
Maya naik ke ranjang dan langsung memeluk Abrisam yang masih setengah berbaring menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal.
Ia membenamkan wajahnya dan sesekali mengecup dadanya yang memang tidak mengenakan baju, Maya memang senang sekali melakukan itu sebelum mereka tidur, Tidak seperti biasanya yang langsung membuat Abrisam berga*rah, Kali ini Abrisam nampak dingin dan hanya melempar senyum terpaksnya.
Hal itu pun di rasakan oleh Maya yang langsung melepaskan pelukannya dan menayakan apa yang terjadi. Namun Abrisam hanya mengatakan jika ia hanya merasa lelah dan ingin beristirahat.
Tidak mau berdebat, Maya pun menyuruh Abrisam istirahat. Begitupun dengan Maya yang langsung berbaring membelakangi Abrisam dengan memeluk selimutnya.
Melihat sang istri demikian, Abrisam merasa tidak tega dan memeluknya dari belakang.
"Maafkan Aku." bisik Abrisam mempererat pelukannya.
"Gak papa Mas, Aku juga cuma ingin peluk Mas aja."
"Kalau begitu kemarilah peluk Aku."
Maya pun membalikkan badan dan memeluk Abrisam. Kembali membenamkan wajahnya di dada bidangnya.
Disaat hatinya begitu merasa nyaman, Abrisam memberanikan diri untuk mengatakan apa yang membebani pikirannya.
"Sayang..."
"Hmm..."
"Hari ini Aku mencari tahu tentang Jo."
"Lalu...?" Maya masih memejamkan mata menikmati detakan jantung sang suami.
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui alamat dan keluarganya." Abrisam menjeda ucapannya.
"Dan apa kamu tahu siapa keluarganya?"
"Siapa, Apa dia anak Presiden?" Maya masih menanggapinya dengan bercanda. Berbeda dengan Abrisam yang begitu sangat serius menyampaikan.
"Serius lah sedikit Maya."
"Ya... Ya... Ya... Maafkan Aku, Sekarang katakan, Siapa Jo sebenarnya, Apa Aku kenal keluarganya?"
"Ya,"
"Ya?" tanya Maya yang langsung mengangkat kepalanya dan menatap Abrisam.
"Aku kenal keluarganya?" Maya kembali mengulangi pertanyaannya karena tak percaya dengan jawaban singkat Abrisam.
Deg... Seketika Maya terbersit mantan suaminya. Terlebih saat Abrisam meneruskan ucapannya yang mengatakan jika bukan hanya dirinya saja yang pernah menjadi bagian hidup dari keluarga Jo, Tapi Vanya juga.
"Maksud Mas... Alvin?" tanya Maya memastikan.
"Ya."
"Alvin? Bagaimana bisa, Jo siapanya Alvin, Aku tidak pernah tahu Alvin punya saudara Jo."
"Memang sebelumnya mereka bukan saudara, Tapi sekarang mereka bersaudara karena Alvin telah menikah dengan kakaknya Jo."
"Apa!?" lagi-lagi Maya tercengang dengan apa yang Abrisam.
__ADS_1
"Ya, Aku sudah memastikannya secara langsung. Mendatangi rumahnya dan bicara pada kakaknya. Bahkan Aku melihat Alvin dan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka."
Maya menghelai nafas panjang memikirkan bagaimana jika mereka tetap menikahkan Vanya dengan Jo.
Setelah berpikir beberapa menit Maya kembali menatap Abrisam yang masih terlihat bingung.
"Aku punya solusi untuk ini."
"Apa?" Abrisam begitu antusias menunggu solusi yang akan Maya berikan.
"Kita tetap bisa menikahkan Vanya dengan Jo tapi dengan syarat Jo ikut tinggal bersama Vanya, Dengan itu Aku maupun Vanya tidak akan sering bertemu dengan Alvin."
"Tapi itu tidak mudah untuk ku Maya, Alvin akan selalu membayangi pikiran ku."
"Mas tahu benar jika Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Alvin, Dan Aku rasa Vanya juga demikian, Lalu apa lagi yang menjadi masalah, Kenapa Mas tidak melupakan itu semua demi kebahagiaan Vanya?"
Abrisam terdiam mencerna semua yang Maya katakan. Kemudian mengigat perubahan dan bahagianya Vanya sejak mengenal Jo.
Memikirkan itu semua akhirnya Abrisam menyetujui solusi yang Maya berikan dan memberitahukan hal itu kepada Vanya saat itu juga.
"Apa!?" Vanya yang mendengar kenyataan itu semua begitu terkejut seakan tak percaya dengan apa yang Ayahnya katakan. Namun Abrisam bukan hanya sekedar mengatakan jika Alvin adalah kakak ipar Johari. Tapi Abrisam juga menunjukkan beberapa foto yang sempat ia ambil ketika mendatangi rumah Johari.
"Sekarang Ayah menyerahkan keputusan ini kepada mu, Jika kamu ingin menikah dengan Jo, Maka Ayah siap membantu mu mendapatkannya, Tapi jika tidak Ayah hanya berdoa semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang bisa menjadi imam untuk mu dan anak-anak mu."
Vanya terdiam mempertimbangkan keputusan apa yang harus ia ambil.
š Maaf baru Up lagi.
__ADS_1
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Jika saya ada banyak salah, Mohon di maafkan yah š