
"Tidak bisa!" tegas Alvin yang langsung berdiri dan membuat semua orang kaget menatap dirinya penuh tanda tanya.
Menyadari sikapnya yang berlebihan Alvin kembali duduk dan meralat ucapannya.
"E-maksudku bagaimana bisa Anda melamar seorang pria Tuan, Apalagi orang kaya dan terhormat seperti Anda?"
"Apa salahnya? Saya rela melakukan ini demi kebahagiaan putri ku, Dan saya ingin tahu jawaban Johari, Selebihnya kalian bisa diskusikan ini dengan nya!"
"Tuan Abrisam benar Mas, Johari sudah dewasa, Biarkan dia menentukan masa depannya sendiri."
Mendengar apa yang Jihan katakan, Alvin tidak bisa membantah lagi. Alvin tidak ingin Jihan semakin curiga jika ia ngotot menolak lamaran Abrisam.
"Baiklah Jo, Jadi apa jawaban mu?" tanya Abrisam.
"Saya..." Johari menjeda ucapannya dan mempertimbangkan iya atau tidaknya ia menerima lamaran tersebut.
Setelah berpikir beberapa menit akhirnya Johari memberikan keputusannya.
"Ya insya Allah saya siap Tuan."
Alvin begitu tercengang mendengar keputusan adik iparnya tersebut. Berbeda dengan sang istri dan Abrisam yang tersenyum bahagia mendengar jawaban yang Johari berikan.
"Meskipun Aku belum mencintai Vanya, Tapi ini lebih baik daripada Aku harus kembali bekerja dengan Non Siska. Aku tidak ingin menjadi penyebab kehancuran rumah tangga Non Siska dan Bos Andrie jika terus bekerja di sana." batin Johari sembari tersenyum melirik Abrisam.
"Baiklah, Terimakasih Jo, Bersiaplah karena Aku akan mempersiapkan pernikahan kalian mulai dari sekarang."
Dengan senyum bahagia Abrisam pamit pulang. Ia tidak sabar lagi menyampaikan pada Vanya dan juga Maya. Sementara Alvin langsung mengajak Jihan ke kamarnya membicarakan masa lalunya dengan keluarga Abrisam yang akan menjadi Ayah mertua Johari.
"Jadi mantan istri mu yang akan menjadi istri Johari?"
"Ya, Itu sebabnya Aku bilang tidak bisa, Tapi kamu mengatakan Jo berhak memutuskan sendiri pilihannya."
"Itu karena Aku tidak tahu jika mantan isteri mulah yang akan di nikahkan dengan Jo."
__ADS_1
"Apa!?" percakapan itu di dengar oleh Johari yang langsung masuk ke kamar mereka.
"Jadi Vanya mantan istri Mas Alvin?" tanya Johari memastikan.
"Ya itu benar Jo." jawab Alvin menundukkan kepalanya.
"Berarti istri Tuan Abrisam juga mantan istri mu?" tanya Jihan.
Alvin menganggukkan kepalanya. Ia memang telah menceritakan semua masa lalunya kepada Jihan dan Johari. Tapi Jihan tak pernah menyangka jika lamaran yang baru saja datang untuk adiknya dari Ayah sekaligus suami mantan-mantan nya Alvin.
"Jo... Mbak tidak ingin kamu menikah dengannya! Bayangkan kamu akan hidup selamanya dengan mantan istri Abang ipar mu. Mbak juga tidak bisa membayangkan jika harus menjadi bagian dari keluarga mantan-mantan istri Mas Alvin Jo, Mbak gak bisa."
Johari yang masih bingung terdiam memikirkan keputusan yang telah ia berikan kepada Abrisam, Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan kakaknya jika ia tetap menikahi Vanya.
"Maafkan Aku Jihan, Jo... Ini terjadi karena masa laluku, Aku tidak tahu kenapa Tuhan membawa masa lalu itu kedalam keluarga kita. Jika memang masa lalu ku menghalangi kebahagiaan kalian maka Aku siap jika kamu menceraikan ku."
"Masss... Apa yang Mas katakan, Ini bukan kesalahan Mas Alvin."
"Terimakasih Jo... Terimakasih telah menerima masa lalu ku yang kelam." Alvin memeluk Johari dan sangat merasa bersyukur karena di berikan keluarga yang menerima keadaan dan masa lalunya.
"Sekarang Aku tidak ingin ikut campur dengan keputusan mu Jo, Putuskan apapun yang kamu ingin putuskan. Jika kakak mu bisa berbesar hati menerima ku mungkin kamu juga bisa berbesar hati menerimanya."
"Tapi Aku tidak menerimanya Mas!" tegas Jihan.
Alvin dan Johari terkejut menatap Jihan.
"Jo pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya. Ya Aku tau semua orang pernah melakukan dosa dan bagus jika Vanya telah memperbaiki diri. Tapi untuk di jadikan seorang istri dengan hubungan rumit yang kalian miliki Aku sebagai kakak yang telah membesarkannya tidak rela jika Jo menikah dengan nya. Lagipula Jo juga tidak mencintainya kan?"
Johari menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.
"Nah lalu apa lagi?"
"Tapi Jo sudah setuju Jihan," ucap Alvin.
__ADS_1
"Ini baru kata setuju, Dan mungkin sekarang Tuan Abrisam belum sampai di rumahnya. Jo bisa membatalkannya daripada ia harus menyesal seumur hidupnya."
Mendengar apa yang Jihan katakan, Johari meninggalkan kamar mereka dan menghubungi Abrisam.
"Hallo..." ucap Abrisam begitu mengangkat ponselnya.
"Hallo Tuan..."
"Ya Jo... Ada apa?"
"B-begini Tuan, E-saya mau meminta maaf."
"Minta maaf? Untuk apa?"
"Saya... Saya tidak bisa menikah dengan putri Anda Tuan."
"Apa!?" Abrisam yang baru sampai di depan pintu rumahnya begitu terkejut mendengar pembatalan keputusan yang Johari berikan, Terlebih Abrisam melihat Vanya yang berlari dengan bahagia menyambut kedatangannya.
"Ayah bagaimana?" tanya Vanya.
Abrisam langsung menurunkan ponsel dari telinganya.
"M-maaf sayang, Ayah tidak berhasil."
Maya yang juga menyambut kedatangan Abrisam langsung merangkul Vanya untuk menenangkannya.
"Tidak papa. Aku pernah merusak kebahagiaan ibu Maya, Jika sekarang Aku belum mendapatkan kebahagiaan ku mungkin Aku masih harus memperbaiki diri agar suatu saat kebahagiaan itu datang menghampiri ku." Vanya tersenyum getir dan kembali masuk kedalam.
Sementara Abrisam hanya bisa menatap sedih punggung putrinya sembari merangkul pundak Maya yang juga merasakan hal yang sama.
š Kehidupan seseorang tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Jangankan pernah berbuat jahat, Yang berbuat baik saja terkadang hidupnya tak selalu bahagia.
Sudah ya jangan di tagih-tagih lagi, Beginilah akhir dari kisah Pelakor. Ambil baiknya buang buruknya, Yuk Ahh move on dan baca novel Author yang lain. Nantikan Novel baru Author yah, Terimakasih untuk yang selalu setia menunggu šā¤ļø
__ADS_1