
Setelah kepergian Vanya, Alvin dan Jihan mulai membereskan piring-piring kotor di meja. Hari ini mereka sengaja tutup lebih awal karena Alvin ingin mengajak Jihan dan Tiara menikmati malam minggu di pasar malam yang di adakan di dekat rumahnya.
Rumah makan sederhana yang belum begitu ramai pengunjung, Membuat Jihan dan Alvin mengurus warung makannya sendiri tanpa bantuan pelayan. Meskipun sekarang Alvin tidak lagi bekerja di perusahaan Abrisam dengan gaji fantastis. Namun kehidupannya kini terasa jauh lebih tenang dalam kesederhanaan.
Menjadi rutinitas sehari-hari, Dengan senang hati Alvin mencuci piring-piring kotor yang menumpuk. Sementara sang istri mengemasi sisa makanan yang tidak habis untuk di bawa pulang, Sesekali mereka saling berpandangan dan melempar senyum satu sama lain.
Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing, Dengan penuh perhatian Jihan mendekati sang suami dan mengeringkan tangannya menggunakan handuk kecil.
Alvin tersenyum menatap wajah sang istri yang selalu memperlakukannya dengan begitu baik meskipun dirinya tidak bisa memberikannya keturunan.
"Kata orang-orang hidup ku begitu enak karena setelah apa yang ku lakukan di masa lalu, Aku bisa menikahi istri sebaik dirimu, Tapi mereka tidak pernah tau jika penghianatanku pada mantan istri pertama, Telah terbalas oleh istri kedua ku yang hamil bukan darah daging ku, Belum lagi kenyataan yang menyatakan jika Aku tidak bisa memiliki anak, Apa semua itu belum cukup untuk menebus kesalahanku? Apa yang lebih menyakitkan lagi selain tidak bisa memiliki anak?"
"Mas sudah sering mengatakan ini, Dan Aku juga sudah sering mengatakan, Apakah Tiara bukan anak Mas juga?"
"Bukan begitu Jihan, Tentu saja Tiara juga putri ku, Aku hanya berpikir, Apakah suatu saat kamu tidak akan menyesal karena Aku tidak bisa memberi mu keturunan? Aku takut kamu menyesal dan berpaling meninggalkan ku."
"Apa Aku terlihat wanita seperti itu?" tanya Jihan menjeda ucapannya.
"Meskipun awal pernikahan kita karena wasiat terakhir Mas Anto dan tidak di dasari cinta. Namun seiring berjalannya waktu perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.
__ADS_1
Mas begitu menyayangi Tiara, Mas juga memperlakukan ku dengang sangat baik, Hingga pekerjaan rumah pun Mas tidak segan untuk membantu ku, Apa lagi yang kurang Mas? Bahkan jika Mas Anto bisa berbicara pada kita mungkin ia akan berterima kasih kepada Mas karena telah menjadi sosok suami dan Ayah yang baik untuk Tiara sehingga Tiara tidak merasa kehilangan sosok Ayah di usianya yang masih begitu kecil." lanjut Jihan.
Mendengar itu Alvin tersenyum lega. Seperti halnya Jihan, Alvin sebelumnya juga tidak mencintai Jihan, Ia menikahi Jihan hanya untuk membalas budi atas kebaikan Anto yang telah membantu kesulitannya saat keluar dari perusahaan Abrisam.
"Aku sudah gagal dua kali dalam pernikahan ku Aku tidak ingin kali ini pernikahan ku gagal lagi."
"Insya Allah mas," ucap Jihan tersenyum.
•••
Di perjalanan, Vanya yang terus teringat kebersamaan Alvin dan Jihan membuat dirinya tidak bisa berkonsentrasi dalam menyetir hingga membuat dirinya beberapa kali hampir menabrak mobil di depannya. Hal itu membuat dirinya kesal dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Kemudian Vanya menelungkupkan kepalanya untuk menenangkan hati dan pikirannya sesaat. Setelah merasa tenang, Vanya kembali menjalankan mobilnya. Namun Vanya yang terlalu fokus melihat ke belakang untuk membelokan mobilnya tanpa sengaja menabrak mobil yang melintas di depannya.
"Hah!!!" Vanya langsung turun dari mobil. Begitu juga pengemudi mobil yang bertabrakan dengan nya.
Jebretttt...
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya mereka berbarengan.
__ADS_1
"E... Aku baik-baik saja, Bagaimana dengan Anda?" tanya pria pengendara mobil tersebut.
"Aku juga baik-baik saja, Bagaimana dengan mobil mu, Maafkan Aku, Aku tidak sengaja." saut Vanya sembari melihat bemper depan mobil pengendara itu.
"Ya Tuhan... Mobil mu rusak cukup parah."
"E-tidak masalah, Besok Aku akan membawanya ke bengkel, Sekarang Aku terburu-buru," ucap pria itu.
"Kamu tidak meminta ganti rugi?"
"Tidak, Insya Allah Aku bisa membayarnya."
Mendengar kata "insya Allah" Vanya tertegun. Meskipun kata-kata sederhana. Namun caranya berbicara yang terlihat begitu lugu dan sopan menjadi daya tarik tersendiri untuk Vanya.
"Catatlah nomor telepon ku, Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menghubungi ku."
"Ya baiklah."
Setelah bertukar nomor telpon, Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.
__ADS_1