
"Dasar modus..." Maya menepis wajah Abrisam dan mengikis jarak diantara mereka.
Setelah melihat senyum di bibir Abrisam, Maya mulai membuka pembicaraan
"Apa sekarang Aku boleh menyuarakan pendapat ku?"
"Ya, Tentu."
"Vanya bilang dua pria itu sedang berada di rumah sakit yang sama apa tidak sebaiknya Mas pergi ke sana untuk mencari tahu siapa Ayah dari bayi yang Vanya kandung?"
"Sayang... Aku tahun setiap wanita hamil menginginkan suami atau Ayah dari bayi yang ia kandung, Tapi jika Ayah bayi itu brengs'ek seperti mereka apakah kalian para wanita tetap ingin mereka bertanggung jawab?"
Maya terdiam mendengar pertanyaan Abrisam.
"Aku tau setiap orang bisa berubah, Tapi dua baji'ngan itu sepertinya tidak akan berubah dalam waktu dekat ini, Terbukti mereka mengelak atas apa yang di lakukan pada Vanya, Dan... Siapa nama pria yang sudah beristri itu?"
"Rio?" tanya Maya memastikan.
"Yang satu lagi."
"Andrie?"
"Andrie...?" Abrisam terdiam mendengar nama Andrie seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Iya Andrie, Ada apa dengan nama itu?"
"Aku akan segera kembali," ucap Abrisam yang bergegas mengambil kunci mobil dan meninggalkan kamar.
Maya yang merasa bingung ikut keluar mengikuti Abrisam. Namun langkahnya terhenti setelah melihat Vanya tengah berdiri di samping pintu kamar dengan derai air matanya.
"Vanya...?"
Dengan tangis yang semakin kencang, Vanya langsung memeluk Maya.
"Vanya, Ada apa?" tanya Maya sembari mengusap lembut kepala putri tirinya itu.
__ADS_1
"Maafkan Aku... Maafkan atas semua dosa yang pernah ku lakukan pada mu."
Maya yang mendengar itu menarik nafas dalam-dalam, Ia tidak pernah menyangka jika Vanya akan menyadari kesalahannya dan meminta maaf padanya.
"Selama ini Aku sudah begitu jahat pada mu tapi di masa tersulit ku, Justru kamu membela ku dan membujuk Ayah untuk terus menjaga dan melindungi bayi ku."
"Sudahlah Vanya semuanya sudah berlalu, Aku sudah bahagia bersama Ayah mu, Aku tidak lagi marah apalagi menyesali perceraian ku dengan Alvin dan untuk masalah Aku membujuk Ayah mu... Itu murni dari keinginan ku, Kita sama-sama wanita, Dan kita sama-sama tengah mengandung, Aku tau betul kesulitan mu."
"Ibu..."
Maya terhenyak mendengar Vanya yang untuk pertama kalinya memanggilnya ibu. Selama ini Vanya hanya mau memanggilnya ibu Maya itupun jika di depan Abrisam. Namun jika di belakang Abrisam Vanya hanya memanggil Maya hanya dengan namanya saja.
"Ibu maafkan Aku..." Vanya kembali memeluk Maya dan menangis di pundaknya. Seakan masih tidak percaya dengan penyesalan Vanya, Maya mencubit tangannya sendiri.
"Aowww..." ringis Maya merasakan sakit karena cubitannya sendiri.
"Ada apa ibu?"
"Tedak papa, Kemarilah." Maya yang sudah merasa yakin jika ini bukan hanya sekedar mimpi, Tersenyum bahagia dan memeluk erat Vanya sembari mengusap-usap kepala dan punggungnya.
Setelah berpelukan cukup lama, Dan kembali merasa tenang, Mereka berdua mengurai pelukannya.
"Ibu tidak tahu, Begitu mendengar nama Andrie, Ayah mu langsung pergi begitu saja."
"Apa Ayah ke rumah sakit?"
Mendengar itu Maya menjadi khawatir jika Abrisam akan membuat keributan di sana.
"Kita pergi ke sana," ucap Maya.
"Tapi bagaimana Ayah akan menemukan Andrie kalau Ayah belum pernah bertemu dengannya?" tanya Vanya sembari menuruni anak tangga satu persatu.
"Entahlah, Mungkin Ayah mu tidak ingat kesitu."
ā¢ā¢ā¢
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Abrisam lsegera mencari keberadaan Andrie tanpa bertanya dimana Andrie di rawat. Seperti halnya Vanya, Satu persatu Abrisam memeriksa setiap kamar pasien hingga tak jarang ia mendapat teguran dari perawat, Pasien hingga keluarga pasien yang merasa tidak senang dengan kedatangannya yang tanpa permisi.
"Satu lantai lagi yang belum ku periksa," ucap Abrisam yang kemudian menuju lift.
Kini Abrisam kembali memeriksa ruangan VVIP dan lebih bersikap sopan dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Hingga kamar ketiga dan keempat, Abrisam belum juga menemukan Andrie.
"Ayaaah..."
Abrisam yang akan mengetuk pintu kelima menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Abrisam cukup di buat terperangah melihat Vanya yang tersenyum menggandeng tangan Maya dan melangkah mendekatinya.
Hingga mereka berdiri di depannya, Abrisam masih seperti tak percaya melihat keakraban mereka.
Melihat raut wajah Abrisam, Maya dan Vanya saling memandang dan tersenyum.
"Apa Ayah tidak sedang bermimpi?"
Mendengar itu, Maya langsung mencubit pipi Abrisam.
"Aowhhh..." ringis Abrisam memegangi pipinya.
"Apa sakit?" tanya Maya.
"Tentu saja, Apa kamu mau merasakannya?" Abrisam berusaha mencubit pipi Maya. Tapi Maya berhasil menghindar sehingga Abrisam menarik tangan Maya dan memeluknya.
Melihat kemesraan Ayah dan ibu tirinya Seketika Vanya menghentikan senyumnya dan menunduk sedih.
"Kemarilah Sayang," ucap Abrisam yang melihat kesedihan di wajah putrinya.
Dengan senyum dan tangisan haru, Vanya memeluk Ayah Abrisam yang juga tidak melepaskan Maya dari pelukannya.
Kini Abrisam bisa memeluk kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya tanpa perlu lagi memilih di antara keduanya.
__ADS_1
Bersambung...
š Maaf kemarin gak jadi Doble Up, Tau sendiri lah kalau punya Baby tidak bisa di prediksi šš