banyak menghabiskan waktu dengannya."
"Iya Ayah, Terimakasih telah menghentikan mereka tepat waktu, Jika tidak mungkin sekarang Aku sudah kehilangan Vanina."
__ADS_1
"Itu sudah menjadi tanggung jawab Ayah, Oh ya... Kamu belum memperkenalkan dirinya, Siapa dia?"
"Dia... Jo..."
"Jo, Nama yang keren."
"Sebenarnya Johari Tuan." saut Johari.
Abrisam tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Itu nama yang bagus Jo, Johari yang memiliki makna permata, Semoga hatimu seperti pertama."
"Hatinya memang seperti pertama Ayah." saut Vanya menatap Johari dengan penuh rasa kagum.
"Oh ya tadi Saya dengar Andrie menyebut mu..."
"Supir Tuan." tanpa merasa malu apa lagi gengsi, Johari memberitahu pekerjaannya.
"Saya sudah lebih dari lima tahun kerja bersama orang tua Non Siska, Tapi semenjak Non Siska menikah dengan Boss Andrie, Sekarang Saya lebih sering melayani mereka."
"Tadi sepertinya dia sangat marah kepada mu, Jika dia memecat mu, Beritahu Aku."
"Baik Tuan."
"Oh ya kalian kenal dimana?"
__ADS_1
"Kita..." saut Vanya dan Johari secara bersama-sama. Membuat keduanya saling menatap dan tersenyum malu-malu.
"Kok gak ada yang jadi cerita?"
"A-mmm... Sebenarnya kita kenal karena tidak sengaja mobil kita bertabrakan.
"Sebenarnya bukan mobil ku, Itu mobil Non Siska."
"Ya Aku tak peduli itu punya siapa Jo."
"Jadi...? tanya Abrisam.
"Ya saat pertama kali mobil ku menabrak mobilnya, Dan yang kedua tanpa sengaja dia melintas saat mobilku mogok ya begitulah sampai pertemuan ke tiga ke empat dan seterusnya."
"Wow... Banyak sekali kebetulan yang terjadi, Apakah ini pertanda jika kalian berjodoh?"
Vanya yang mendengarnya menarik nafas panjang menatap Johari dan menunggu reaksi darinya. Namun Johari terlihat begitu santai menanggapi ucapan Ayahnya.
"Jodoh adalah salah satu misteri, Hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan jodoh untuk setiap hamba-Nya. Apakah pertemuan-pertemuan itu tanda Aku dan Non Vanya berjodoh atau tidak selalu ada rahasia di balik itu semua."
Mendengar itu Abrisam menatap Vanya yang langsung menunduk seolah kecewa dengan jawaban yang Johari berikan.
š Terimakasih ya Semangatnya, Ternyata masih banyak banget yang nungguin ššš
Jangan lupa mampir juga ke Novel baru "SUAMI SEPERTI PAPA" yah.... I love you all ššš
__ADS_1