Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Panik


__ADS_3

Abrisam memarkirkan mobilnya di rumah barunya dan langsung berlari ke dalam untuk mencari Maya. Ia menjadi panik karena tidak menemukan Maya di kamarnya.


"Maya... Maya..." triak Abrisam sembari mencoba membuka pintu kamar mandi. Namun pintu kamar mandi terkunci dari dalam sehingga membuat Abrisam semakin di buat panik olehnya.


"Maya..." Abrisam mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak pintu dan alangkah terkejutnya Abrisam melihat Maya yang duduk tak sadarkan diri di bawah wastafel.


"Maya... Sayang..." Abrisam bergegas membopong tubuh Maya dan membaringkannya di ranjang. Kemudian ia mencoba menelfon Dokter untuk memeriksa keadaan Maya. Namun beberapa kali Abrisam menelfon Dokter tidak juga mengangkatnya. Karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Maya, Abrisam kembali membopong tubuh Maya dan segera membawanya ke rumah sakit.


Begitu sampai di rumah sakit, Maya langsung di tangani oleh Dokter yang bertugas hari itu. Sementara Abrisam tidak bisa duduk diam karena mengkhawatirkan keselamatan Maya dan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Jika terjadi sesuatu pada mereka Aku tidak bisa memaafkan diri ku!" ucap Abrisam yang merasa kesal pada diri sendiri.


•••


Sedangkan di tempat lain, Alvin dan Vanya telah sampai ke rumah Maya untuk memastikan apakah Maya telah benar-benar kembali ke rumahnya atau kecurigaan bahwa Ayahnya hanya menyembunyikan Maya di tempat lain memang benar adanya.


Jebrettt...! Vanya menutup pintu mobil dan melihat rumah sederhana yang ada di hadapannya.


"Rumahnya begitu sepi, Aku tidak yakin Maya kembali ke rumah," ucap Vanya melihat Alvin yang melangkah mendekatinya.


"Kita masuk dulu dan pastikan apakah Maya benar-benar kembali kerumah atau tidak."


"Baiklah."


Vanya mengikuti Alvin yang lebih dahulu melangkah mendekati pintu.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Akhirnya pintu itu terbuka.


"Alvin!?" ucap wanita paruh baya yang pernah menjadi ibu mertuanya itu.


"Ibu... Apa kabar?" tanya Alvin berbasa-basi sembari menjabat tangan mantan mertuanya itu.


"Baik," ucapnya singkat dan beralih menjabat tangan Vanya dengan tatapan sedikit sinis.

__ADS_1


"Ada perlu apa?"


"E... Ibu, Apakah Maya kemari?" tanya Alvin.


"Maya? Memangnya ada masalah apa, Kenapa kalian mencari Maya kemari, Apa kalian membuat masalah dengan nya?!"


Mendengar jawaban itu, Vanya dan Alvin saling memandang satu sama lain.


"Alvin! Apa lagi yang kamu lakukan pada putri ku, Apa kamu kembali membuat Maya dalam masalah?"


"E... Tidak ibu, Tadi dari kantor Maya bilang ingin mampir ke rumah ibu, Karena sekarang sudah petang, Jadi kami berinisiatif untuk menyusulnya." ujar Alvin beralasan.


"Kenapa kalian yang menyusulnya kemana suaminya?"


"Sudahlah ibu, Jika Maya tidak ada di rumah kenapa mengajak kami berdebat!" ujar Vanya dengan kesal dan langsung meninggalkan rumah Maya tanpa sopan santun.


"E... Vanya..." Alvin yang merasa tidak enak dengan mantan ibu mertuanya itu menganggukkan kepalanya sebelum mengejar istrinya yang langsung masuk kedalam mobil mewahnya.


"Apa peduli ku, Dan kenapa juga kamu masih peduli dengan wanita tua itu?"


"Vanya..."


"Cukup Alvin, Aku sedang merasa kesal!"


Alvin terdiam dan mulai mengemudikan mobilnya.


Vanya kembali mengingat Ayah nya yang terlihat panik dan langsung meninggalkan kantor saat menerima panggilan telepon.


"Melihat sikap Ayah yang begitu panik dan fakta jika Maya tidak kembali kerumah pasti ada yang tidak beres." batin Vanya yang semakin curiga terhadap Ayahnya.


•••


Di rumah sakit, Abrisam segera masuk kedalam begitu mendapat izin dari Dokter untuk melihat keadaan Maya.

__ADS_1


Dengan rasa bersalah Abrisam terus mengusap-usap kepala Maya yang masih berbaring lemah. Bahkan air matanya tanpa bisa ia tahan terjatuh ke punggung tangan Maya.


Maya yang melihatnya cukup di buat tersentuh melihat air mata dari pria yang terlihat tegas dan kuat itu namun nenjadi begitu lembut hingga meneteskan air mata melihat keadaan istrinya.


"Aku tidak papa," ucap Maya mengusap air mata Abrisam yang membasahi pipinya.


"Jika Aku terlambat sedikit saja, Entah apa yang akan terjadi." sesal Abrisam.


"Kamu datang tepat waktu, Jadi tidak ada sesuatu yang terjadi padaku maupun bayi kita."


"Di saat hamil muda seperti ini, Seharusnya Aku selalu di sampingmu, Aku harus siap siaga menjaga mu dan memenuhi semua keinginan mu..."


"Tapi Mas tidak akan bisa melakukannya kan karena Mas tidak bisa memilih Vanya maupun Aku?"


"Ya, Tapi sekarang tidak lagi."


"Maksud Mas?" Maya mengangkat separuh tubuhnya mendengar apa yang Abrisam katakan.


"Aku tidak mau mengambil resiko, Aku tidak ingin terjadi apapun terhadap mu dan juga bayi kita."


"Jadi...?"


"Kita tidak perlu bersembunyi lagi dari Vanya dan juga Alvin, Kita kembali tinggal bersama tanpa harus berpura-pura di depan mereka."


"Apa itu artinya Mas akan mengajak ku kembali ke rumah besar itu?"


"Itu terserah kamu, Tinggal lah di manapun yang membuat mu nyaman, Maka Aku akan mengikuti mu."


Maya terdiam dan berpikir dimana ia harus tinggal.


Niat awalnya yang ingin membalas dendam terhadap Vanya dan Alvin seolah tak ada lagi dalam benaknya dengan cinta tulus yang Abrisam tunjukan, Terlebih kini ada kehidupan di dalam rahimnya, Membuat Maya tidak lagi memikirkan soal balas dendam dan lebih memikirkan bayi yang ada dalam kandungannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2