
Dari kejauhan Alvin menghentikan langkahnya begitu melihat kemesraan Abrisam dan Maya. Kemudian ia memalingkan pandangannya kesana-kemari untuk menghindari pemandangan yang cukup menyesakkan hatinya.
Di saat dirinya tengah di hadapkan pada masalah rumah tangganya dengan Vanya, Justru sang mantan kini nampak begitu bahagia bersama suami keduanya.
"Hhhhuuufff... Apakah ini hukuman atas penghianatan ku padanya." batin Alvin.
Beberapa menit kemudian Alvin bersembunyi di balik tiang karena Maya dan Abrisam kembali melangkah keluar. Nampak mereka terus bersenda gurau hingga masuk kedalam mobil yang sudah menjemputnya.
"Maya sudah benar-benar terlihat bahagia bersama Ayah mertua, Sementara Aku... Ntah apa yang akan terjadi padaku setelah hasil pemeriksaan ku keluar." batin Alvin.
"Sekarang bagaimana ibu? Bagaimana jika pemeriksaan yang Alvin lakukan ternyata benar jika Alvin tidak bisaemiliki keturunan?"
"Ini tidak boleh terjadi Sayang, Jika ini terjadi Ayah mu tidak akan pernah menerima anak yang tidak jelas siapa Ayah nya."
"Ibu... Kenapa ibu malah bicara seperti itu? Apa ibu mau Ayah mengusir ku seperti Ayah mengusir ibu?"
"E-Mm... Tidak sayang, Bukan begitu, Tapi jika itu terjadi bagaimana nasib bayi dan pernikahan mu, Kamu harus memikirkan itu dari sekarang."
Vanya terdiam, Ia sendiri tidak tau apa yang harus di lakukan.
Suami yang seharusnya bisa menjadi tameng untuk menutupi kehamilannya dengan orang lain, Kini malah di vonis tidak bisa memiliki keturunan.
"Sayang apa kamu miliki ide?"
Pertanyaan Vena mengagetkan Vanya yang masih termenung memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"Apa, Bukankah tadi ibu mengatakan jika ibu yang akan mengurus semuanya?"
"E-ya kamu benar tapi Alvin sudah terlalu lama pergi, Bagaimana ibu akan menghentikannya?"
"Pikirkan lah ibu... Bagaimanapun caranya Alvin tidak boleh mendapatkan hasil tesnya."
"Kenapa Aku tidak boleh mendapatkannya?"
Vanya dan Vena begitu terkejut melihat Alvin yang telah berdiri di ambang pintu.
"Alvin..."
__ADS_1
Alvin melangkah mendekati Vanya dengan tatapan tajamnya.
Perkataan yang baru saja ia dengar dari istri dan ibu mertuanya membuatnya semakin yakin jika bayi yang ada dalam kandungan istrinya bukanlah darah dagingnya.
"Alvin... Apa kamu sudah melakukan tes?" tanya Vena.
"Ya, Dan kurang dari 24jam Aku akan mengetahui hasilnya," ucap Alvin yang terus menatap Vanya penuh curiga.
"Baguslah kalau begitu semua akan terbukti jika bayi yang ada dalam kandungan putriku adalah bayi mu." Vena berusaha tenang meskipun sebenarnya ia panik dan tidak tau apa yang harus dilakukan untuk mencegah Alvin mendapatkan hasil tesnya.
"Kita lihat saja nanti." saut Alvin yang kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Setelah melihat Alvin keluar ruangan, Vanya kembali memarahi ibunya atas apa yang baru saja ibunya katakan.
"Kenapa ibu mengatakan itu pada Alvin, Bagaimana jika Alvin terbukti tidak bisa memiliki keturunan?!"
"Lalu ibu harus apa Vanya, Apa ibu harus panik dan membuat Alvin semakin curiga kepada mu?"
Vanya terdiam dan menghelai nafas kasar.
"Sayang... Kita harus memiliki rencana cadangan untuk mengatasi ini."
"Apa kamu mengenal pria-pria itu?"
"Tidak, Aku tidak mengenalnya."
"Tapi kalau wajah pasti ingat kan?"
Vanya terdiam mengingat saat ia tersadar di pagi hari.
"Vanya, Tidak mungkin kan kamu melakukan itu tanpa tau wajah mereka?"
"Ibu... Aku mabuk, Aku hanya melihatnya sebentar ketika Aku bangun tidur, Tapi jika Aku melihatnya lagi, Aku pasti mengenali mereka."
"Baiklah kalau begitu setelah kamu keluar dari rumah sakit, Kita pergi ke club itu, Siapa tau kita bertemu dengan pria-pria itu."
"Untuk apa ibu?"
__ADS_1
"Untuk apa lagi Sayang? Jika Alvin terbukti tidak bisa memiliki keturunan, Artinya dia bukan Ayah dari bayi yang kamu kandung. Bagaimana jika dia tidak mau menerima bayi mu dan menceraikan mu, Itu berarti kamu harus mencari Ayah kandungnya kan?"
"Ibu benar, Bagaimana jika Alvin tidak menerima bayi ku dan menceraikan ku, Apa Aku harus melahirkan bayi ini tanpa seorang Ayah?" batin Vanya.
"Sayang... Siapa tau pria-pria itu dari keluarga konglomerat sehingga mereka bisa seenaknya meniduri wanita yang belum ia kenal."
"Lalu apa hubungannya ibu, Ayah masih cukup banyak uang untuk Aku membeli apapun yang Aku inginkan sehingga Aku tidak perlu menjual diri pada pria-pria itu!"
"Apa kamu sedang menghina ibu mu?!" tanya Vena yang merasa tersinggung.
"E-b-bukan seperti itu ibu, Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud menyinggung ibu, Ibu tau kan Aku menikahi Alvin bukan karena dia anak konglomerat, Bahkan Alvin tidak setara dengan Ayah, Tapi Aku tidak peduli karena saat itu Aku begitu mencintainya."
"Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa kamu masih mencintainya?"
"Entahlah ibu, Hubungan kami semakin renggang sejak pernikahan Maya dan Ayah, Dia selalu sibuk memikirkan mantan istrinya itu sehingga selalu mengabaikan ku."
Sementara di rumah barunya, Maya tengah menikmati asinan kedondong yang sudah beberapa hari ia simpan di dalam kulkas.
Dengan memejamkan mata, Maya begitu meresapi Asinan tersebut yang susah payah mereka dapat hingga Abrisam harus masuk ke rumah sakit.
"Euuummm... Ini benar-benar segar."
Abrisam hanya tersenyum menatap sang istri yang terus melahap dengan ekspresi wajah yang sangat menggai'rahkan di matanya.
Menyadari hal itu, Maya menghentikan makannya dan membersihkan bibirnya yang basah karena asinan kedondong yang ia makan. Namun dengan cepat, Abrisam langsung menahan tangan Maya dan mendekatkan wajahnya.
"Biar Aku yang membersihkan nya."
Maya membelalakkan matanya saat Abrisam membersihkan bibirnya menggunakan lidahnya.
Melihat ekspresi wajah Maya, Abrisam tersenyum dan malah melum'at bibir Maya yang sedikit terbuka.
"Ini lebih nikmat dari asinan kedondong yang mengantarkan ku ke rumah sakit," ucap Abrisam tersenyum lebar.
Maya yang tersipu malu menepuk lengan Abrisam dan mendorongnya jauh darinya.
Bersambung...
__ADS_1
š Mengsedih itu ketika sudah nulis lebih dari 700 kata malah kehapus begitu saja, Auto mikir lagi dari awal š