
Vanya mengalihkan pandangannya begitu melihat Alvin mulai mendekatinya. Ia mulai memikirkan alasan apa yang akan ia jawab saat Alvin menanyakan tentang kehamilannya.
Sementara Alvin terus melangkah semakin dekat dengan tatapan penuh selidik. Hatinya kecilnya meragukan Vanya karena Alvin tau benar jika Maya tidak pernah berbohong. Namun harga dirinya sebagai lelaki yang di nyatakan tidak bisa memiliki keturunan membuat ia menyangkal dan menaruh harapan jika bayi yang ada dalam kandungan Vanya adalah darah dagingnya.
"A-a-alvin..." ucap Vanya sedikit tergagap.
"Kamu hamil?"
"Y-ya, Bayi kita."
Alvin mengukir senyum mengejek mendengarnya.
Bahkan ia memalingkan wajahnya dan semakin meragukannya.
"Kamu meragukan ku?"
"Apa Aku mengatakan sesuatu?"
"T-tidak tapi tapi mimik wajah mu seperti sedang mengejek ku."
"Aku hanya bertanya tentang kehamilan mu untuk memastikan, Tapi kamu langsung mengatakan itu bayi kita, Kapan aku pernah menuduh mu?"
"E-Mm... Tidak pernah."
"Jika tidak, Lalu kenapa kamu terlihat begitu gugup? Dan... Lihatlah ini..." Alvin mengusap kening Vanya yang bercucuran keringat dingin.
"Kamu berkeringat? Apa yang kamu takutkan?" lanjutnya lagi.
"A-a-a.... A-a-aku..."
"Alvin sebenarnya apa yang coba ingin kamu katakan?" celah Vena yang melihat Alvin terus bertanya penuh penekanan.
"Tidak ada, Aku hanya menanyakan tentang kehamilannya, Karena Aku ingat benar, Terakhir kali saat Vanya tidak pulang ke rumah, Kami tidak pernah melakukannya lagi."
"Jadi kamu menuduh putri ku? Kamu juga berpikir sama seperti mantan istri dan Ayah mertua mu?!"
"Aku tidak menuduhnya, Tapi fakta dan sikap putri mu yang membuat ku meragukannya."
"Baiklah, Kalau begitu lakukan tes kesuburan seperti yang Abrisam katakan!"
"Tidak perlu!" triak Vanya.
Alvin dan Vanya secara bersamaan menoleh ke arah Vanya.
__ADS_1
Kemudian Vena mendekati putrinya dan menanyakan apa alasan dia menolak tes tersebut.
"Kenapa Sayang... Bukankah itu di perlukan supaya Alvin dan ibu tiri mu itu tidak menuduh mu macam-macam."
"Ya, Tapi Aku tidak ingin Alvin melakukannya, Aku tidak ingin ada seseorang menghina Alvin seperti ini dengan mengatakan jika ia tidak bisa memiliki keturunan."
"Maka dari itu tes ini di perlukan sayang..." bujuk Vena.
"Tapi Aku tidak ingin Alvin melakukannya ibu, Kehamilan ku sudah membuktikan jika Alvin bisa memiliki keturunan."
"Tapi Aku tidak keberatan untuk melakukannya." tegas Alvin.
Vanya terdiam menatap Alvin.
"Jadi kamu benar-benar meragukan ku Alvin?"
"Bukan begitu Vanya, Tapi tes ini juga untuk membuktikan pada Maya dan Ayahmu jika Aku bukanlah pria yang tidak bisa memiliki keturunan." Alvin berkilah, Dalam hati kecilnya ia merasa jika apa yang di katakan Maya adalah kebenarannya, Dan ia melakukan ingin memastikan apakah bayi yang ada dalam kandungan Vanya darah dagingnya atau bukan.
"Tapi Alvin..."
"Sudahlah Vanya, Kamu tidak perlu khawatir, Aku tidak merasa terhina dengan melakukan ini." Alvin mengakhiri perdebatan dan langsung meninggalkan ruangan.
Melihat Alvin pergi, Vanya semakin panik jika kebenaran tentang dirinya akan terungkap. Melihat kecemasan di wajah Vanya, Vena pun menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sayang ada apa, Kenapa kamu terlihat begitu khawatir? Apa yang di lakukan oleh Alvin akan menutup mulut wanita ular itu yang telah menuduh jika bayi yang ada dalam kandungan mu bukanlah bayi Alvin."
"Apa maksudmu Sayang?"
"Ibu... Yang di katakan Alvin benar, Terakhir kali Aku tidak pulang kami tidak pernah melakukannya lagi."
"Lalu bagaimana ceritanya kamu bisa hamil?"
Vanya terdiam sesaat memikirkan apakah perlu ia menceritakan ini pada ibunya atau tidak.
"Sayang... Katakan bagaimana ceritanya?"
"E-Mm.... Tidak ibu."
"Sayang, Jika kamu tidak menceritakan pada ibu, bagaimana ibu akan membantumu?"
"Apa sebaiknya Aku ceritakan pada ibu saja tentang dua pria yang membawaku ke hotel malam itu..." batin Vanya.
"Vanya Sayang... Katakan, Apapun yang terjadi ibu akan selalu di pihak mu, Akan selalu membelamu."
__ADS_1
Mendengar hal itu Vanya pun akhirnya menceritakan kejadian malam itu, Mulai dari ketidakpuasannya terhadap Alvin dan membuatnya pergi ke club hingga berakhir di kamar hotel bersama dua pria yang tidak di kenal.
"Apa!?" Vena begitu terkejut mendengarnya. Tanpa menunggu Alvin selesi melakukan tes nya, Vena yakin betul jika bayi yang ada dalam kandungan Vanya adalah bayi dari salah satu pria yang meni'durinya.
"Ibu... Sekarang Aku harus bagaimana?"
"E-Mm... Tenanglah sayang, Ibu akan pikirkan solusinya.
Dengan mendekap tubuh Vanya, Vena terus memikirkan cara bagaimana mengatasi masalah putrinya yang sudah lama ia tinggalkan.
ā¢ā¢ā¢
Sementara Abrisam sudah di izinkan pulang.
Mereka bergandeng mesra meninggalkan ruangan dengan sesekali saling memandang dan nelempar senyum.
Di tengah lorong rumah sakit, Mereka berpapasan dengan Alvin yang berjalan berlawanan arah sehingga menghentikan langkah ke-tiga nya.
Mereka terdiam dan saling melihat satu sama lain hingga Alvin memecahkan keheningan.
"Ayah sudah di izinkan pulang?"
"Ya." jawab Abrisam singkat.
"Apakah Ayah tidak ingin menjenguk Vanya meskipun sebentar saja?"
Abrisam terdiam dan menoleh menatap Maya seolah mengharapkan izin dari istrinya.
"E-Mm... Baiklah, Aku sedang terburu-buru, Kalau begitu Aku pergi dulu, Sampai ketemu Ayah, Ibu... Maya," Alvin melirik Maya sesaat dan melangkah melewatinya.
Maya menoleh ke belakang menatap Alvin sesaat dan kembali menatap Abrisam yang tengah terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Jika Mas ingin menjenguk Vanya, Aku tidak keberatan."
Abrisam langsung menoleh menatap Maya. Seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kamu yakin?"
"Aku tidak lagi menyimpan dendam padanya, Seburuk apapapun dia, Dia tetap putri mu, Dan itu artinya dia juga putri ku."
Abrisam tersenyum bahagia mendengar apa yang baru di katakan oleh Maya, Ia pun memeluk erat sang istri kemudian mengajaknya menjenguk keadaan Vanya.
Bersambung...
__ADS_1
š Maaf baru Up, Si kecil habis Aqiqah š
Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk yang sudah dukung Novel ini sehingga novel ini menjadi juara 3 dalam kategori"Konflik Rumah Tangga" I love you All šā¤ļø