Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Kejutan


__ADS_3

Maya sampai di rumah namun tidak menemukan mobil Abrisam di garansi. Ia pun kembali merasa sedih mengingat apa yang Abrisam katakan padanya. Dengan tetes air matanya, Maya masuk ke dalam dan mengemasi barang-barangnya.


Setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, Maya pun meninggalkan kamar beserta koper di tangannya.


Satu persatu Maya menuruni anak tangga, Hingga separuh tangga ia lewati, Langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Alvin dan Vanya yang tengah menaiki tangga.


Melihat Maya yang membawa koper di tangannya, Vanya tersenyum puas karena akhirnya, Maya akan meninggalkan rumah.


"Apa Ayah mengusir mu?" ejeknya.


Maya hanya terdiam dan berusaha melewati mereka. Namun Vanya dengan kasar kembali menarik pergelangan tangannya.


"Sudah ku katakan! Adiyaksa Abrisam adalah Ayah ku, Dia sangat menyayangi ku, Jadi meskipun dia menghukum ku, Dia akan lebih memilih ku daripada dirimu yang baru hadir dalam hidupnya!"


Maya hanya bisa menahan air matanya yang hampir terjatuh dari kelopak matanya. Tanpa mau berdebat lagi dengan putri sambungnya itu, Maya menghempaskan tangan Vanya dan menuruni anak tangga melewati mereka.


"Maya..." seru Alvin.


Vanya yang mendengar Alvin memanggil Maya langsung melotot menatapnya.


"Apa perlu Aku mengantar mu?"


"Alvin!" tegur Vanya dengan kesal.


"Apa kau ingin ke neraka bersama ku?" saut Maya dingin.


Mendengar itu, Alvin terdiam menoleh pada Vanya seakan mencari tau maksud perkataan Maya.


Setelah mengatakan itu Maya, Meninggalkan rumah dan berjalan keluar untuk mencari kendaraan.


Belum ada lima menit ia berdiri di tepi jalan, Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya, Maya sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


Dalam hitungan detik kaca jendela mobil itu terbuka dan membuat Maya begitu terperangah melihat sosok pria yang ada dalam mobil tersebut.


"Mas Abi?"


Ya pria itu tak lain adalah Abrisam suami Maya yang nampak tenang menatap Maya yang masih terlihat bingung.

__ADS_1


"Masuklah."


"Hagh!?" Maya seolah tak percaya mendengar apa yang suaminya perintahkan.


Melihat Maya yang masih saja berdiri tak menuruti perintahnya, Abrisam pun turun merebut koper dari tangan Maya dan memasukannya ke bagasi. Kemudian ia membukakan pintu untuk Maya dan memakaikan sabuk pengaman kepadanya.


Maya menatap wajah Abrisam yang begitu dekat dengannya, Ia masih tidak mengerti dengan sikap Abrisam yang seketika berubah padahal saat di kantor ia begitu marah.


Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman Abrisam menatap Maya yang terus menatapnya bingung. Abrisam hanya mencubit kecil pipi Maya dan duduk di kursi kemudi.


Tanpa berkata apapun, Abrisam menjalankan mobilnya meninggalkan kediamannya.


Sepanjang perjalanan tidak ada satu obrolan pun yang mereka lontarkan hingga pada saat di tikungan jalan, Maya mempertanyakan Abrisam yang mengambil jalan yang berlawanan dari rumahnya.


"Mas, Apa kamu lupa dengan jalan rumah ku?" tanya Maya bingung.


"Tidak ada satu hal pun yang Aku lupakan dari dirimu." saut Abrisam yang terus menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Maya.


"Lalu kemana kita mau pergi?"


Abrisam hanya menoleh ke arah Maya sesaat tanpa menjawab pertanyaan Maya yang terlihat begitu penasaran.


Sesuatu yang membuat Maya semakin bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang tengah suaminya rencanakan.


"Turunlah," ucap Abrisam membukakan sabuk pengaman untuk sang istri.


Kemudian ia mengambil koper Maya dan menyuruh Maya masuk bersamanya.


Maya di buat terperangah dengan interior rumah yang terlihat begitu nyaman dan indah, Meskipun tidak sebesar rumah yang mereka tempati sebelumnya. Namun suasana di rumah ini terlihat jauh lebih nyaman untuk di tempati.


"Apa kamu menyukainya?" bisik Abrisam hingga menyentuh telinga Maya.


"E-Mm..." Maya yang begitu kaget tergagap dan menoleh ke samping hingga hidung keduanya beradu.


Abrisam tersenyum dan mengges'ekan hidung mereka beberapa kali dengan gemas hingga membuat Maya semakin di buat bingung oleh sikap suaminya.


"Mas...?"

__ADS_1


Abrisam yang melihat mimik wajah Maya yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang ia lakukan tersenyum dan mengajaknya duduk.


"Maafkan Aku jika tadi pagi Aku sedikit kasar pada mu."


"Maksud Mas?"


"Aku sengaja melakukan itu demi kebaikan kita bersama."


"Kebaikan? Kebaikan seperti apa yang Mas maksud?"


"Masalah mu dan Vanya serta Alvin tidak akan selesai jika kalian masih saja tinggal bersama, Oleh karena itu Aku memintamu menjauhi ku di depan mereka, Tapi apakah menurut mu Aku bisa menjauh dari mu?"


Maya mulai di buat meleleh oleh apa yang Abrisam Katakan.


"Aku tidak bisa menjauh darimu walau sedetik saja." lanjut Abrisam.


"Meskipun Aku tidak mengatakan Aku mencintaimu?"


"Kata-kata cinta hanya simbolis, Tanpa kamu mengatakannya Aku tau kamu sudah mencintai ku, Kamu hanya perlu meyakinkan diri mu."


"Mas terlalu percaya diri," ucap Maya tersenyum.


"Tentu saja, Aku sudah merasakannya ketika kamu melakukannya kewajiban mu sebagai seorang istri sepenuh hati. Tidak ada yang melakukannya dengan sepenuh hati jika ia tidak mencintai pasangannya."


Maya terdiam, Pipinya sedikit memerah dengan perkataan Abrisam.


"Lihatlah pipi mu memerah." godanya lagi.


Maya langsung menutupi kedua pipinya dengan tangannya. Kemudian ia memeluk Abrisam untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Mas Adi adalah suami terbaik." puji Maya yang entah kenapa hatinya begitu berbunga.


"Benarkah, Kalau begitu beri Aku pelayanan terbaikmu."


Mendengar hal itu Maya langsung melepaskan pelukannya dan memukul lengan kekarnya.


Abrisam hanya tertawa dan kembali meraih tubuh Maya ke pelukannya.

__ADS_1


Bersambung...


šŸ“Œ Buat yang nyari-nyari kemana hilangnya Author, Author nya lagi kurang sehat nih dah beberapa hari, Ibu juga lagi ngedrop, Jadi mohon maaf dan doanya ya biar kami selalu di beri kesehatan šŸ˜¢šŸ™


__ADS_2