
Abrisam menurunkan tangannya dari dinding kaca di mana ia berdiri.
Kemudian ia melangkah melewati Vanya tanpa mengatakan apapun.
Dengan cepat Vanya langsung mengikuti Ayahnya yang menerobos masuk ke ruangan.
Bhraaakkk...!!!
Maya dan Alvin langsung menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
Maya begitu gugup melihat sang suami yang datang secara tiba-tiba, Tapi tidak dengan Alvin, Justru Alvin terlihat sedikit mengukir senyum di sudut bibirnya melihat raut wajah Ayah mertuanya. Begitu juga dengan Vanya yang terlihat begitu yakin jika rencananya kali ini akan berhasil. Namun seketika senyum itu terhenti saat satu kata keluar dari bibir Abrisam.
"Vanya, Alvin kembalilah bekerja," ucapnya dingin.
Vanya membulatkan kedua matanya mendengar apa yang baru saja Ayahnya katakan. Begitu pula dengan Alvin dan Maya yang merasa bingung dengan reaksi Abrisam.
"Ayah..."
"Vanya, Ayah bilang kembali bekerja."
"Tapi Ayah... Ibu Maya..."
"Cukup Vanya, Ayah bukan anak kecil yang mudah di adu domba."
"M-m-maksud Ayah apa?"
"Vanya kamu dan Alvin sedang menjalani hukuman karena kesalan yang kalian lakukan pada Maya, Tapi sekarang tiba-tiba Alvin mendekati Maya, Dan kamu bukannya melabrak apa yang suami mu lakukan, Justru kamu malah memanggil Ayah untuk menyaksikan apa yang sedang suami mu lakukan kepada ibu Maya, Apa menurutmu ini tidak mencurigakan?"
"Em-mhp..." Vanya tergagap dan tidak bisa menjawab apa yang Ayahnya ucapkan.
"A-a-ayah... A-a-aku..."
"Vanya Ayah bilang cukup! Sekarang keluar dan lanjutkan pekerjaan mu, Ingat status mu sekarang di kantor ini hanyalah pegawai biasa, Jadi patuhi atasan mu dan bekerjalah dengan benar!"
Dengan mengeratkan rahang dan menghentakkan kakinya, Vanya meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Dan kau Alvin! Berapa kali Aku katakan pada mu, Jangan pernah mendekati istri ku dengan alasan apapun!"
Alvin hanya mengangguk pelan dan meninggalkan ruangan tanpa berani membantah Ayah mertuanya.
Kini hanya tinggal Abrisam dan Maya di ruangan tersebut. Mereka saling menatap dengan pikiran masing-masing.
Maya yang merasa tegang atas apa yang tidak bisa ia ucapkan kepada Alvin berpikir pasti sang suami merasa sedih dan kecewa terhadap nya. Karena itu Maya mencoba membuka pembicaraan. Namun belum sempat ia mengucapkan satu kata pun. Abrisam langsung melangkah keluar tanpa bicara sepatah kata pun pada Maya.
"Mas Adiiii..." Maya berlari mengejar Abrisam untuk menghentikannya. Dan itu berhasil membuat Abrisam menghentikan langkahnya meskipun ia tidak mau menoleh ke belakang. Meskipun ia tau peristiwa yang baru saja terjadi hanyalah jebakan putri dan menantunya, Namun ia tidak bisa menutupi kekecewaan dalam hatinya mengingat sang istri yang tidak kunjung mencintainya.
"Mas Adi maafkan Aku."
"Untuk?" tanya Abrisam dingin.
"Untuk apa yang Mas Adi lihat dan Mas Adi dengar."
"Aku tidak melihat maupun mendengar apapun!" elak Abrisam yang kembali meninggalkan Maya.
"M-mas Adiiii..." terseok-seok Maya mengimbangi langkah Abrisam yang terlihat begitu kecewa dengan nya dan itu membuat Maya merasa sedih dan sangat merasa bersalah mengingat Abrisam yang selama ini begitu baik dan bijaksana kepada dirinya.
Perkataan itu langsung menghentikan langkah Abrisam hingga membuat Maya menabrak tubuh tegapnya.
"Sudah berapa banyak kesempatan yang ku berikan pada mu?"
"M-mas..."
"Sepertinya untuk sementara waktu kamu perlu menjauh dari ku agar kamu mengetahui isi hati mu."
"A-a-apa maksud Mas, Apa Mas mengusir ku?"
"Terkadang seseorang akan mengetahui perasaannya apa bila orang itu menjauh satu sama lain, Jadi menjauhlah dari ku agar kamu bisa mengetahui apakah kamu mencintaiku atau tidak!"
"Jadi Mas Adi mengusir ku?" tanya Maya yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku tidak mengusir mu, Aku hanya memberimu ruang tanpa harus mengekang, Jadi kamu bisa kembali ke rumah orang tua mu untuk sementara waktu."
__ADS_1
Maya semakin tercengang mendengar apa yang Abrisam putuskan padanya.
Sementara dari lantai bawah, Vanya dan Alvin yang melihat pertengkaran itu akhirnya bisa tertawa puas setelah sebelumnya di buat kesal oleh Ayahnya.
"Kamu lihat itu Alvin, Meskipun di depan Maya, Ayah membelanya dan mengusir kita. Namun kenyataannya Ayah terlihat begitu marah terhadapnya."
"Laki-laki mana yang tidak kecewa mengingat istrinya belum bisa mencintainya dan masih menyimpan cinta untuk mantan suaminya." saut Alvin dengan penuh percaya diri.
"Dan apa kamu juga masih mencintainya?" tanya Vanya.
"E... Apa yang kamu katakan, Bukankah Aku hanya melakukan apa yang kamu perintahkan?"
"Tapi jamu terlihat dengan senang hati menjalaninya."
"Agh sudahlah Vanya, Lihat mereka."
Vanya kembali melihat ke arah Ayah dan ibu sambungnya yang kembali saling melangkah dengan cepat. Abrisam yang menuruni tangga membuat Maya tertatih-tatih mengimbangi langkah Abrisam.
Maya terus menyebut nama Abrisam. Namun Abrisam terus melangkah tak mempedulikannya.
Ketika mereka sampai di lobby dan Abrisam meninggalkan Maya begitu saja, Maya yang ingin mengejarnya di hentikan oleh Vanya dan Alvin.
"Menyingkirlah dari hadapan ku!" tegas Maya.
"Tidak akan!" saut Vanya.
"Vanya, Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat dengan mu!"
"Dan Aku tidak akan membiarkan mu merayu Ayah ku lagi dengan sihir mu itu!"
"Vanya!" Maya menarik lengan Vanya dan mendorongnya dengan kasar. Kemudian ia berlari keluar untuk mengejar Abrisam. Namun ia sudah terlambat karena mobil Abrisam telah melaju kencang meninggalkan kantor.
Bersambung...
š Maaf kemarin gak Up, Author nya gak enak badan š¤
__ADS_1