
Vanny menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan tawa lepasnya.
Ia benar-benar merasa menang karena mengira Ayahnya telah mengusir Maya yang menjadi biang masalah hubungan dirinya dengan Alvin dan juga Ayahnya.
"Akhirnya... Hidupku kembali damai setelah sekian lama," ucap Vanya sembari memejamkan mata dengan begitu bahagia nya.
Sementara Alvin hanya duduk menatap sang istri, Hatinya seakan tak rela jika Maya telah pergi dari rumah besar itu.
"Hey Alvin, Apa yang kamu pikirkan?" tanya Vanya yang langsung bergelayut manja di bahu Alvin.
"Aku hanya sedang berpikir, Apakah Ayah benar-benar mengusir Maya?"
"Tentu saja, Bukankah kita lihat sendiri, Mereka bertengkar di kantor, Dan setelah itu Maya pergi membawa semua barang-barangnya di hadapan kita, Lalu apa lagi yang kamu ragukan?"
"Aku hanya..."
"Sudahlah Alvin, Lupakan tentang wanita itu, Sekarang lihat Aku." Vanya meraih pipi Alvin agar mau menatapnya.
"Sejak kedatangan Maya, Kita sudah jarang melakukannya, Aku sangat merindukannya Alvin." dengan menggigit bibir bawahnya, Vanya mengusap bagian bawah milik Alvin yang masih terbungkus rapat di dalam celana panjangnya.
__ADS_1
Setelah itu Vanya langsung naik di pangkuan Alvin dan melum'at bibirnya dengan gerakan mendorong hingga tubuh Alvin berbaring di ranjang. Satu persatu Vanya melepaskan kancing kemeja Alvin hingga tak tersisa sehelai benang pun yang menutupi tubuh sang suami.
Masih menjadi andalan dan favoritnya, Vanya langsung melahap bagian inti yang selalu bisa membuat Alvin bergair'ah dan melayang jauh hingga membuat dirinya meninggalkan Maya.
"Oughhh.... Oughhh... Oughhh...." lenguh Alvin sembari menjambak rambut Vanya untuk mempercepat permainannya. Setelah merasa tak tahan lagi, Alvin segera bangkit dan merubah posisinya dengan membuat Vanya berbaring di bawah Kungkungan nya. Namun ketika Alvin ingin melakukan penyatuannya, Vanya menolak dengan mendorong dada Alvin menggunakan kedua kakinya.
"Ini tidak adil," ucap Vanya yang ingin terlebih dahulu bermain-main sebelum ke tahap terakhir.
"Vanya Aku sedang lelah sekali, Lain kali saja, Sekarang kita bermain cepat."
"Tidak Alvin! Ada apa dengan mu, Kenapa sejak pernikahan Ayah dan Maya kamu selalu membuat berbagai macam alasan?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka, Ayolah Vanya."
"Vanya, Kamu mau kemana Vanya?!" Alvin yang masih polos hanya bisa melihat Vanya yang pergi dan menutup pintu dengan begitu kerasnya.
Sementara di rumah barunya Abrisam dan Maya juga tengah menikmati malam romantis mereka dengan memadu kasih di bawah selimut yang menutupi sebagian tubuh polos mereka.
Cahaya temaram lampu tidur dan desah'an saling bersahutan tanpa takut ada siapapun yang mendengar membuat kamar terasa kian panas hingga keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya yang tengah berlomba mencapai puncak kenikmatannya.
__ADS_1
Maya yang yang sebelumnya berada di atas tubuh Abrisam kini berganti posisi dengan bertumpu pada kedua tangan dan kakinya di atas ranjang. Posisi yang membuat keduanya semakin menggila karena sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dari sebelumnya.
Hentakan demi hentakkan beriringan dengan desa'han yang terus mengiringi permainan panas mereka untuk yang ke tiga kalinya pada malam itu. Seolah tidak ada beban lagi mereka melakukannya lebih bergair'ah dari malam-malam sebelumnya.
"Mas Adiiii... Akhhhhh..." lenguh Maya yang merasakan nyeri yang luar biasa pada perutnya.
Mendengar itu, Abrisam memutar tubuh Maya dan membuatnya berbaring. Dengan mengangkat kedua kakinya ke pundak kekarnya, Abrisam kembali melanjutkan permainannya untuk mengejar puncak kenikmatannya yang tak lama lagi akan segera ia raih.
"Mayaaa... Oughhh.... Ughhhh...." Abrisam terus menghentakkan pinggulnya dengan begitu kuatnya hingga kedua bukit kenyal milik Maya berguncang dan menjadi pemandangan indah untuk Abrisam yang sesekali mere'mas nya secara bergantian.
"Akhhhhh Akhhh Akhhh..." Maya meracau menggelengkan kepalanya kesana kemari, Menahan gempuran terus menerus dari Abrisam yang seolah tiada lelahnya.
"Sayang Aku hampir sampai..." ucap Abrisam sembari menengadahkan kepalanya ke atas.
Maya yang mendengarnya tak menjawab, Ia hanya bisa memejamkan mata sambil meracau tak karuan bebarengan dengan tubuhnya yang terasa ingin meledakkan sesuatu.
"Aaaakkkhh..." lenguh Maya merasakan cai'ran panas yang membasahi miliknya hingga mengalir keluar.
"Oughhhhhhhh... Oughhhh...." Abrisam terkulai lemas di atas tubuh Maya seiring berakhirnya permainan panas yang mereka ciptakan.
__ADS_1
Bersambung...
š Sekali lagi mohon maaf, Jika Up nya lama, Itu karena Author belum sehat sepenuhnya, Terimakasih untuk yang selalu sabar menanti, Semoga kalian selalu di beri kesehatan dan rezeki yang berlimpah ā¤ļø