Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Extra Bab


__ADS_3

Satu bulan setelah melahirkan, Maya begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu. Dengan telaten ia merawat putranya yang ia beri nama Aditya Abrisam tanpa bantuan baby sitter.


Sementara Vanya yang tidak begitu telaten, Lebih mempercayakan putrinya pada baby sitter meskipun seringkali Maya ikut merawatnya ketika Aditya tengah tertidur pulas.


Seperti halnya sekarang, Maya tengah menggendong cucunya di saat Vanya keluar tanpa memberitahukan kepergiannya kepada Maya apa lagi Ayahnya seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"Sudah berapa kali Aku bilang, Beritahu Aku kalau Vanya keluar," ucap Abrisam pada Baby sitter yang menjaga Vanina cucu perempuannya.


Baby sitter tersebut hanya menundukkan kepalanya karena posisinya yang serba salah.


Melihat itu Maya cukup memahami dan menenangkan Abrisam agar tidak terus marah-marah.


"Mas Adi berhentilah marah-marah, Mas Adi masih ingin melihat Aditya dan Vanina tumbuh kembang hingga mereka dewasa kan?"


"Apa maksud pertanyaan mu Sayang, Apa secara tidak langsung kamu sedang mendoakan suami mu terkena darah tinggi?"


Maya terkekeh mendengar jawaban Abrisam.


"Lagian marah-marah terus."


"Bagaimana tidak marah Sayang, Vanina masih berusia satu bulan, Tapi ibunya terus pergi-pergian entah kemana, Dan yang paling Mas khawatirkan adalah Mas takut jika ia kembali salah pergaulan."


Maya terdiam menghawatirkan hal serupa. Meskipun sekarang Vanya sudah mengalami banyak perubahan dan bersikap baik padanya, Namun ia masih belum sepenuhnya terlepas dari kebiasaannya yang suka kebebasan seolah tak terbebani dengan statusnya kini yang telah menjadi seorang ibu.


Sementara Vanya yang di khawatirkan oleh Ayahnya tengah duduk Santai di sebuah rumah makan sederhana yang terletak jauh dari keramaian kota.


Rumah makan lesehan yang ber atapkan bambu dengan pepohonan di sekitarnya membuat rumah makan tersebut terasa begitu nyaman untuk pengunjung yang ingin menjauh sementara dari kebisingan kota.


Sudah hampir satu jam Vanya menikmati kesendiriannya sembari mengaduk-aduk minuman yang ada di depannya.


Pikirannya melayang jauh memikirkan nasib putrinya yang lahir tanpa memiliki Ayah. Meskipun putrinya tidak kekurangan kasih Sayang, Namun sebagi seorang wanita ia tetap menginginkan sosok lelaki yang dapat mengisi kekosongan hatinya.


"Tetot..."

__ADS_1


Lamunan Vanya buyar mendengar bunyi klakson mobil yang berhenti di depan rumah makan tersebut, Ia mengalihkan pandangannya ke luar melihat mobil silver yang terparkir tak jauh dari tempatnya ia duduk. Dan alangkah terkejutnya Vanya melihat orang yang turun dari mobil tersebut adalah Alvin, Mantan suaminya.


Dengan hati berdebar Vanya berdiri seolah ingin berlari menyambut kedatangannya. Namun belum juga ia melangkah, Seorang wanita dengan jilbab besarnya melangkah keluar dan menyambut Alvin dengan menci'um tangannya.


"Apa itu istri Alvin?" batin Vanya.


Vanya langsung menyembunyikan wajahnya ketika Alvin dan wanita tersebut melangkah ke dalam.


Dengan mesra, Alvin terus menggenggam jemari tangan wanita tersebut sembari menatapnya penuh senyum.


"Bagaimana hari ini, Apakah ramai pengunjung?" tanya Alvin.


"Alhamdulillah Mas, Pengunjung datang dan pergi silih berganti, Jadi tidak terlalu repot layanannya."


"Jadi ini rumah makan Alvin dan istrinya." batin Vanya sembari melirik ke belakang dimana Alvin dan wanita tersebut sudah sampai tepat di belakangnya.


"Syukurlah... Terus dimana Tiara?"


Sementara Vanya yang begitu merasa gugup tanpa sengaja menyenggol gelas yang ada di mejanya hingga pecah berkeping-keping.


"Prankkk..."


"E-m-maaf... Maaf," ucap Vanya membungkuk memunguti pecahan gelas tersebut.


"Tidak masalah Mbak, Biar nanti saya yang membersihkan," ucap wanita tersebut.


Alvin yang merasa tidak asing dengan suara dan postur tubuh wanita yang ada di depannya mencoba melihat wajahnya.


Namun Vanya yang melirik kaki Alvin yang semakin mendekat menggeser posisinya hingga kembali membelakangi nya.


"Nanti tangan Mbak kotor, Biar Saya yang membersihkan." tutur wanita tersebut sembari membawa sapu dan pengki.


"Aowhhh..." Vanya yang terburu-buru ingin berdiri tergores pecahan gelas tersebut.

__ADS_1


"Hati-hati," ucap Alvin meraih tisu di meja dan memberikannya pada Vanya.


Vanya yang berdiri membelakangi Alvin hanya meraih tisu tersebut dan segera melangkah keluar. Namun wanita yang bersama Alvin memanggil Vanya hingga menghentikan langkahnya.


Vanya yang teringat belum membayar makanannya menarik nafas dalam-dalam dan menoleh ke belakang.


"Vanya..." lirih Alvin terkejut.


"Apa ini cukup?" tanya Vanya meletakkan lima lembar uang pecahan seratus ribu dan kembali meninggalkan meja.


"Tunggu..." seru wanita itu lagi sembari memberi isyarat pada Alvin.


Alvin mengangguk dan melangkah mendekati Vanya.


"Istri ku memanggil mu bukan untuk ini, Tapi untuk ini," ucap Alvin memberikan kembali uang beserta ponsel Vanya yang tertinggal di meja.


Dengan canggung, Vanya mengambil ponselnya.


Sementara uangnya tidak Vanya ambil karena memang dia belum membayar makanannya.


"Aku belum membayar makananku," ucap Vanya.


"Jihan..." Alvin menoleh kearah wanita bernama Jihan yang tak lain adalah istrinya.


"Aku sudah mengambil sesuai yang Anda makan, Anda terlalu banyak memberikan kami uang," ucap Jihan tersenyum ramah.


Mendengar itu Alvin kembali mengulurkan uang tersebut kepada Vanya. Namun Vanya tetap menolaknya dan langsung pergi menuju mobilnya.


Alvin dan Jihan melihat Vanya hingga masuk ke mobilnya.


Sementara Vanya yang telah berada di dalam mobil terenyuh melihat kebersamaan Alvin dan Jihan yang nampak begitu sejuk di pandang.


šŸ“Œ Add FB Author I'tsmenoor untuk mengikuti Updatean terbaru dan bersilaturahmi šŸ¤—ā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2