Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Curiga


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter, Abrisam langsung masuk menemui Maya yang masih berbaring lemah. Ia mendekati sang istri dan mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya, Abrisam mengecup kening Maya untuk waktu yang cukup lama.


"Dokter sudah memberitahu tentang kehamilan ku?"


"Tentu, Dan Aku sangat bahagia untuk itu." Abrisam meraih punggung tangan Maya dan mengecupnya berkali-kali.


"Terimakasih karena telah mengandung buah cinta ku di usia ku yang tidak lagi muda."


"Mas tidak terlihat tua," ucap Maya.


"Benarkah?"


"Hmmm..."


"Apa ini artinya kamu sedang memuji ku?"


"Jika Mas menganggap itu pujian, Maka anggaplah Aku sedang memuji Mas."


Abrisam tersenyum dan mengusap pipi Maya yang terlihat tidak kalah bahagianya.


•••


Keesokkan paginya, Vanya mengerjapkan mata melihat langit-langit kamar hotel dimana kedua pria itu membawanya menginap.


Vanya memegang pelipis matanya mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sehingga ia berada di kamar yang cukup asing baginya.


Namun belum sempat ia mengingatnya, Sebuah tangan kasar memeluk perut rampingnya. Vanya terperangah melihat sosok pria di sebelahnya, Bahkan rasa terkejutnya tak berhenti sampai disitu, Ia kembali di kejutkan oleh pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan lilitan handuk di pinggangnya.


"Siapa kalian?!" triak Vanya.


Pria yang tidur di sebelah Vanya segera bangkit dan mengusap-usap matanya.


"Apa kamu melupakan malam kita yang begitu luar biasa?" tanya Pria yang hanya mengenakan handuk sembari mencubit dagu Vanya.


"Lepaskan!" Vanya menepis tangan pria itu dengan kasar. Kemudian ia ingin turun dari ranjang namun ia baru menyadari jika tubuhnya hanya terbalut selimut tanpa pakaian yang melekat pada tubuhnya.


"Dimana bajuku?"


Pria itu hanya memberi isyarat jika pakaian nya berserak di lantai.

__ADS_1


"Ambillah," ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apa kalian tidak tau siapa Aku, Kalian akan menyesal karena telah mempermainkan ku seperti ini!"


"Hey... Kami tidak memaksa mu, Bahkan semalam kamu terlihat begitu menikmati melayani kami berdua."


"Bohong!" triak Vanya.


"Lihatlah kalau tidak percaya." Pria tersebut menunjukan rekaman video yang menunjukkan permainan panas mereka bertiga tanpa terlihat sedikitpun Vanya melakukannya dengan terpaksa.


Vanya cukup di buat terdiam sejenak merasakan desiran yang mengalir di seluruh tubuhnya melihat permainannya sendiri melayani dua pria sekaligus.


"Apa kamu menginginkannya lagi?" tanya pria itu sambil mengecup pundak Vanya yang terbuka.


"Dasar brengs'ek! Berikan itu padaku!" Vanya mencoba merebut ponsel tersebut. Namun mereka langsung menjauhkannya dari Vanya.


"Tidak semudah itu."


"Apa yang kalian inginkan?"


"Sekarang kami tidak menginginkan apapun, Tapi jika kami ingin kembali menikmati pelayanan mu, Maka datanglah." Pria itu melemparkan pakaian Vanya dan bersiap meninggalkannya.


•••


Abrisam dan Maya sampai di rumah.


Dengan penuh perhatian Abrisam mengantar Maya ke kamarnya.


"Kamu membutuhkan sesuatu, Atau ingin makan sesuatu?"


"Tidak, Aku hanya perlu istirahat."


"Apa perlu Aku menjemput Ayah dan ibu mu kemari untuk menemani mu?"


"Tidak perlu Mas, Aku tidak papa sendirian, Mas kalau mau kerja, Berangkat saja."


"Kamu yakin?"


Maya menganggukkan kepalanya tanda ia tak keberatan.

__ADS_1


"Baiklah, Kalau begitu, Aku akan meminta beberapa asisten rumah tangga di rumah besar untuk kesini, Jadi kamu bisa minta bantuan mereka jika kamu membutuhkan sesuatu."


Maya mengangguk setuju dan memejamkan mata menikmati kecupan hangat Abrisam yang kemudian pergi meninggalkannya.


Sesampainya di garasi rumah, Abrisam terkejut melihat Vanya yang baru pulang dengan kondisi yang berantakan. Begitupun dengan Alvin yang baru keluar dari dalam.


"Vanya!"


Vanya menghentikan langkahnya melihat Ayah dan juga suaminya yang menatap dirinya dengan tatapan penuh selidik.


"Darimana kamu dengan keadaan seperti ini?" tanya Abrisam.


"Vanya, Kemana saja kamu semalaman, Kenapa tidak pulang?" lanjut Alvin.


"Apa! Jadi kamu tidak pulang?" tanya Abrisam lagi.


"Ada apa dengan kalian, Kenapa bertanya penuh curiga seperti itu, Bukankah Ayah juga tidak pulang?" tanya Vanya yang langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan Ayah dan suaminya.


"Vanya! Ayah belum selesai bicara!"


"Aku lelah Ayah!"


Tidak ada yang bisa Abrisam lakukan kecuali membiarkan Vanya yang naik ke atas dengan di ikuti Alvin yang mengikutinya dari belakang.


Jebrettt...!!! Vanya membanting pintu kuat-kuat hingga hampir mengenai wajah Alvin yang mengejarnya.


"Ada apa dengan mu Vanya? Semalaman kamu tidak pulang, Dan sekarang kamu pulang dengan marah-marah?"


"Ini semua gara-gara kamu Alvin, Jika kamu tidak membuat ku kesal ini semua tidak akan terjadi!"


"Apa yang terjadi?"


Vanya yang melihat pertanyaan Alvin penuh curiga langsung memalingkan wajahnya dan tak bisa mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Vanya! Katakan apa yang terjadi?"


"Bukan urusan mu!" Vanya langsung bergegas ke kamar mandi untuk menghindari pertanyaan Alvin yang terlihat semakin curiga kepadanya.


Bersambung...

__ADS_1


📌 Terimakasih buat yang sudah selalu mendoakan kesehatan Author dan kesembuhan ibu Author. Maaf tidak bisa membalas satu persatu doa kalian, Semoga kebaikan kembali kepada kalian semua, Aamiin ❤️


__ADS_2