
"Andrie.."
"Tante Vena..."
Vanya yang melihat Ibu dan pria yang bernama Andri itu sama-sama terkejut menjadi penasaran ada hubungan apa antara keduanya.
"Jadi ibu mengenalnya?"
"A-mm... Dia... Dia..."
"Ibu...? Jadi Tante Vena ibu dari wanita ini?" batin Andrie.
"Dia siapa ibu, Ada hubungan apa ibu dengan nya?!"
"Sayang... Dia..."
"Aku Andrie, Aku hanya pernah bertemu dengan Tante Vena di club, Tidak ada hubungan apapun diantara kami," Ucapan Andrie langsung membuat Vena melotot kesal.
"Baiklah kalau begitu Aku pergi dulu."
"Tunggu!" Vanya menarik tangan Andrie untuk menghentikan langkahnya. Melihat pemandangan itu, Vena semakin terlihat kesal. Namun Andrie yang mengetahui itu, Mengabaikannya dan memilih mendekati Vanya.
"Ada apa, Apa kamu menginginkannya lagi?"
"Menginginkannya lagi, Apa mereka baru melakukannya?" batin Vena.
"Jaga bicaramu, Aku kesini ingin memberitahu mu tentang ini," ucap Vena sembari menunjukkan alat tes kehamilannya.
"Apa ini?" Andrie mengambil benda pipih itu dan melihatnya secara seksama dua garis merah itu.
"Alat tes kehamilan! Aku hamil!"
"Apa!? Hamil?"
__ADS_1
"Ya, Aku hamil."
"Hahahaha... Lalu apa hubungannya dengan ku Sayang, Bukankah kau bermain bukan hanya dengan satu pria, Bukan Aku saja yang meni'duri mu tapi Rio juga, Dan mungkin selain kami berdua masih banyak pria lain yang meni'duri mu."
"PLAKKK...!!!" satu tamparan keras mendarat di pipi Andrie hingga membuat Andrie dan juga Vena terkejut dengan serangan mendadak itu.
"Apa kamu pikir Aku wanita murahan?"
Mendengar itu Andrie naik pitam dan langsung mencengkeram erat kedua rahang Vanya hingga tubuhnya terdorong menabrak dinding.
"Berrraninya kau menampar ku!"
"Mmmhhh..." Vanya mencoba melepaskan tangan Andrie dari cengkeraman. Namun tenaganya tak sebanding dengan kekuatan tangan Andrie.
"Lalu Aku harus menyebut mu apa jika bukan wanita murahan sementara kau mau saja berhubungan dengan orang yang tidak kau kenal?"
"Kau... Kau yang memaksa ku!"
"Kau benar-benar pria kurang ajar!" Vanya kembali mengangkat tangannya. Namun segera di tahan oleh Andrie.
"Turunkan tangan mu!" Andrie menghempas tangan Vanya dengan kasar hingga tubuhnya terayun dan menabrak Vena yang sedari tadi diam saja.
"Ibu dan Anak sama saja," ucap Andrie yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Sayang... Kamu tidak papa?"
"Lepaskan!" triak Vanya.
"Apa yang ibu lakukan di sini, Ibu yang mengajak ku ke sini, Tapi ibu diam saja ketika pria itu menyakiti ku!"
"Sayang maafkan ibu, Ibu..."
"Aku benar-benar kecewa pada ibu." Vanya langsung pergi meninggalkan ibunya dan pergi meninggalkan club. Sementara Vena yang tidak bisa menghentikan Vanya, kembali masuk untuk mencari Andrie.
__ADS_1
Setelah melihat kesana-kemari di antara ramainya pengunjung yang datang, Vena pun melihat Andrie yang tengah asyik berjoget dengan salah satu wanita muda yang mengenakan pakaian begitu terbuka.
Tidak mempedulikan para pengunjung yang mayoritas berusia muda, Vena menyusup masuk di antara mereka dan menyeret tangan Andrie menjauh dari keramaian.
"Apa-apaan sih, Lepasin!" triak Andrie.
"Andrie jadi begini kelakuan mu sekarang! Setelah Aku tidak memiliki apa-apa kamu menghilang dan bersenang-senang dengan para wanita muda?"
Andrie hanya tersenyum smirk mendengar apa yang Vena katakan.
"Andrie, Segalanya telah Tante berikan untuk mu, Rumah, Mobil, Biyaya kuliah semua telah Tante berikan, Tapi inikah balasan mu?"
"Tanteee..., Yang Tante berikan itu tidak cuma-cuma, Aku sudah memberikan kepuasan pada Tante dan sebagai gantinya Tante memberikan itu semua pada ku, Jadi kita inpas kan, Tidak ada lagi hubungan diantara kita."
"Tapi Tante mencintai mu Sayang, Tante berhubungan dengan mu bukan hanya sekedar kebutuhan."
"Tapi Aku tidak pernah mencintai Tante, Semua yang ku lakukan Aku anggap hanya sebagai pekerjaan."
"Andrie..."
"Tante... Biarpun hidupku sekarang begini, Aku selalu memimpikan wanita baik-baik untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, Jadi berhentilah mengganggu ku!"
"Kamu benar-benar baji'ngan Andrie, Setelah kamu menghabiskan uang Tante, Kamu juga menghamili putri ku, Dan sekarang kamu bilang kamu ingin menikah dengan wanita baik-baik? Apa kamu tidak punya cermin? Hah!" Vena yang merasa begitu emosi mengambil botol minuman dan memukulkannya ke kepala Andrie hingga Andrie tersungkur berlumuran darah.
"Aaa.....!" Andrie meringis kesakitan memegangi kepalanya, Sementara pengunjung lain yang mendengar kegaduhan itu berkerumun melihat keadaan Andrie.
"Dia bisa mati," ucap salah satu pengunjung.
"Cepat panggil keamanan," ucap yang lainnya.
Mendengar hal itu, Vena ketakutan dan segera berlari dari kerumunan. Namun usahanya meninggalkan club gagal karena dua penjaga keamanan langsung menangkap Vena dan membawanya ke kantor polisi.
Bersambung...
__ADS_1