Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Keputusan Abrisam


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit, Maya memutuskan untuk tinggal di rumah barunya. Abrisam pun menyetujuinya dan mengantarnya pulang.


Setelah itu Abrisam meminta izin untuk kembali ke rumah besar mengambil beberapa keperluannya karena ia telah memutuskan akan tinggal menemani Maya dan meninggalkan putri kesayangannya untuk tinggal bersama Alvin untuk menghindari konflik antara mereka bertiga.


Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Abrisam menyeret kopernya dan meninggalkan kamar. Namun baru sampai di pintu utama, Abrisam berpapasan dengan Vanya dan Alvin yang baru pulang ke rumah. Mereka pun tercengang melihat Abrisam yang terlihat ingin meninggalkan rumah dengan membawa serta koper besar di tangannya.


"Ayah..."


"Vanya..."


"Kenapa Ayah membawa koper sebesar itu, Apa Ayah akan pergi meninggalkan ku?"


"Vanya, Maafkan Ayah Sayang, Tapi Ayah harus pergi."


"Kemana?!"


"E... Itu..."


"Menemui ibu Maya?"


Abrisam terdiam dan tidak bisa mengelak dari pertanyaan Vanya.


"Jadi benar, Ayah dan ibu Maya hanya bersandiwara?"


"Vanya..."


"Yang sebenarnya Ayah dan Ibu Maya tidak bertengkar kan, Ayah tidak mengusir ibu Maya seperti yang Ayah tunjukan di kantor?"


"Ya itu benar, Maafkan Ayah tapi yang Ayah lakukan sudah tepat."

__ADS_1


"Tepat apanya Ayah, Ibu Maya tidak mencintai Ayah, Dia masih menyimpan perasaan pada Alvin."


"Itu pendapat mu, Tapi yang sebenarnya tidak seperti itu. Sudahlah Vanya, Kamu tidak ingin tinggal bersama ibu Maya kan? Jadi biarkan Ayah dan ibu Maya yang pergi meninggalkan rumah, Jadi kamu bisa bebas tinggal di sini bersama suami mu," ucap Abrisam sembari melirik Alvin.


"Tapi Ayah..." Vanya yang mencekal tangan Ayahnya terkejut melihat beberapa lembar kertas jatuh di kakinya.


Ia pun membungkuk untuk mengambil kembaran kertas itu dan membalik kertas tersebut untuk melihat apa isinya. Dan alangkah terkejutnya Vanya melihat kertas itu adalah hasil USG atas nama Maya Alfiansyah Abrisam.


"Ayah... Ibu Maya...?"


"Ya, Dia tengah mengandung adik mu, Jadi Ayah tidak bisa membiarkan ia tinggal sendirian di masa kehamilannya sekarang." Abrisam merebut hasil USG tersebut dan bergegas pergi melewati Vanya yang masih terpaku tak percaya.


"Vanya..." ucap Alvin mendekati Vanya yang masih terus terpaku.


"Alvin... Ini tidak mungkin."


"Ini tidak boleh terjadi, Maya tidak boleh hamil, Jika ini terjadi, Ayah akan semakin menyayangi Maya dan tidak mungkin menceraikannya." lanjut Vanya yang terlihat begitu kesal.


"Tapi dengan Ayah Abrisam hanya dengan hitungan bulan Maya sudah hamil." batin Alvin.


•••


Sesampainya di rumah baru Abrisam langsung di sambut oleh Maya yang nampak begitu bahagia melihat Abrisam yang membawa serta barang-barangnya. Seolah lupa jika ia tengah mengandung, Maya langsung berlari memeluk Abrisam hingga membuat Abrisam ketar-ketir dengan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Sayang... Hati-hati," ucap Abrisam menangkap tubuh Maya yang yang hampir terjatuh.


"Hehehe..." Maya hanya nyengir kuda melihat kepanikan Abrisam.


"Kamu terlihat begitu sangat bahagia," ucap Abrisam.

__ADS_1


"Ya," ucap Maya singkat.


"Apa ini karena keputusan ku untuk meninggalkan Vanya dan memilih tinggal bersama mu?"


"E... Bukan seperti itu, Aku tidak bermaksud ingin memisahkan mu dari putri mu, Tapi kamu mengetahui masalah kami bertiga, Dan sejak Aku keluar dari rumah besar itu, Aku merasa lebih tenang, Aku juga tidak lagi ingin membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada ku, Terlebih sekarang ada bayi yang harus ku jaga, Kata Dokter Aku harus selalu bahagia karena itu akan sangat mempengaruhi perkembangan janin yang ada dalam kandungan ku."


Mendengar hal itu Abrisam tersenyum dan memeluk Maya dari belakang mengusap perutnya yang masih rata dengan kedua tangannya.


"Dan Aku akan selalu membuat mu bahagia." bisik Abrisam sembari mengecup atas telinga Maya.


Maya tersenyum memegang kedua tangan Abrisam kemudian memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.


Seolah menelusuri kedalaman perasaan masing-masing, Keduanya terdiam menatap mata satu sama lain.


Ingin sekali Maya mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Namun keberanian dan keraguannya belum mengizinkannya sehingga Maya hanya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Abrisam mengusap lembut kepala Maya dan kembali mengecupnya.


"Kita istirahat?"


Maya mendongakkan kepalanya ke atas dan langsung di sambut kecupan manis Abrisam tepat di bibir tipisnya.


Setelah itu Abrisam membopong tubuh Maya dan membaringkannya di ranjang.


"Istirahatlah, Dokter bilang awal kehamilan kita tidak boleh melakukannya," ucap Abrisam yang langsung di balas dengan cubitan Maya yang terlihat begitu malu.


"Apa Aku memintanya?" tanya Maya sembari mengerucutkan bibirnya.


Abrisam hanya tertawa melihat ekspresi wajah Maya yang terlihat begitu menggemaskan di matanya hingga tak tahan untuk mencubit pipinya yang merona.

__ADS_1


Bersambung...


šŸ“Œ Beribu-ribu Maaf dari Author yang jarang Update, Author lagi konsumsi obat, Mata terasa lengket banget, Hawanya pengin tidur terus, Gak bisa di paksain untuk nulis. Jadi sangat memaklumi jika kalian tidak sabar dan Unfavorit, Dan untuk yang masih sabar menunggu terimakasih banyak, Semoga kalian di beri kesehatan dan rezeki yang halal dan melimpah ā¤ļø


__ADS_2