
Pelukan hangat ketiganya terurai ketika mendengar pintu ruangan terbuka. Vanya dan Maya melihat ke arah pintu, Di ikuti oleh Abrisam yang juga menoleh ke belakang, Dan begitu terkejutnya ia melihat salah satu pria yang ada di depannya itu.
"Jadi dugaan ku benar kau Andrie yang sama!?" Abrisam langsung menarik kerah kemeja Andrie hingga jarak keduanya hanya menyisakan beberapa centi.
"Lepaskan suami ku!" triak Siska sembari menarik lengan Andrie.
Mendengar itu Abrisam tersenyum smirk dan melepaskan Andrie dari cengkeraman tangannya. Kemudian Abrisam berbalik badan mengajak Maya dan Vanya untuk pulang.
"Ayah... Kenapa kita pulang, Kita belum mendapatkan hasil apa-apa?"
"Apa jika terbukti Andrie Ayah dari bayi yang kamu kandung kamu mau menikah dengan pria yang sudah beristri? Terlebih dia pernah menjadi simpanan ibu mu!"
Mendengar itu bukan hanya Vanya yang tercengang. Namun Siska istri Andrie juga begitu terkejut mendengarnya.
"Apa!?"
"Ya, Pria inilah yang membuat ibu mu melupakan statusnya sebagai seorang istri, Sebagai seorang ibu, Bahkan ibu mu juga beberapa kali memalsukan tanda tangan Ayah untuk mencairkan dana perusahaan demi pria ini! Apa kamu mau hidup dengan pria bekas mainan ibu mu?!"
Vanya terdiam dan mengingat penjelasan Vena saat menelpon dirinya dari penjara.
"Apa ibu membohongi ku, Apa ibu memukulnya bukan karena membelaku melainkan karena cemburu mengetahui Andrie meniduri ku?" batin Vanya.
Sementara Vanya terus memikirkan kata-kata Ayah dan ibunya. Siska nampak sedang marah-marah terhadap Andrie untuk minta penjelasan.
"Vanya apa lagi yang kamu pikirkan, Ayo kita pulang."
Vanya yang tersentak mendengar kata-kata Ayahnya menoleh ke arahnya sesaat kemudian melihat ke arah Rio.
"Vanyaaa...?"
"A-a-ayah... Bisa jadi ini bukan anak Andrie kan...?"
Mendengar itu semua orang tercengang, Terutama Rio yang sebelumnya merasa begitu aman.
__ADS_1
"Apa yang coba ingin kamu katakan Vanya!?" tegas Abrisam.
"Ayah lakukan DNA kepada Rio, Siapa tau dia..."
"Cukup Vanya! Jangan bersikap seperti wanita mura'han! Ayah lebih rela bayi mu lahir tanpa seorang Ayah daripada memiliki Ayah seperti mereka!"
"Mas Adiiii..." Maya mengusap-usap dada Abrisam untuk meredam sedikit amarahnya. Sementara Vanya hanya bisa menangis dan tidak tau apa yang baik untuk dirinya dan anak yang tengah ia kandung.
Abrisam pun meraih tubuh Vanya kedalam dekapannya.
"Sayang... Percayalah, Anak mu tidak akan kekurangan kasih sayang meskipun terlahir tanpa seorang Ayah, Ada Ayah yang akan selalu mendampingi mu, Ayah akan menjaga mu dan ibu Maya tanpa saling membedakan, Ayah akan menyambut anak dan adik mu dengan penuh bahagia secara bersama-sama. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Ayah mu benar Vanya, Tidak perlu menghawatirkan apapun. Kita akan rawat bersama-sama saat bayi kita lahir nanti. Pasti mereka akan terlihat seperti saudara kembar."
Mendengar bujukan dari ibu tirinya, Vanya tersenyum dan memeluk Maya.
"Sekarang kita bisa pulang?" tanya Abrisam.
"Dan untuk kalian semua, Berpesta lah sebelum Tuhan memberikan hukuman atas apa yang kalian lakukan," ucap Abrisam kemudian pergi meninggalkan mereka.
Siska, Andrie dan Rio saling memandang kesal satu sama lain. Kemudian Siska yang sejak tadi menahan kekesalannya pergi meninggalkan Andrie.
Kini hanya tinggal Andrie dan Rio yang saling berhadapan.
Mereka yang sebelumnya begitu dekat seakan menyalahkan satu sama lain atas kehamilan, Hingga kekesalan di hati keduanya tak lagi bisa di tahan hingga mengakibatkan perkelahian diantara keduanya.
ā¢ā¢ā¢
Hari demi hari berganti bulan hingga tak terasa Maya dan Vanya telah memasuki trimester terakhir. Dengan kompak setiap pagi mereka selalu jalan-jalan bersama untuk mempercepat proses persalinan.
"Bagaimana jadinya saat anak kita lahir nanti, Mereka seumuran tapi anak ku harus memanggil anak ibu uncle atau Aunty," ucap Vanya tertawa.
Maya tersenyum membayangkan hal itu, Dimana usia anaknya akan seumuran dengan cucunya.
__ADS_1
Tiba-tiba senyum Maya terhenti saat mendengar Vanya yang tiba-tiba meringis kesakitan.
"Ada apa Vanya?"
"Ini sakit sekali ibu... Aowwhhh..."
"Apakah ini pertanda kamu akan melahirkan sekarang?" tanya Maya bingung.
"Sepertinya ibu..."
Mereka yang jalan-jalan cukup jauh dari rumah membuat Maya bingung bagaimana cara menolong Vanya.
"Kamu tidak mungkin jalan kembali ke rumah, Ibu juga tidak membawa ponsel, Kamu tunggulah di sini, Ibu akan cari bantuan."
Dengan cepat Maya mendatangi rumah terdekat untuk untuk meminta bantuan.
"Permisi... Tolong..." triak Maya sembari mengetuk pintu gerbang yang tingginya mencapai lebih dari satu meter.
"Ada apa?" tanya penjaga rumah tersebut.
"Tolong saya, Putri ku akan segera melahirkan."
Penjaga rumah itu melihat Maya yang tengah hamil besar sehingga tidak mempercayai dan langsung mengusir Maya.
"P-pak! Jika bapak tidak percaya anak saya ada di..."
Penjaga rumah itu tidak mau mendengar penjelasan Maya dan langsung menutup rapat celah yang sebelumnya untuk mereka berbicara.
Maya yang tidak mendapat pertolongan melihat Vanya di sebrang jalan yang terlihat semakin kesakitan sambil terus memegangi perutnya. Ia pun bergegas untuk menghampiri Vanya. Namun baru beberapa langkah, Maya yang tidak melihat kanan kiri jalan membuat tubuhnya terserempet motor yang melintas di depannya.
š Maaf ya baru Up, Author sakit guys š¤
Hari ini udah mendingan, Si kecil rewel, tiap mau ngetik ngek, Tiap mau ngetik ngek... Jadi ya baru bisa deh š
__ADS_1